Eee Kyu Says

Truth is elusive because words paint realities instead of reality. ©

Tuhan & Hal-hal Yang Tak Selesai


IMG_1783 - resized
Resensi
Judul Buku:Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai
Penulis: Goewanan Mohamad (GM)
Penerbit: KATAKITA
Tahun Terbit: 2007
Jumlah halaman: 166

Saya pengagum Goenawan Mohamad (GM). Saya sudah membaca tulisan-tulisannya sejak masih SMP. Setiap minggu saya selalu menantikan tulisannya, Catatan Pinggir (Caping), di halaman akhir Majalah Tempo, yang saya pinjam dari pak de saya yang rumahnya bersebelahan dengan rumah kami. 

Waktu itu saya tidak selalu sepenuhnya paham apa yang ditulisnya. Namun, saya selalu membacanya Ada sesuatu yang unik dalam esai-esainya itu yang tidak saya jumpai dalam esai-esai yang ditulis oleh orang-orang lain. Bahasanya — diksi, pengalineaan, penggunaan tanda bacanya — perkasa; isinya kaya, dalam, dan reflektif. Itu kesan yang saya dapatkan selama bertahun-tahun.

Kini, puluhan tahun kemudian, saya masih terus membaca tulislan-tulisannya. Bukan hanya esai-esainya, tapi juga syair-syairnya, yang — bagi saya — tak kalah mengagumkan.

Pemahaman saya atas tulisan-tulisan GM sekarang tentu sudah jauh lebih baik. Waktu telah memberi kesempatan kepada saya untuk membaca lebih banyak dan melakukan refleksi untuk mengondensasikan apa yang saya dapatkan dari bacaan-bacaan itu, sehingga saya bisa lebih mudah memahami hal-hal yang pada mulanya terasa terlalu padat untuk dicerna.

Namun, beberapa tulisan GM kadang-kadang tetap saja terasa sangat padat dan butuh waktu dan pengulangan untuk mencernanya. “Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai”  – kumpulan 99 esai amat pendek yang diterbitkan pertama kali oleh Kata Kita pada tahun 2007 — termasuk dalam kategori itu. “Ukuran” barangkali ada hubungannya dengan ‘tingkat kepadatan” esai-esai itu: semakin mini, semakin padat, karena dalam ruangan yang lebih kecil masuk gagasan-gagasan yang besar, bahkan teramat besar. Tuhan dan hal-hal yang berkaitan dengan keberadaan-Nya memang tak pernah duduk, “selesai”, definitif tanpa pertanyaan. Hanya keyakinan murni saja yang dapat menutup kucuran pertanyaan-pertanyaan itu.

Karena hal itulah barangkali perlu waktu cukup lama bagi saya untuk mengunyah esai-esai di dalam buku itu. Namun justru karena itu pula, buku ini jadi terasa ‘hidup’: tak menjemukan, bahkan menggoda dan menggairahkan untuk disapa dan disapa lagi, karena setiap kali ‘bercakap-cakap’ dengannya, selalu ada seberkas pencerahan yang sepertinya terlewatkan pada pembacaan sebelumnya.

Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai adalah buku permenungan yang filosofis dan puitis. Di dalam buku ini, GM seperti tidak sedang berbicara pada audiens tertentu, tapi pada dirinya sendiri (di beberapa tulisan kita bahkan seperti ditelantarkan begitu saja; tulisan berhenti sebelum klimaks tercapai dan kita dibiarkan berada di ruang tanpa petunjuk dengan banyak pertanyaan). Inilah menurut saya yang membuat refleksi itu — yang berbicara tentang hal-hal yang sangat esensial, filsafiah — terasa puitis. Seperti dalam puisi, ada yang menggantung, ada berlapis-lapis makna yang bisa diungkap — meskipun tetap tanpa kepastian — tergantung pada ketelatenan dan kesiapan kita mengulitinya. Saya membayangkannya seperti mengupas bawang.

Sebuah alegori tentang kisah salah satu tiang Masjid Demak yang terbuat dari tatal (“serpihan kayu yang tersisa dan lapisam yang lepas ketika papan dirampat ketam”) membuka kumpulan esai ini. Lewat itu, kita seolah-olah disiapkan untuk menerima permenungan-permenungan selanjutnya tentang Tuhan dan hal-ikhwal mengenai keberadaan-Nya yang seringkali justru muncul dari hal-hal yang sering dianggap remeh, terbuang, dan tak beraturan. Seperti rumah Tuhan yang  “ditopang oleh yang terbuang, yang remeh dan yang tak bisa disusun rata,” seperti itulah jalan menuju (dan pemahaman tentang) Tuhan yang tak selamanya dapat ditempuh melalui atau ditopang oleh  “pokok yang lurus dan kukuh, dengan lembing dan tahta” (Hal 9).

Setelah itu, buku ini mengajak kita untuk merenungi ada dan tiada, kefanaan, kehidupan dan kematian. Lalu tentang yang terang benderang dan misterius dan gaib, tentang Tuhan yang dialami dan Tuhan yang dilembagakan, dan sebagainya.

Agak sulit bagi saya untuk mengungkapkan kembali diskursus-diskursus yang ditulis dalam buku ini. Setiap esai dapat didiskusikan dengan panjang lebar karena kedalaman isinya. Tapi ada beberapa yang saya suka. Esai nomor 5 (hal 14 – 15), misalnya, yang membandingkan kematian dengan puisi, lalu puisi itu sendiri dengan tari srimpi dan bahasa:

“Puisi dan kematian: dalam keduanyalah keterbatas dirundung janji. Dalam hal kematian, janji tentang kehidupan yang baka. Dalam hal puisi, janji itu tentang sebuah makna.”

Dalam kedua hal itu, kita tidak bisa memastikan kapan janji itu akan terpenuhi. Puisi, seperti halnya tari srimpi dan bahasa, memperoleh pemaknaan dari unsur-unsur yang ada di dalam dirinya sendiri. Mereka adalah “percakapan yang tak kunjung habis” … “janji yang tersirat dari makna yang tertunda — bahkan tak hadir.” Maka demikian juga kematian. “… riwayat kata dan tubuh adalah riwayat dua entitas yang tak terbatas yang dibujuk oleh sesuatu yang tak terhingga.”

Dalam esai ini, dan banyak esai-esai lain dalam kumpulan ini, GM tampak menggaungkan Derrida dan gagasan-gagasan posmodern-postrukturalis lain di mana makna dan kepastian menjadi seperti fatamorgana yang evasif — tak bisa duduk dan didudukkan — dan struktur digugat. Tapi mungkin memang demikianlah esensi dari subjek-subjek yang dibahas oleh esai-esai dalam buku ini: Tuhan, kefanaan dan keabadian, makna dan pemaknaan memang tak pernah sampai pada titik selesai. Hanya keyakinan taklid saja yang membuatnya ‘seolah-olah’ selesai dan tak perlu dipersoalkan.

‘Perlawanan’ pada struktur dan kemapanan terpercik di sana-sini, seperti dalam esai nomor 22 ini:

“Seseorang yang mengatakan ‘Aku percaya kepada Tuhan’ dengan keyakinan yang sama seperti mengatakan ‘Aku percaya bahwa dunia ini bulat’ tak akan merasakan iman sebagai peristiwa, sebagai kejadian.

Kejadian — saya memaknai l’evenement dalam pengertian Alain Badiou — tak pernah tiba secara urut, apalagi direncanakan. Kejadian mengguncang dan mengubah keadaan yang berlaku, seakan-akan dari nihil.

Dengan kejadian-lah kebenaran terjadi — kebenaran, bukan pengetahuan. Pengetahuan hanya merupakan percobaan mengulanginya dan menyusunnya. Tidap kali kebenaran datang ia melampaui batas ‘ensiklopedia’ yang mencoba menatanya. Kebenaran, kata Lacan, ‘melobangi pengetahuan’” (Hal. 39)

Atau pada esai nomor 28 (hal 48), salah satu favorit saya,  di mana kita diingatkan tentang asal-muasal agama  — “dari hening dan saat yang dahyat” — hingga menjadi sebuah “konstruksi”:

“Agama dimulai dengan gemetar, ada rasa kasih dan ngeri, ada amor dan horror — tapi tampaknya sesuatu dalam sejarah manusia telah menyebabkan ia berakhir dengan sesuatu yang rapi: desain dan bangunan. Berabad-abad setelah bertemu dengan sang numinous, kita pun menyaksikan sesuatu yang tak lagi mengungkapkan senyap. Di hadapan kita kenisah yang megah, mesjid yang agung, gereja yang gigantis, patung Budha dari emas yang terbujur 14 meter, pagoda dengan pucuk yang berkilau — dan umat dan makmum, berdesak …”

Pada bagian-bagian ini tampak sekali elaborasi yang diusung dalam esai pembuka: bahwa jalan yang kukuh dan beraturan (struktur, kemapanan) seringkali membuat kita lupa pada kesakralan pengalaman beragama, bertuhan.

Buku ini, saya kira, bukan buku yang mudah untuk dibaca. Meskipun berisi esai-esai yang sangat pendek, ia tak bisa dianggap sebagai bacaan waktu luang yang dapat dicerna sekali duduk — bahkan kalau kita hanya memilih untuk membaca satu atau beberapa bagian saja. Namun buku ini sangat kaya dan mencerahkan. Tentu kalau kita siap dan akrab dengan berbagai rujukan dan alegori yang ada di dalamnya dan dengan gaya bertutur khas GM.

Namun demikian, saya tak akan segan-segan untuk menyarankan buku ini dibaca oleh orang-orang yang berminat dengan agama dan filsafat, atau bahkan siapa saja yang merasakan ‘kegeliasahan’ umum seperti yang ditulis pada bagian sampul belakang buku ini: “… ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan.”

Single Post Navigation

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: