Kenapa Media Sosial Tidak Sehat untuk Kesejahteraan Emosional Kita?

Pro kontra tentang media sosial sudah bukan barang baru. Banyak orang yang menentangnya, banyak pula yang memujanya. Penelitian tentang baik buruknya pun sudah banyak yang dipublikasikan dan menjadi wacana yang menarik di dunia akademik.

Social Media Image
Social Media Image source: http://lesliefieger.ca/buzz-leslie/social-media/

Terlepas dari manfaat dan mudaratnya, setiap detik setiap hari jutaan orang di seluruh dunia memakai media sosial. Media sosial sudah menjadi kenyataan dan bagian yang tak terpisahkan dari peradaban kita saat ini. Orang yang tidak punya media sosial atau tidak menggunakannya mungkin akan dianggap sebagai mahluk aneh yang tak terhubung dengan kenyataan dunia saat ini.

Saya pengguna media sosial dan punya akun di Facebook, Twitter, Instagram, LinkedIn dan WA. Namun saya juga orang yang skeptis dan kritis terhadap media sosial. Pengalaman berkecimpung di dalamnya sering membuat saya bertanya-tanya, apakah media sosial betul-betul bisa membuat saya mempunyai koneksi sosial yang lebih luas dan membuat saya lebih sejahtera secara sosial dan emosional.

Secara nominal, kehadiran saya di media sosial tampaknya memang membuat koneksi sosial saya menjadi lebih luas: 2000-an teman di Facebook, 900-an pengikut di Twitter, 1200-an di Instagram cukup menjadi bukti bahwa saya punya koneksi sosial yang cukup luas, meskipun saya bukan pesohor. Meskipun demikian, sering kali saya merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan saya di media sosial. Salah satu hal yang sering mengusik saya dalam bermedia sosial adalah perasaan terasing dan tak berkecukupan.

Perasaan itu membuat saya tertarik mengikuti penelitian-penelitian yang dilakukan tentang media sosial dan dampaknya bagi kesejahteraan emosional individu.

Salah satu temuan menarik dari penelitian-penelitian itu adalah, bahwa  ternyata orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial ‘berkemungkinan’ menjadi orang-orang yang justru terisolasi secara sosial. Penyebabnya boleh jadi karena adanya kegajlogan atau gap yang terlalu besar antara kehidupan nyata dan kehidupan daring mereka.

Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Sadar atau tidak, salah satu hal yang paling umum ditampilkan orang di media sosialnya adalah hal-hal terbaik dalam kehidupan mereka: keluarga yang (tampak) bahagia, momen-momen liburan yang (tampak) luar biasa, pemandangan-pemandangan yang (tampak) sempurna, hidangan-hidangan yang (tampak) istimewa yang mereka santap di restoran atau kedai yang juga (tampak) wah, sudut-sudut rumah mereka yang akan menimbulkan kesan kagum pada yang melihatnya, karir dan pekerjaan yang (tampaknya) patut dicemburui oleh orang-orang lain … Di media sosial, kehidupan orang tampak begitu sempurna dan bahagia.

Semua itu tentu saja berkaitan dengan pencitraan: semakin tinggi citra yang kita tampilkan, semakin tinggi pula gengsi dan harkat sosial kita di mata teman-teman kita. Kita tidak tahu bahwa di balik citra keluarga yang tampak bahagia, mungkin ada pertengkaran-pertengkaran, anak-anak yang bermasalah, konflik-konflik keluarga dan lain-lain. Kita tidak tahu bahwa  di balik foto-foto liburan yang luar biasa mungkin ada kejadian-kejadian yang membuat mereka stres, dan di dalam foto pemandangan indah yang ditampilkan orang di media sosialnya, mungkin sebenarnya ada gedung kumuh atau sampah yang merusak pemandangan di latar depannya. Kita seringkali tidak sadar pula bahwa di balik kesempurnaan hidangan yang dipamerkan, ada berkali-kali lipat makanan sederhana atau super sederhana yang biasa mereka santap sehari-hari. Di balik pekerjaan dan karir yang tampak gilang-gemilang, ada kerumitan dan stres yang luar biasa. Begitulah, di media sosial, setiap hal yang tidak mengenakkan dan akan menjatuhkan citra atau gengsi sosial disingkirkan agar hidup tampak sempurna dan enviable.

Akibat hal ini, konsumen (orang-orang atau teman-teman yang mengkonsumsi citraan-citraan seperti itu) merasakan bahwa kehidupan mereka terlalu biasa saja dan tak berkecukupan. Perasaan seperti tentu saja tidak sehat bagi kesejahteraan emosional mereka. Namun, pada gilirannya mereka pun akan melakukan hal yang sama: Memamerkan hal-hal terbaik dalam kehidupan mereka dan menutup-nutupi kekurangan mereka sendiri demi gengsi dan agar mereka tak kalah pamor dengan teman-teman mereka di media sosial.

Sawang-sinawang (saling melihat, saling mengamati) seperti itu sebenarnya lumrah. Dari dulu, sebelum zaman Internet dan media sosial, nenek moyang kita sudah melakukannya. Rumah tetangga yang lebih baik, tetangga membeli sepeda motor atau mobil baru, dan lain-lain sering menimbulkan rasa iri dan keinginan untuk tidak mau kalah. Namun di era media sosial, keluasan dan intensitasnya menjadi berkali-kali lipat. Yang kita lihat tidak hanya tetangga atau orang-orang terdekat yang kita kenal baik, tapi juga orang-orang yang hanya kita kenal sepintas dan jauh. Kita tidak lagi hanya melihat satu, dua, atau sepuluh orang, tapi puluhan bahkan ratusan orang. Selain itu, ada perbedaan mendasar antara sawang-sinawang yang terjadi di dunia nyata dan di dunia maya atau media sosial: Di dunia nyata, kita masih dapat melihat konteks (tetangga kita terlihat lebih mapan secara ekonomi karena mereka memiliki modal atau bekerja sangat keras untuk mencapai kemapanan itu); sementara itu, di dunia maya, semua yang kita lihat, baca atau dengar telah terlepas dari konteksnya, sehingga kita hanya melihat serpihan tanpa konteks.

Akibat terus-menerus mengkurasi dan membandingkan hidup kita dengan kehidupan orang-orang lain (kebahagiaan mereka dibandingkan dengan kabahagiaan saya, keberhasilan mereka dibandingkan dengan keberhasilan mereka, dan lain-lain) membuat kita merasa tidak berkecukupan. Perbuatan kita untuk meniru dan mengimbangi – dengan turut membagikan fragmen-fragmen kehidupan kita yang telah kita kurasi sendiri – juga menimbulkan kegajlogan antara kenyataan dan citraan yang kita coba bangun di media sosial. Kegajlogan ini lama-kelamaan akan menggerogoti diri kita secara emosional dan menjadikan kita mahluk yang terbelah dan terasing bahkan dari diri kita sendiri.

Inilah salah satu alasan kenapa semakin banyak kita menggunakan media sosial dan semakin dalam kita terjun ke dalamnya, kita akan menjadi tak bahagia, merasa kekurangan, terasing dan terisolasi. Tentu ada alasan-alasan lain yang membuat kehidupan emosional para pencandu media sosial menjadi tida sehat. Namun dengan alasan ini saja, sudah seharusnya kita menjadi lebih berhati-hati dan waspada dalam menggunakan media sosial.