Mungkinkah Tuhan Seperti Itu?

Dalam doa dan tafakur malam ini, aku bertanya pada diriku sendiri:

Mungkinkah Tuhan kecil dan picik, padahal semesta ciptaan-Nya begitu agung, luas, dan tak tepermanai?

Mungkinkah Tuhan membenci keragaman dan perbedaan, padahal Ia lah yang menciptakan keragaman dan perbedaan itu sebagai tanda-tanda keagungan-Nya?

Dapatkah kita menghadirkan-Nya dalam kebencian, permusuhan, fitnah, kepalsuan dan ketidakadilan?

Lalu aku menengadah ke langit, menerbangkan ribuan tanda tanya dalam iringan doa:

Wahai Tuhan Yang Maha Mendengar, beri kami kearifan agar kami tak binasa di sini, dan di sana.

Beri kami rasa belas kasih kepada sesama sebagaima Kau telah berbelas kasih kepada segenap mahluk-Mu.

Tunjukkan pada kami keadilan yang telah Kau jadikan tiang penyangga semesta ciptaan-Mu.

Jagalah hati kami, lisan kami, tangan dan kaki kami dari perbuatan-perbuatan nista atas nama-Mu yang merendahkan keagungan-Mu; dari menebar kebencian, permusuhan, fitnah, kepalsuan dan dari perbuatan tak adil.

Kulihat tanda-tanda tanya itu terbang ke langit, mengetuk pintu-pintunya, berharap dan menunggu jawaban dari Sang Rahasia yang bersemayam di balik tabir yang tak terjangkau mahluk.

Lalu aku bersujud, mengusap muka, dan berucap, “Aamiin.”