Eee Kyu Says

Truth is elusive because words paint realities instead of reality. ©

Kisah Cinta Sejati Habibie & Ainun


Tak ada kata-kata cinta yang muluk-muluk dari keduanya ketika mereka bersepakat untuk menempuh sisa perjalanan hidup mereka berdua saja. Dan itu tak perlu, karena yang mereka ikrarkan adalah esensi cinta itu sendiri: komitmen untuk menjadi yang terbaik bagi orang yang dicintai, komitmen untuk selalu ada untuk orang yang dicintai.

Tahun ini saya nyaris tidak pernah menonton film. Kalaupun ada, tak ada yang cukup berkesan untuk saya ingat dan ceritakan. Tapi film yang saya tonton tadi malam (21/12) berbeda.

Poster film Habibie & Ainun

Poster film Habibie & Ainun

Habibie & Ainun, drama percintaan yang diangkat dari buku berjudul sama yang ditulis oleh mantan presiden B.J. Habibie, istimewa bukan cuma karena ia bercerita tentang seorang mantan presiden yang masih hidup dan istri tercintanya, almarhum Ibu Ainun. Bagi saya, film ini istimewa justru karena hakikat cinta yang dikisahkannya.

Beberapa kali sepanjang pemutran film itu, bulu kuduk saya dibuat berdiri, haru.

Dua anak manusia, dalam kesederhanaannya, ditakdirkan untuk bertemu. Mereka mengikat janji — mengikat komitmen — untuk menjalani kehidupan cinta. Mereka tampaknya sadar sepenuhnya bahwa kehidupan yang akan mereka arungi tak akan selalu sederhana. Habibie tak menjanjikan kehidupan yang berbunga-bunga kepada calon istrinya ketika dia melamarnya. Hanya janji, “Aku akan menjadi suami yang terbaik untukmu.” Ainun pun tak berjanji untuk menjadi istri yang terbaik; hanya sebuah komitmen untuk selalu mendampingi dan berada di sisi sang suami dalam keadaan apapun.

Tak ada kata-kata cinta yang muluk-muluk dari keduanya ketika mereka bersepakat untuk menempuh sisa perjalanan hidup mereka berdua saja. Dan itu tak perlu, karena yang mereka ikrarkan adalah esensi cinta itu sendiri: komitmen untuk menjadi yang terbaik bagi orang yang dicintai, komitmen untuk selalu ada untuk orang yang dicintai.

Habibie dan Ainun memenuhi janji-janji itu dengan sepenuh hati. Dalam suka dan duka, mereka tak pernah urung dan surut langkah. Dan Semesta tak pernah menutup mata. Untuk keteguhan tekad yang telah mereka tunjukkan, Tuhan pun berkenan menumbuhkan cinta yang sejati di hati keduanya: tulus, ikhlas, murni, sehidup dan semati.

Kisah Habibie dan Ainun barangkali bisa menunjukkan kepada kita bahwa cinta bukanlah mahluk yang buta dan tak berakal. Sebaliknya, kukira, ia adalah mahluk yang cerdas dan selalu awas.

Ia bisa jadi hinggap — menginspirasi — siapa saja. Tapi ia enggan hidup dan memberikan afwahnya kepada orang-orang yang tak menjaga kesucian janji yang diucapkan atas namanya. Dan kepada Habibie dan Ainun cinta telah memberikan berkat itu: berkat yang tak diberikannya kepada banyak orang; berkat yang membuat si penerima bisa merasakan kehadirannya dalam wujudnya yang paling hakiki. Cinta adalah bidadari surga yang tak tersentuh oleh nestapa mahluk-mahluk fana.

Sinematografi film ini, saya kira, tak istimewa. Ada film-film lain yang setema dengan film ini yang digarap dengan lebih apik. Meskipun demikian, secara keseluruhan aspek teknis penggarapan film ini mampu meragakan dengan cukup kredibel cerita yang diusungnya. Suasana tahun enampuluhan mampu ditampilkan dengan cukup apik dan meyakinkan, meskipun di sana sini tampak ada pelebih-lebihan (exaggeration). Ekses itu mungkin memang sulit dihindari ketika yang ingin ditekankan adalah perbedaan kala dulu dan kala kini. Rumah Ainun dan Habibie muda, misalnya, tampak lusuh, padahal dari segi gaya arsitektur mestinya rumah-rumah itu masih tampak cukup baru pada tahun enampuluhan itu.

Namun, meskipun secara sinematografi film ini tak bisa dibilang istimewa, saya kira kita pantas mengacungkan jempol pada kualitas akting Reza Rahardian, pemeran utama yang menjadi Habibie dalam film ini. Dalam usianya yang masih terbilang muda, ia mampu memainkan peran sebagai Habibie dengan sangat meyakinkan: cara berbicara, gait (cara berjalan) dan bahasa tubuhnya begitu lekat dengan apa yang kita kenal dari Habibie.

Kualitas akting Reza, saya kira, adalah salah satu aspek yang menyelamatkan film ini dari ancaman kelumeran yang bisa meruntuhkan kredibilitasnya sebagai film yang menceritakan kehidupan tokoh yang masih hidup dan masih kental dalam ingatan publik.

Bunga Citra Lestari (BCL), yang memerankan tokoh ibu Ainun, tampak tak sekuat Reza dalam kualitas aktingnya. Meskipun demikian, saya kira, dia cukup menghayati peran yang dimainkannya.

Secara keseluruhan, menurut saya, film ini sangat inspiratif dan layak ditonton. Di tengah-tengah sinisisme yang akhir-akhir ini sering terpercik akibat ulah beberapa tokoh masyarakat dan pesohor yang sering menganggap ringan kesakralan pernikahan, rumah tangga, cinta, dan pengabdian pada bangsa dan negara, film ini bisa menjadi inspirasi dan penumbuh optimisme bahwa nilai-nilai sakinah masih ada dan patut diperjuangkan; demikian juga dengan nilai-nilai patriotisme. Habibie dan Ainun telah menunjukkan bahwa keduanya bisa saling berkait erat: dalam keluarga yang sakinah, pengabdian pada nusa dan bangsa menjadi lebih indah.

__________________________________________

Judul Film: Habibie & Ainun
Jenis Film: Drama
Produser: Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi
Produksi: MD PICTURES
Sutradara: Faozan Rizal
Tahun Edar: 2012
Pemeran utama: Reza Rahardian (sebagai B.J. Habibie); Bunga Citra Lestari (sebagai Ainun Habibie)

Teaser

Single Post Navigation

One thought on “Kisah Cinta Sejati Habibie & Ainun

  1. Andi Nurroni (@andinurroni) on said:

    Saya setuju, akting Reza Rahardian layak diapresiasi. Satu hal yang menjadi catatan penting saya adalah soal tatarias. Kurang bagus. Menjadi sangat kontras ketika saya mengingat tatarias Brad Pitt dalam “A Curious Case of Benjamin Button “.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: