Eee Kyu Says

Eki Qushay Akhwan's very own weblog.

Lebih Besar dari Sekolah

Inilah yang saya pesankan kepada para mahasiswa saya di hari terakhir perkuliahan semester ini:

Jadilah manusia-manusia yang lebih besar dari sekolah.

Sekolah adalah wadah dan sarana yang diciptakan untuk membantu anak-anak manusia untuk belajar. Sekolah tidak identik dengan belajar. Tidak semua orang yang bersekolah dengan sendirinya belajar. Sebaliknya, tidak semua orang yang tidak bersekolah tidak belajar.

Banyak orang yang persekolahannya tidak seberapa, tapi ilmunya (baca: hasil belajarnya) justru melampaui orang-orang yang tingkat persekolahannya jauh di atas mereka. Banyak juga orang yang menaiki jenjang-jenjang persekolahan sampai tingkatnya yang tertinggi, tapi kemampuannya tak sebanding dengan gelar-gelar yang menempel di kepalanya.

Belajar bukanlah tanggung jawab institusi, tapi tanggung jawab individu. Tidak ada institusi pendidikan yang bisa membuat seseorang belajar, kecuali orang itu sendiri mau dan punya keinginan untuk belajar.

Belajar dimulai dari keinginan individu dan hasilnya ditentukan oleh usaha individu itu sendiri. Sebuah institusi pendidikan hebat dengan fasilitas super tak kan mampu melahirkan orang-orang yang betul-betul terpelajar bila orang-orang itu tidak punya semangat untuk menjadikan dirinya terpelajar. Sebaliknya, warga institusi pinggiran — kelas ‘kampung’ dengan fasilitas serbakurang — boleh jadi melesat dan mencapai prestasi-prestasi luar biasa kalau mereka punya kemauan dan semangat untuk belajar yang tinggi.

Betul, sebuah institusi pendidikan yang hebat mempunyai fasilitas-fasilitas unggul yang dapat mendorong dan melesatkan pencapaian belajar warganya. Tapi si wargalah yang membuat itu terjadi, bukan fasilitasnya, karena orang yang mempunyai keinginan kuat untuk belajar pasti akan mencari sampai ke manapun sumber-sumber belajar yang diperlukannya.

Belajar adalah kegiatan yang berpusat pada individu. Intensitas dan hasilnya ditentukan oleh individu itu sendiri: oleh kemauannya, oleh semangatnya, oleh ketekunan dan keuletannya, oleh minat dan keriangannya dalam menjalani proses belajar. Hal-hal itulah yang perlu ditumbuhkan dalam diri setiap pembelajar, bukan hasrat pada gemerlapnya institusi atau gelar dan gengsi-gengsi yang berkaitan dengannya.

Belajar haruslah menjadi sebuah kenikmatan yang menggairahkan karena ia berasal dari keinginan untuk memuaskan hasrat keingintahuan pribadi, menjawab pertanyaan, dan menggali lebih dalam dan lebih dalam lagi khazanah ilmu pengetahuan. Tidak ada keterpaksaan, tidak ada beban.

Pembelajar-pembelajar yang mampu menghayati hakikat belajar seperti inilah pembelajar yang sejati. Mereka tidak akan pernah merasa lelah atau bosan berhadapan dengan kesulitan-kesulitlan yang harus ditempuh dalam menjelajahi rimba ilmu pengetahuan. Itu karena kekuatan mereka tidak berasal dari keharusan atau paksaan, tapi karena hasrat yang menggebu yang berasal dari dalam diri mereka sendiri.

Merekalah orang-orang yang lebih besar dari sekolah. Mereka bisa jadi orang-orang yang secara formal tidak mencapai jenjang pendidikan yang tertinggi, tapi ilmu mereka mumpuni dan disegani. Sepanjang sejarah, orang-orang seperti itu pernah dan akan terus ada. Para budayawan kita seperti Ajib Rosidi dan Goenawan Mohamad adalah contohnya. Ajib Rosidi, yang secara formal tidak tamat sekolah menengah, diakui sangat mumpuni di bidang yang ditekuninya, bahkan didaulat untuk mengajar di universitas di Jepang dan mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Padjadjaran atas kerja-kerja keilmuannya. Goenawan Mohamad, yang secara formal tidak tamat sarjana, juga sangat diakui karya-karya dan kepakarannya, bahkan pernah diundang sebagai dosen tamu di Universitas Harvard.

Jadilah orang-orang seperti mereka. Orang-orang yang di dalam dirinya ada api yang tak pernah padam — semangat, hasrat, gairah, ketekunan, keuletan, dan keriaan — dalam menelusuri relung-relung keilmuan. Janganlah pernah terkungkung oleh sekolah. Sekolah itu kecil dan hanya bisa memberikan sedikit. Raihlah lebih banyak dari itu. Tumbuhlah lebih besar dari sekolah apapun yang yang kalian masuki. Jadilah lebih besar dari sekolah.

Leadership And Democracy

A leader’s duty is to lead, to guide, to provide directions and confidence to those he leads. One can’t lead if he himself has no confidence and is a doubter. Firmness is important in a leader. That firmness comes not only from his natural (inherited or inborn) traits, but also from the belief, knowledge, and vision that he has built, acquired, made an integral part of his being.

A leader is a well-rounded person: a person who stands out in the crowd without having to shout and tout himself. His words and actions exude confidence and can provide directions to those who need them. He is not easily swayed by popular whims because he stands on a solid rock of principles and vision, not on a shaky ground of popularity. He listens to others to understand but does not necessarily base his decisions on the wishes of those have voiced their concerns. He absorbs what others have to say, then filters and processes them with the belief, knowledge, and vision he has, so that his decisions are not merely a flush of the torrent of popular demands that have gone through him, but a refined essence of what is needed to confront and solve problems and move the group he is leading to right directions, to the goals they want to achieve together.

It is very sad that in the current state of our democracy, such a leader is very rare and difficult to find. We have plenty of nominal leaders or those personae who pretend and purport to be leaders. These fake leaders do not lead, guide, and provide directions and confidence to those who look up to them for leadership. That is because they have become ‘leaders’ out of a trade. They are nothing more than a commodity, touted like other wares offered and sold at the market. Substance is thin. And make up is thick and often of the lowest of taste. Their only goal is to sell themselves and to gain popular supports, which — as some of us know — can translate into power, privileges, money, and profits.

Yes, sometimes we do find good stuff in the market. But they are not necessarily popular, let alone the most popular. In a market where profits are the ultimate goal, silent good things are often ignored and outclassed by the lesser things that are heavily touted, advertised, powdered and lipsticked, and dressed in such a way to win the popular attention.

Image-making in a large scale, as we all know, is expensive. The making of a popular leader is therefore also expensive. Nobody except those who are well-to-do can afford it. And those who can do not always want to do it for altruistic reasons. They too — most probably — are eyeing for the benefits, the profits, and all the privileges that come with power. For these people, their bid for leadership is nothing more than just an investment with an expected bounty of returns and minimal risks of loss. Again, the logic is that of a commodity trade.

In this system and practice, the people — who are supposedly the ultimate power holder (from the people, by the people, and for the people) — are just a nominal mass with no real power; only a market that can be manipulated by those who have the real power: those with money.

In this game, the people benefit only a little: whatever is left over from what has been chewed and digested by those who have made their investment in power and their interests.

Real leaders are difficult to come by in a democracy. That’s because popularity is at the heart of the game. A true leader is not necessarily popular, nor is a popular person is necessarily a leader. Quality of leadership may at the surface be the concern of democracy — those who are known, by popular recognition, to be good should be good and worthy as a leader. However, popular recognition is not an immune standard; popular minds are not a solid measure against which truth can always rely itself upon. They can be held sway by the winds of change. They can be manipulated by interest groups. And since the engineering of popular opinions on a large scale is very costly, it is most likely that only those who can pay for it can win. Unfortunately, they are not always benevolent and altruistic persons or groups of persons who care for the good of the public at large.

Eki Akhwan,
The Indonesian National Awakening Day, 20 May 2012

Puntung Asin

Puntung, menurut kamus, artinya sisa. Bisa sisa rokok, bisa sisa kayu yang sebagian telah terbakar.

Puntung asin?

Sisa rokok atau sisa kayu yang berasa garam?

Mungkin juga. Tapi siapa pula yang mau menggarami rokok atau kayu?

Atau barangkali sisa ikan asin bakar?

Bisa jadi, meskipun barangkali tidak lazim sebagai sebuah sebutan.

______________________

:)

Terima kasih sudah ikut dalam petualangan kecil reka-kata saya.

Kata-kata memang asyik sebagai bahan rekaan. Seperti Lego, kita bisa mereka-bentuk apa pun dengan memadupadankan kata-kata. Tentu, hasil otak-atik bentuk itu ada yang bisa kita kenali, ada yang tidak. Puntung asin barangkali adalah salah satu bentuk yang sulit dikenali.

Kolokasi puntung sudah sedemikian akrab dengan rokok. Begitu kata puntung disebut, maka rokoklah yang akan muncul dalam pikiran kita. Sedemikian akrabnya, sampai-sampai kata puntung sudah dapat berdiri sendiri tanpa kata rokok untuk mewakili frasa ‘puntung rokok’.

Puntung dengan asin terdengar aneh. Mereka tidak karib. Meskipun secara gramatika keduanya bisa dipasangkan untuk membentuk frasa yang berlekatan (puntung sebagai kata benda dan asin sebagai kata sifat), tapi ada faktor lain yang membuat keduanya tidak (belum) bisa bersanding.

Saya membayangkannya seperti seorang pria dan seorang wanita. Secara naluriah, keduanya bisa saling tertarik, bisa memutuskan untuk menikah. Tapi ikatan seperti itu tidak/belum dapat dilakukan karena ada hal-hal lain yang belum terpenuhi. Barangkali karena selisih usia di antara keduanya. Barangkali juga karena status sosial keduanya. Atau, karena keluarga, agama, dan lain-lain hal yang membuat ikatan seperti itu belum dapat dilakukan. Tapi bukan berarti tak mungkin, kan?

Mungkin nanti, ketika suasana sudah berubah, hal itu mungkin terjadi. Atau, bila keduanya memaksa, dipaksa, atau terpaksa. Banyak kan, pasangan yang memaksa (pihak-pihak di luar diri mereka) untuk mengizinkan mereka menikah? Ada juga kan yang dipaksa atau terpaksa menikah? Karena ‘kecelakaan’, misalnya.

Tapi sesuatu yang dipaksakan, tentu membuat keguncangan. Paling tidak untuk sementara. Kejadiannya bisa lucu, bisa menjengkelkan, bisa juga aneh dan membuat orang memincingkan sebelah mata. Kita — yang menyaksikannya — bisa tertawa terpingkal-pingkal,  menggerutu, atau mengejek.

________________________

Pemaksaan itu kreatif. Paling tidak, salah satu wujud kreativitas.

Pemaksaan bersifat kreatif karena ia membuat kita berpikir dan melihat di luar kotak, dan membongkar kelaziman yang sudah berterima. Ia mengadakan apa yang sebelumnya dianggap tidak bisa ada, tidak mungkin.

Ia bisa menjadi semacam pelesetan, olok-olok, parodi atas sesuatu yang sudah jadi. Ia menciptakan konotasi-konotasi baru dari sebuah kemapanan denotasi. Dengan demikian, pemaksaan adalah kekuatan yang menghidupkan. Mungkin seperti aliran air yang dipaksa berhenti. Ia akan mengumpulkan segenap kekuatannya untuk memaksa: membobol penghalangnya, mencari jalan-jalan baru agar ia tetap mengalir dan hidup. Bayangkan air yang terkungkung, tak mengalir. Apa yang akan terjadi?

Begitu pulalah bahasa. Paksaan untuk menciptakan bentuk-bentuk baru, konotasi-konotasi baru, membuatnya tetap hidup.

Bahasa bukan benda mati. Tidak mungkin menjadi benda mati, karena ia berasal dari dan melayani organisme yang hidup: manusia.

__________________________

Lalu apa sebenarnya maksud Puntung Asin?

Aah, sebenarnya itu cuma sebuah pelesetan saja.  Saya sedang memikirkan pungtuasi (punctuation) — tanda baca. Dan bunyi itu tiba-tiba terdengar seperti ‘puntung asin’ di benak saya.

Terima kasih sudah mencicipi resep puntung asin yang telah saya siapkan seadanya. Mudah-mudahan ia bisa menambah selera makan Anda pada bahasa.

 

Eki Akhwan

13 Mei 2012

Post Navigation