Eee Kyu Says

Truth is elusive because words paint realities instead of reality. ©

Dallas – Miami Yang Kelaparan


[Ini bagian kedua dari cerita yang saya tulis sebelumnya.]

Setelah gagal membeli makan siang karena kami tak punya uang receh, kami menunggu dan menunggu.

Pukul satu lewat, ketika kami tengah bersiap-siap menunggu panggilan untuk naik pesawat, tiba-tiba ada pengumuman bahwa pesawat yang akan membawa kami ke Miami ditunda keberangkatannya. Jiaahhhh! – Kami agak kecewa. Ada hujan badai di sekitar Teluk Meksiko yang kemungkinan akan mengganggu rute penerbangan kami. Demikian bunyi pengumumannya.

Kami tak punya pilihan lain kecuali menunggu lagi. Dengan sabar, dan lapar! Tidak ada kepastian jam berapa kami akan mengudara. Maklum, kawasan tenggara Amerika Serikat memang dikenal sebagai daerah badai, terutama di musim panas seperti sekarang. Badai seperti itu bisa berlangsung cukup lama. Bukan tak mungkin penerbangan bisa ditunda sampai keesokan harinya.

Sekitar pukul empat, kami akhirnya mendapatkan berita yang kami tunggu. Kami dipersilakan naik pesawat. Lega rasanya. Di benak saya terbayang, sebentar lagi – begitu pesawat mencapai ketinggian jelajah yang ditentukan – kami akan disuguhi makanan dan minuman. Terbayang makanan hangat yang biasanya saya dapatkan di penerbangan dalam negeri. Paling tidak, mungkin,  sandwich – karena ini Negara Paman Sam – dan teh, kopi, jus, atau minuman ringan lain.

Pesawat ternyata masih harus antri di landasan pacu cukup lama. Rupanya semua penerbangan yang tadi tertunda keberangkatannya diberangkatkan pada saat yang hampir bersamaan. Menunggu di dalam pesawat tidak lebih nyaman daripada menunggu di gedung bandara. Pesawat penuh sesak. Suasana khas kelas ekonomi penerbangan domestik saat musim liburan. Jarak antarkursi di pesawat ini pun tak selega penerbangan internasional antarbenua, meskipun kelasnya sama.

Di sebelah kiri saya duduk orang yang saya kira saudara sebangsa karena wujud fisiknya. Saya sapa. Ternyata dia orang Filipina. Pemegang Green Card, pekerja musiman industri keramahtamahan (hospitality industry), yang setiap tahun, setiap musim panas, bekerja di sebuah hotel di kawasan Miami. Di sebelah kanan saya duduk sepasang suami istri kulit hitam – African American – yang sangat ramah dengan logat Selatan Amerikanya yang khas. Ternyata si suami adalah pendeta. Mereka mengajak saya bercakap-cakap dan terlihat sangat senang dan ingin menjadi tuan rumah yang baik ketika mengetahui bahwa saya berasal dari Indonesia dan baru tiba di Amerika. “Welcome to America! Welcome to America!” Sambut mereka ramah sambil menjabat tangan saya.

Dalam hati, saya tersenyum. Inilah Amerika! Melting pot-nya beragam bangsa dan ras dari penjuru dunia. Logat orang Filipina yang duduk di sebelah kiri saya dan logat orang Amerika hitam di kanan saya sungguh sangat berbeda. Bagi mereka, mungkin logat saya juga aneh. Tapi mungkin juga mereka tak terlalu peduli lagi. Keragaman  sudah menjadi bagian kehidupan mereka sehari-hari. Jadi, tidak ada yang aneh.

Barangkali ada satu jam kami menunggu di landasan pacu sebelum akhirya pesawat tinggal landas, dan kejutan selanjutnya menanti!

Pada  ketinggian jelajah 30.000 kaki, para pramugari mulai sibuk. “Saatnya makan nih!” Pikirku.  Tapi alamaaakk! Ternyata mereka tidak menyajikan makanan dan minuman yang sudah terbayang-bayang di benak saya dari tadi. Mereka hanya memberi kami sekantong kecil pretzel asin, secangkir plastik kecil air mineral, dan  menu makanan dan minuman yang bisa kami pesan – dan beli! – jika ingin lebih dari itu!

Puasa lagi deh! :(

Selama perjalanan yang kurang lebih empat jam itu, saya terpaksa menahan lapar dan haus. Saya tidak yakin lembaran uang $100 yang ada di dalam dompet saya juga akan bisa dipakai di pesawat, dan saya malas bertanya lagi!

Pelajaran berharga yang saya dapatkan: Kalau naik pesawat murah, apalagi kalau perjalanannya cukup panjang, jangan lupa isi perut sekenyang-kenyangnya dulu sebelum berangkat! Atau, bawa bekal makanan dan minuman sendiri.

Terus terang, dan tanpa bermaksud sombong, itulah kali pertama saya naik pesawat murah.  Sebelumnya, di Indonesia, saya selalu pakai Garuda, Merpati, atau maskapai penerbangan lain yang tergolong full service alias tidak murah. Pada masa itu penerbangan murah memang belum terlalu musim di tanah air. Di Amerika, kebanyakan penerbangan domestik adalah penerbangan murah. Artinya, segala layanan tambahan yang diberikan di dalam pesawat, seperti makanan dan minuman, harus dibayar secara terpisah.

About these ads

Single Post Navigation

3 thoughts on “Dallas – Miami Yang Kelaparan

  1. Ping-balik: Rupiah di Miami! « Eee Kyu Says

  2. Aduh, kalau berpergian sekarang sepertinya bapak tidak akan puasa lagi kan… :)
    Menyelami perjalanan ini membuat sandi bersemangat berpetualang ke Amerika, mudah-mudahan Allah memudahkan segalanya, aaaamiiin… :)
    Di tunggu kelanjutannya Pak… :)

  3. umahmuhammad on said:

    menarik ceritanya…
    yang murah belum tentu memberikan kenyamanan.. :-)

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: