Cèmong

Ini Cémong. Kucing antah-berantah yang saya temukan suatu malam di jalan dekat rumah.

Kucing kurus itu sedang duduk. Khusyuk dan penuh konsentrasi mengamati saluran air. Mungkin dia sedang menanti tikus yang kadang-kadang lalu lalang di tempat itu. Aku tertarik pada perilakunya yang tenang penuh percaya diri, dan warna bulunya: telon (tiga warna), kata orang Jawa; calico, kata para penggemar kucing.

Aku ingat di rumah masih ada makanan kucing yang baru aku beli untuk menyelamatkan kucing sakit yang berteduh di garasiku beberapa minggu sebelumnya. Aku pikir aku bisa memberikan makanan itu pada kucing ini daripada mubazir. (Oh ya, kucing sakit yang berteduh di garasiku itu akhirnya mati sebelum makanan yang kubeli itu sempat kuberikan.)

Aku mengajak kucing itu pulang ke rumah malam itu. Dia tidak menolak.

Di rumah, dia makan dengan lahap makanan yang aku berikan padanya. Aku memberinya nama Cèmong karena di hidungnya ada bercak hitam alias cèmong.

Sejak malam itu dia menganggap rumahku sebagai rumahnya juga. Meskipun aku memberinya kebebasan keluar dan pergi kapan saja dia mau, dia selalu kembali dan tidur di rumah.

Si Cèmong ternyata kucing yang pintar. Suaranya halus. Perilakunya juga halus. Cara dia minta makan, cara dia minta dibukakan pintu ketika ingin keluar, dan cara dia buang air juga cukup beradab untuk seekor kucing. Di hari-hari pertama tinggal di rumah, dia buang air di kamar mandi. Setelah itu dia lebih suka buang air di tanah kosong di dekat rumah.

Dia juga pintar berburu tikus. Beberapa kali dia membunuh tikus dan membawa dan memamerkan bangkainya ke rumah. Meskipun menjijikkan, saya memakluminya. Konon, begitulah cara kucing menunjukkan bahwa dia menganggap kita keluarganya.

Dia juga menurut kalau dilarang. Aku cukup memberinya aba-aba sssttt … dan dia tahu bahwa apapun yang akan dia lakukan saat itu (seperti masuk ke kamar tidur) tidak boleh.

Ada kebiasaan-kebiasaannya yang lain yang membuatku semakin sayang pada kucing ini. Dia tampaknya selalu tahu kapan aku pulang. Dia selalu muncul dan berlari kencang mengejarku saat dia melihat atau mendengar mobil atau sepeda motorku sudah mendekati rumah. Lalu dia akan mengikuti aku masuk ke rumah. Kalau pintu tidak dibukakan atau aku terlalu lama membuka pintu, dia akan mengangkat kedua kaki depannya seolah-olah mendorong pintu supaya cepat terbuka.

Dia sepertinya juga mengenali namanya. Setiap kali kupanggil, dia akan selalu datang atau paling tidak mengeong dengan suara halusnya.

Ada satu lagi kebiasaannya yang membuatku selalu terharu. Dia sering mengikuti aku kalau aku pergi ke warung atau ke toko makanan satwa di dekat rumah. Dia akan berjalan atau berlari di  samping atau belakangku, menunggu di depan toko, dan ikut pulang saat aku pulang.

Beberapa minggu yang lalu Cèmong berahi. Beberapa malam dia keluar dan pulang pagi. Siang hari pun beberapa kali aku lihat dia menggoda dan menawarkan dirinya pada segerombolan kucing jantan yang juga mengikutinya kesana-kemari.

Kini tampaknya dia sedang bunting. Puting susunya mulai membesar dan perilakunya menjadi lebih manja daripada biasanya, meskipun perutnya belum terlalu buncit. Perkiraanku dia akan melahirkan akhir November atau awal Desember nanti.

Iklan