Eee Kyu Says

Truth is elusive because words paint realities instead of reality. ©

Bagaimana Saya Belajar Bahasa Inggris? (Bagian Pertama)


Saya guru dan dosen Bahasa Inggris, juga penerjemah profesional teks hukum dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya. Tapi boleh percaya atau tidak, dulu saya sangat bodoh dalam bahasa itu. Nilai ulangan harian saya rata-rata cuma berkisar antara 4 dan 5. Nilai di rapor saya hanya  6 untuk mata pelajaran itu. Untuk mengerjakan ulangan, saya seringkali bersandar pada ‘intuisi’ dan hitung kancing. Saya sungguh tidak tahu apa-apa tentang bahasa itu. Nol. Bingung.

Tapi itu dulu, waktu saya di kelas satu dan dua SMP.

Perputaran seratus delapan puluh derajat – dari tidak bisa sama sekali menjadi pintar dan cinta – terjadi di kelas 3. Guru yang mengajar di kelas tiga menjadi faktor penting dalam perubahan itu.

Pak Rusdi Djalal — demikian nama beliau — seingat saya hampir tidak pernah mengajarkan tata bahasa secara eksplisit seperti guru-guru saya sebelumnya di kelas satu dan dua. Kelas beliau selalu diisi dengan membaca teks dan menjawab pertanyaan, seingat saya. Tapi entah kenapa, sejak itu saya menjadi suka pelajaran Bahasa Inggris dan ingin tahu lebih banyak tentang bahasa itu. Mungkin karena beliau betul-betul menguasai bahasa itu – cara beliau membaca, melafalkan, dan menjelaskan kosa kata yang sulit sangat meyakinkan. Mungkin juga karena beliau guru yang mempunyai kharisma. Pelajaran yang beliau berikan selalu terasa mengalir dan hidup. Kepribadian beliau selalu ‘ada’ dalam setiap pelajaran yang beliau berikan. Pelajaran Bahasa Inggris tidak lagi menjadi sesuatu yang kaku dan menakutkan, tapi menjadi seperti sebuah percakapan yang terjadi antara dua pihak yang betul-betul (ingin) terlibat dalam sebuah pertukaran: Ada tanya jawab, ada saling pengertian dan penghargaan. Beliau memberikan ilmunya. Kami menerima. Tapi kami tidak merasa diperlakukan sebagai wadah kosong saja. Kami betul-betul diajak bicara dan ‘disentuh’ sebagai pribadi-pribadi yang punya latar belakang, keinginan, harapan, dan motivasi. Seingat saya, beliau tidak pernah marah dan merendahkan siswanya kalau mereka membuat kesalahan atau tidak mampu mengerjakan latihan sesuai dengan yang diharapkan. Selalu ada cerita dan motivasi yang beliau berikan tentang mata pelajaran yang beliau ajarkan itu.

Sejak itu saya menjadi rajin belajar sendiri. Untuk mengulik grammar – yang seringkali membingunkan — saya membeli dan membaca sendiri buku-buku tentang tata bahasa Inggris. Untuk menambah perbendaharaan kata, saya membeli kamus. Saya ingat, buku grammar yang pertama saya beli adalah Menguasai Tata Bahasa Inggris Sistem 24 Jam. Kira-kira begitu judulnya. Lalu saya juga membeli buku tentang tenses dari serial yang sama. Kamus saya yang pertama adalah Kamus Saku Lengkap 12.000 Kata. Kira-kira begitu judulnya. Saya tidak tahu — dan tidak pernah menghitung — apakah kamus itu betul-betul lengkap dan di dalamnya betul-betul ada 12.000 kata seperti yang dijanjikan oleh judulnya. Saya cuma ingat, kamus itu cuma berisi daftar kata dalam Bahasa Indonesia dan padanannya dalam Bahasa Inggris — satu kata asal dan satu atau dua kata padanan atau terjemahannya — dan sebaliknya.

Kamus itu tentu bukan kamus yang baik kalau dilihat dari kacamata saya sekarang sebagai seorang guru dan dosen Bahasa Inggris. Ada terjemahan beberapa kata yang — saya tahu kemudian — menyesatkan dan lucu, karena sebenarnya bukan seperti itu makna dan konteks pemakaian yang dimaksud oleh kata padanannya.

Satu peristiwa di kelas satu SMA menyadarkan saya akan kelucuan kamus itu. Waktu itu, saya diminta oleh guru saya untuk membuat sebuah percakapan. Kalau tidak salah, topiknya adalah Making Appointment. Di akhir percakapan itu, saya mengatakan kepada mitra saya bahwa saya akan menjemputnya untuk bersama-sama pergi ke bioskop. Saya belum tahu apa kata Bahasa Inggris untuk ‘menjemput’, dan kamus itu mengatakan bahwa menjemput adalah ‘approach’. Maka saya pakailah kata itu. Dan ketika giliran kami maju dan menampilkan percakapan itu di depan kelas, guru kami pun tersenyum dan terbelalak dengan pilihan kata yang saya gunakan. Lalu, setelah kami duduk, dia pun bertanya, “What did you mean by ‘approach’, Eki?”

Kamus itu pun akhirnya saya singkirkan. Dari  hasil menyisihkan uang saku, saya bisa membeli kamus yang lebih baik: Kamus Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta. Tapi kamus pertama saya, yang kecil dan pernah menyesatkan saya itu, sungguh besar jasanya dalam melontarkan saya dari nol ke titik di mana saya punya cukup kosakata dan kesadaran tentang perlunya kecermatan dalam memilih padanan kata agar Bahasa Inggris kita tidak terdengar aneh dan lucu. Saya menjadi sadar, kamus hanya alat bantu — untuk mencek dan memeriksa makna. Tapi untuk bisa berbahasa Inggris dengan baik, saya perlu lebih dari sekedar kamus. Saya perlu mendengar dan membaca sendiri bagaimana para penutur asli menggunakan bahasanya.

Buku-buku tata bahasa yang pertama saya beli dan baca — yang seri 24 Jam tadi — bisa jadi buku yang paling berharga yang mengantarkan saya ke posisi sekarang ini. Buku-buku murah yang saya dapatkan dari toko buku di kota kecamatan itu betul-betul telah membukakan mata saya pada sistem yang mengatur pembuatan kalimat-kalimat yang berterima dalam Bahasa Inggris.

Di kelas tiga SMP itu — di bawah bimbingan Pak Rusdi — pelan tapi pasti pengetahuan dan kemampuan Bahasa Inggris saya merangkak naik. Saya begitu ingin tahu dan bergairah mempelajari Bahasa Inggris, sampai-sampai kalau beliau mangkir, saya menjadi sangat kecewa. Nilai-nilai ulangan harian saya juga merangkak naik, dari rata-rata 4 dan 5 menjadi 6 dan 7. Di STTB (Ijazah) SMP, nilai saya 7. Sebenarnya tidak istimewa, cuma rata-rata. Tapi saya bisa cukup berbangga dengan nilai itu karena dipastikan nilai itu adalah nilai murni. Saya tahu itu karena waktu itu Pak Rusdi menjanjikan, kalau nilai ujian nasional kami di atas nilai rata-rata harian, beliau tidak akan memperhitungkan nilai rata-rata harian kami.

Kegairahan Belajar

Kegairahan adalah bahan bakar utama dalam belajar. Ketika kegairahan sudah ada, maka tidak ada yang tidak mungkin. Itulah yang saya rasakan. Itulah barangkali kata kunci yang tepat untuk menggambarkan perubahan yang terjadi pada diri saya dalam mempelajari Bahasa Inggris. Kegairahan itulah yang menggerakkan saya untuk belajar sendiri, menggali sendiri apa yang ingin saya ketahui dan kuasai. Ia menjadi kekuatan yang membuat saya tidak merasa letih atau bosan mencari, mengulik, mencoba, dan berlatih terus-menerus – setiap hari – untuk meningkatkan kemampuan saya.

Belajar Tata Bahasa

Berbekal buku-buku tata bahasa yang saya beli, saya mulai mempelajari bagaimana kalimat-kalimat Bahasa Inggris disusun. Saya tidak cukup mengerjakan latihan-latihan yang diberikan di dalam buku-buku itu, tapi juga mencoba membuat kalimat-kalimat sendiri dengan membayangkan dalam situasi apa dan bagaimana saya akan memerlukan kalimat-kalimat seperti itu. Saya ingat betul, hal yang paling menggairahkan ketika pertama kali belajar tata bahasa itu adalah ketika saya dapat memecahkan misteri cara membuat kalimat tanya dan kalimat negatif, ketika saya mulai tahu bagaimana pentingnya fungsi auxilaries (to be, to do, to have) dan modals (can, could, must, should, dsb.) dalam Bahasa Inggris.

Saya juga begitu girang ketika akhirnya, satu demi satu, saya mulai mengerti dan bisa menggunakan tenses yang selama itu jadi mitos dan momok yang menakutkan bagi teman-teman. Ternyata tak terlalu sulit, meskipun pada mulanya cukup membingungkan karena tidak ada padanan konsepnya dalam Bahasa Indonesia. Kuncinya, menurut saya, adalah membayangkan konsep-konsep itu dalam kenyataan sehari-hari. Tenses adalah soal persepsi waktu, dan untuk membumikan abstraksi konsep itu, saya membayangkan kejadian sehari-hari yang saya alami dan meletakkannya dalam kerangka waktu tenses, lalu saya membuat contoh-contoh kalimat berdasarkan apa yang saya bayangkan itu.

Belajar Kosakata

Kosakata juga adalah hal yang sangat mengasyikkan ketika saya mulai belajar Bahasa Inggris. (Sampai sekarang juga sebenarnya masih mengasyikkan, karena saya suka konsep yang dikandung oleh setiap kata baru yang saya temukan. Setiap kata, bagi saya, adalah wadah konsep. Semakin banyak kata yang saya kuasai, semakin banyak pula konsep yang saya kuasai, sehingga semakin lentur pula cara berpikir dan bernalar saya. Tapi waktu itu, belajar kosakata jauh lebih asyik karena saya seperti baru saja menemukan rumah baru atau tempat bermain baru yang belum pernah saya jelajahi.)

Ada dua cara yang saya gunakan untuk belajar kosakata. Cara pertama, saya membuat kalimat-kalimat tentang situasi sehari-hari. Kalau saya tidak tahu kata-kata yang saya perlukan untuk membuat kalimat itu, saya akan membuka kamus dan mencari tahu. Setelah mendapatkan kata-kata yang saya perlukan, saya akan mengulang-ulang kalimat yang saya buat itu sambil membayangkan situasi di mana saya seolah-olah sedang menngunakannya dalam sebuah percakapan.

Cara kedua sebenarnya tidak jauh berbeda dengan cara pertama. Cuma saya tidak memulainya dengan bayangan atau keinginan untuk membuat kalimat, tapi sebaliknya. Saya mendapatkan kata baru yang menarik perhatian saya (karena bunyinya atau karena konteksnya) dari bacaan, acara televisi atau siaran radio. Lalu saya mencoba mencari arti kata itu di dalam kamus. Setelah itu, baru saya membayangkan situasi di mana saya perlu menggunakan kata itu dan membuat kalimat-kalimatnya. Sama seperti pada cara pertama, saya juga akan mengulang-ulang mengucapkan dan menggunakan kalimat itu.

Kedua cara itu ternyata sangat efektif. Kosakata yang saya hafal tidak mudah terlupa dan perbendaharaan kata saya bertambah dengan sangat signifikan. Kedua cara itu kemudian saya sempurnakan ketika saya sudah mempunyai kamus yang baik. Saya menetapkan target. Setiap hari, sekurang-kurangnya saya harus menghafal tujuh sampai sepuluh kata baru. Dan itu saya lakukan dengan sengaja mencatat kata-kata yang ingin saya hafal dalam selembar kertas. Dalam kertas itu saya tulis lemanya (entry), jenis katanya, cara pengucapannya, kata-kata turunannya (derivatives), dan contoh-contoh kalimat yang saya buat sendiri seperti cara pertama dan cara kedua di atas. Cara ini saya lakukan paling tidak selama tiga tahun, dari kelas satu hingga kelas tiga SMA. Setelah saya menjadi mahasiswa, cara itu sebenarnya juga masih saya lakukan, namun intensitasnya tidak seperti waktu saya masih SMA.

Dengan cara-cara seperti itu, kemampuan Bahasa Inggris saya melesat dengan sangat cepat. Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran andalan yang membuat saya dikenal dan dihormati di kalangan teman-teman. Nilai rata-rata saya di rapor tidak pernah kurang dari delapan untuk mata pelajaran ini. Teman-teman bahkan mendaulat saya untuk menjadi guru dan membantu mereka berlatih soal ketika kami mempersiapkan ujian nasional di kelas tiga. Konon NEM saya untuk mata pelajaran ini termasuk tertinggi di tingkat kota. Saya tidak pernah tahu kebenarannya, dan tidak pernah mencek.

(Bersambung)

Single Post Navigation

One thought on “Bagaimana Saya Belajar Bahasa Inggris? (Bagian Pertama)

  1. Ping-balik: Bagaimana Saya Belajar Bahasa Inggris (Bagian Kedua) « Eee Kyu Says

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: