Eee Kyu Says

Truth is elusive because words paint realities instead of reality. ©

Belajar, Sekolah, dan Pendidikan


Saya suka tiga kutipan ini:

“The only thing that interferes with my learning is my education.” ~ Albert Einstein

“Everybody who is incapable of learning has taken to teaching.” ~ Oscar Wilde

“Don’t let your schooling interfere with your education” ~ Mark Twain

Banyak orang sering mengacaukan tiga kata ini: belajar, sekolah, dan pendidikan. Mereka menganggap, untuk belajar dan mendapatkan pendidikan, orang harus bersekolah: belajar adalah sekolah, dan sekolah adalah belajar, dan itulah yang disebut pendidikan. Padahal ketiga hal itu tidak selalu dapat dikaitan secara kausal satu dengan lainnya.

Untuk belajar, orang tidak selalu harus bersekolah. Orang yang bersekolah tidak selalu belajar. Sekolah adalah tempat, lembaga yang mengajari murid di bawah bimbingan guru. Sepintas, orang yang bersekolah pastilah belajar, karena sekolah adalah tempat atau lembaga yang mengajari, dan di sana ada guru yang membimbing proses belajar. Kita lupa, bahwa belajar adalah otonomi individu. Di tempat apapun, dan dengan bimbingan siapapun, orang tidak akan belajar kalau dia tidak berkeinginan belajar. Sebaliknya, di manapun dan dengan atau tanpa bimbingan siapapun, orang tetap bisa belajar kalau dia berkeinginan untuk belajar. Belajar adalah gerak individu, dan sekolah hanyalah fasilitas yang disediakan untuk membantu dan mengarahkan gerak itu.

Banyak orang yang mampu belajar tanpa atau dengan bantuan yang sangat minim dari sekolah. Menurut saya, inilah orang-orang hebat yang sesungguhnya. Gerakan dari dalam dirinya (untuk belajar) jauh lebih perkasa dari ada atau tidak adanya lembaga dan/atau orang yang membimbing atau mengarahkannya untuk belajar. Dia mampu terus bergerak dan mengarahkan dirinya sendiri untuk mencari, menemukan, menguasai, dan mengembangkan ilmu dan kearifan yang diinginkannya.

Itulah barangkali yang dimaksudkan oleh Wilde di atas, yang kalau diterjemahkan secara bebas  kira-kira berbunyi: “Hanya orang-orang yang tak mampu belajar sendirilah yang mencari pengajaran.”

Bagi saya, pernyataan itu adalah sebuah sindiran. Banyak orang yang berlomba-lomba sekolah — tinggi dan semakin tinggi — tapi ilmunya hanya sebatas apa yang diberikan oleh sekolah. Mereka tak mampu mencari, menemukan, menguasai, dan mengembangkan ilmu dan kearifan yang diinginkannya sendiri di luar sekolah. Mereka kurang memiliki tenaga gerak sendiri. Di luar sekolah, gerakan mereka terhenti. Mereka tak mampu berkembang lagi — barangkali seperti seorang bayi yang tak pernah tumbuh besar dan harus selalu bergantung pada air susu ibunya.

Orang-orang seperti itu adalah pemuja sekolah. Identitas dan ukuran derajat mereka selalu dikaitkan dengan sekolah, karena di luar sekolah, mereka sebenarnya tak mempunyai tenaga sendiri untuk meraih apa yang diinginkannya. Mereka terus-menerus membutuhkan sekolah untuk memberikan tenaga itu, menggerakkan dan membimbingnya, serta memberinya credentials agar mereka diakui sebagai Yang Terpelajar.

Belajar mempunyai konotasi yang sangat luas — seluas kehidupan itu sendiri. Ialah yang menghasilkan pendidikan dan ‘memaksa’ agar sekolah diadakan, supaya orang-orang yang kurang memiliki daya gerak sendiri dapat memperoleh kesempatan untuk merasakan cahaya yang dibawanya. Masyarakat memerlukan sebanyak mungkin orang terpelajar. Tapi karena tidak setiap orang mampu belajar sendiri, maka sekolah perlu diadakan.

Sebagai alat pemaksa, sekolah adalah semacam cetakan. Apa yang dilakukannya dibentuk oleh pola-pola yang diyakini bisa membuat orang yang sebenarnya enggan atau tak mampu belajar sendiri menjadi belajar. Sebagaimana cetakan apapun, ia memiliki batasan-batasan — dinding-dinding, kotak-kotak — yang mengarahkan sedemikian rupa, agar bahan mentah apapun yang masuk ke dalamnya dapat keluar dengan bentuk tertentu seperti yang diharapkan. Ia seperti tali kekang,  kaca mata, dan pecut kuda yang digunakan kusir untuk menggerakkan, mengarahkan, dan mengendalikan si kuda. Oleh karena sifat-sifatnya yang seperti itulah, sekolah seringkali justru menjadi penghambat/pengekang bagi orang-orang yang mempunyai kemauan dan tenaga sendiri untuk belajar.

Itulah barangkali yang dimaksud oleh Einstein sebagai pendidikan ketika dia mengatakan, “Satu-satunya hal yang menghalangi belajar saya adalah pendidikan saya.”

Orang-orang jenius seperti dia justru menganggap sekolah sebagai kekang, karena kemauan, kemampuan, dan tenaga gerak belajarnya jauh melampaui dinding-dinding — kotak-kotak — yang ditetapkan oleh sekolah. Dia seperti kuda liar dengan tenaga yang terlalu dahsyat untuk dikekang, diarahkan, dan dipecut hanya untuk menggerakkan kereta reyot dengan roda-roda rapuh yang setiap saat bisa lepas jika dibawa lari terlalu kencang.

Barangkali itu pulalah yang dimaksud oleh peringatan Mark Twain agar jangan sampai sekolah menghalangi pendidikan kita.

_________________

Eki Akhwan, 5 April 2012

Single Post Navigation

4 thoughts on “Belajar, Sekolah, dan Pendidikan

  1. dalam institusi pendidikan, kesempatan untuk bertemu dan bertukar pikiran dengan perspektif seperti ini sangat besar.
    ah, saya baru tau ada blog ini :D

  2. Saya pribadi merasa sekolah itu belum cukup. Banyak hal-hal menarik dan penting yang tidak bisa dipelajari di sekolah dan tidak diajari di sekolah. Saya setuju agar jangan sampai sekolah menghalangi pendidikan kita.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: