Hari Tanpa Angkot dan Lonceng Kematian Angkot

Hari ini saya tidak keluar rumah karena kondisi kesehatan yang sedang terganggu. Kalau bukan karena media sosial, mungkin saya tidak tahu bagaimana situasi kota.

Hari ini dan tiga hari ke depan konon ada pemogokan angkot di kota Bandung. Saya tahu ini dari salah satu grup WA yang saya ikuti. Seorang sejawat yang terbiasa berangkot ke mana-mana menyatakan, mungkin esok dia tidak akan bisa hadir untuk suatu acara di kantor karena tidak ada angkot.

Dari Instagram saya mendapati sekurang-kurangnya dua orang teman yang melaporkan keadaan kota tanpa angkot. Salah satunya dengan terheran-heran bertanya, “Apakah hanya saya yang merasa bahwa jalanan Bandung hari ini sangat menyenangkan?” Dia tampaknya begitu girang bahwa rute Jalan Dr. Setiabudi ke Bandung Indah Plaza (BIP) di Jalan Merdeka, yang biasanya begitu tersendat dan membutuhkan waktu tempuh yang lama, hari ini dapat ditempuh hanya dalam 15 menit. Catatan waktu yang luar bisa untuk rute yang melalui beberapa bagian kota Bandung yang terkenal macet: Setiabudi, Cihampelas, Wastukencana.

Teman satunya pemposkan dua foto dan sebuah video pendek. Pada salah satu foto yang diposkannya tampak anak-anak sekolah sedang berjalan kaki bersama-sama di Jalan Pasirkaliki – pemandangan yang menurutnya sangat nostalgik: “seperti dulu lagi di mana angkot sangat sedikit, sehingga ke mana-mana berjalan kaki … pengalaman yang indah …”. Di dalam video pendeknya, dia melaporkan bagaimana suasana di Jalan Kebon Kawung, yang biasanya macet di tengah hari, tadi siang tampak begitu lancar.

Apakah kedua kesaksian tersebut membuktikan bahwa angkot tidak lagi menjadi solusi transportasi massal, melainkan justru menjadi salah satu sumber masalah yang menambah kemacetan lalu lintas kota?

Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin masih perlu dikaji melalui penelitian yang bisa secara lebih definitif  dan objektif mengonfirmasi atau menolak kecurigaan kita bahwa angkot adalah salah satu sumber keruwetan lalu lintas di kota-kota kita.

Namun tanpa penelitian pun sebenarnya kita bisa mengamati bahwa sebagai sebuah sarana transportasi massal, angkot tampaknya memang sudah ketinggalan zaman dan  perlu segera direvolusi. Kenapa demikian?

Perilaku yang tak terkendali

Angkot bisa (tiba-tiba) berhenti di mana saja, mengetém  di mana saja, termasuk di perempatan, tikungan atau bagian-bagian jalan yang sibuk (kadang-kadang bahkan sampai berbanjar-banjar) hingga menghambat dan membahayakan pengguna jalan lain serta mengakibatkan situasi bottleneck.

Daya angkut kecil

Sebuah angkot hanya bisa mengakut paling banyak belasan penumpang, sehingga untuk dapat mengangkut jumlah penumpang yang banyak dibutuhkan lebih banyak armada. Jumlah armada yang banyak, ditambah perilaku yang sering seenak perut sendiri, tentu menambah beban kerumitan bagi jalanan kota yang sudah penuh sesak.

Ketiadaan jadwal

Keterjadwalan merupakan aspek penting dalam transportasi massal modern. Tanpa itu, penumpang tak dapat mengandalkan kebutuhan transportasinya pada transportasi massal. Penumpang membutuhkan transportasi massal yang bisa memberi kepastian kapan dia bisa sampai ke tempat yang ingin ditujunya. Tanpa itu, dia mungkin lebih suka menggunakan kendaraan pribadi. Dan, kita tahu, semakin banyak orang menggunakan kendaraan pribadi, akan semakin macet pula jalanan.

Sistem kepemilikan, pengoperasian dan manajemen

Kepemilikan dan cara angkot dioperasikan  merupakan salah satu faktor besar yang memengaruhi perilakunya yang tak beraturan. Angkot, kita tahu, dimiliki dan dioperasikan oleh individu atau swasta pemilik modal. Sopir, sebagai pekerja, biasanya hanya mendapatkan penghasilan dari selisih pendapatan dan setoran kepada pemilik. Situasi ini memaksa sopir melakukan apapun untuk memastikan bahwa dia mendapatkan kelebihan uang yang bisa dibawanya pulang, termasuk melanggar peraturan lalu lintas dan mengabaikan keselamatan dan kenyamanan penumpang.

Semua faktor tersebut membuat angkot seperti dinosaurus yang punah karena gagal ber-evolusi ketika alam sudah berubah dan tidak mendukung lagi kehidupannya.

Angkot merupakan produk awal abad silam ketika kota-kota kita tidak sepadat sekarang, orang-orang tidak sesibuk sekarang, serta ketepatan waktu, kecepatan, keandalan dan kenyamanan belum terlalu menjadi tuntutan. Kini perikehidupan kita sudah jauh berubah. Kota-kota kita sudah berlipat-lipat jumlah penduduknya, orang-orang sudah menjadi semakin sibuk dan relatif lebih makmur sehingga ketepatan waktu, keandalan, keamanan dan kenyamanan transportasi, yang dulu tidak terlau dipermasalahkan, sekarang sudah menjadi tuntutan dan kebutuhan.

Angkot ditinggalkan para penumpangnya karena angkot tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan transportasi mereka. Semakin banyak orang memilih dan beralih ke kendaraan pribadi (sepeda motor, mobil) dan/atau moda transportasi lain (taksi, taksi dan ojeg daring) yang, meskipun lebih mahal, bisa memenuhi kebutuhan mereka akan sarana transportasi yang lebih andal dalam soal waktu dan lebih nyaman.

Karena selama berpuluh-puluh tahun angkot telah gagal ber-evolusi, maka mereka sekarang terpaksa harus di-revolusi (dipaksa berubah cepat). Kalau tidak, maka kematian angkot hanya soal waktu saja.