Menafsir Muatan Budaya Karya Fotografi Indonesia


Ditulis oleh: Eki Qushay Akhwan

Masyarakat awam sering mengganggap karya foto sebagai artefak yang objektif, dalam arti bahwa apa yang tercetak pada kertas foto atau ditampilkan pada layar monitor selalu menggambarkan realitas sebagaimana adanya. Anggapan ini cukup beralasan karena foto dihasilkan oleh alat rekam (kamera) yang merekam apa saja yang ada di hadapannya. Mereka lupa bahwa di belakang kamera ada fotografer manusia yang juga dikendalikan oleh rasa, pikiran, dan pengalaman pribadi serta diikat oleh budaya masyarakatnya. Semua aspek ini ikut bermain ketika seorang fotografer melihat ke jendela bidik, mengatur komposisi dan pencahayaan serta menekan tombol rana. Oleh karena itu pada dasarnya tidak ada karya foto yang bersifat objektif. Semua karya foto selalu bersifat inflektif dan parsial, serta mencerminkan cara pandang fotografer atas dunianya. Menafsirkan karya foto pada dasarnya adalah mengungkap infleksi pribadi dan budaya sang fotografer.

Seperti halnya dalam menafsirkan karya sastra atau karya seni lain, ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menafsirkan karya foto, seperti pendekatan Marxis, pendekatan feminis, pendekatan psikoanalisis, pendekatan formalis, dan lain-lain.

Salah satu pendekatan dasar yang umum digunakan untuk menafsirkan karya foto adalah pendekatan teknik fotografi: teknik apa yang digunakan oleh fotografer untuk menghasilkan karya fotonya dan bagaimana hal-hal yang bersifat teknis ini memberi makna pada karyanya. Termasuk dalam pendekatan teknis ini adalah pilihan subjek (apakah model, manusia, perempuan, laki-laki, anak-anak, binatang, pemandangan alam, pemandangan kota , dsb.), komposisi dan sudut pandang (sudut lebar atau tele, panoramic atau close up), pilihan medium (slide, film negatif, digital, dsb.), dan sebagainya. Pendekatan ini bisa diterapkan pada karya foto seorang fotografer maupun sekelompok fotografer yang berlatar budaya sama.

Jika pendekatan ini digunakan untuk membaca atau menafsirkan foto-foto yang dimuat di FN (http://www.fotografer.net/) dan kita asumsikan bahwa sebagai klub fotografi yang cukup besar di Indonesia, FN cukup mewakili populasi umum masyarakat penggemar fotografi di Indonesia, kita akan segera dapat melihat bahwa karya-karya fotografer Indonesia secara umum mempunyai ciri khas yang dapat ditafsirkan muatan budayanya.

Hasil pengamatan saya di FN selama kurang lebih dua bulan menunjukkan bahwa subjek favorit fotografer Indonesia pada umumnya adalah pemandangan alam dan foto-foto dengan model perempuan. Secara lebih spesifik foto pemandangan alam paling favorit adalah foto matahari terbenam, laut, gunung, hutan, dan sawah yang diambil dengan format horizontal atau panoramik dengan menggunakan lensa sudut lebar atau sangat lebar. Hampir setiap hari kita selalu dapati foto-foto baru dengan pilihan subjek semacam ini dimuat ke situs FN, baik dari fotografer yang sudah sangat mapan secara teknis maupun dari penggemar-penggemar baru fotografi yang sedang dalam taraf belajar dan mencari jati diri ekspresi fotografisnya. Kesimpulan ini diperkuat oleh kenyataan bahwa foto-foto dengan dengan kategori ini menempati urutan kedua tertinggi perolehan skor setelah foto-foto dengan model perempuan.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa di Indonesia konsep foto sebagai karya seni secara umum masih dipengaruhi oleh subject matter tradisional karya seni lukis yang dalam budaya kita secara tradisional cenderung beraliran naturalis dan menempatkan pemandangan alam sebagai salah satu dari sedikit subjek yang paling sahih direpresentasikan dalam karya seni visual. Karya-karya di luar kategori ini secara umum dapat dikatakan kurang mendapat perhatian jika dilihat dari rata-rata perolehan skornya.

Foto dengan subject matter model perempuan yang tingkat popularitasnya paling tinggi di FN menunjukkan bahwa budaya Indonesia secara umum adalah budaya patriakal, yaitu budaya dimana laki-laki menempati posisi utama di ruang domestik (rumah tangga) maupun ruang publik. Posisi laki-laki sebagai pemimpin dalam hal ini mensahihkan eksploitasi keindahan perempuan untuk kesenangan laki-laki, dan tidak sebaliknya. Pengamatan saya menunjukkan bahwa di antara puluhan ribu foto yang telah dimuat di FN hanya ada satu atau dua foto di mana keindahan tubuh laki-laki secara eksplisit dieksploitasi dalam sebuah karya foto dan, seperti bisa ditebak, karya foto ini hampir tidak dihiraukan, bahkan dilecehkan sebagai sebuah penyimpangan meskipun secara teknis fotografis foto tersebut sebenarnya cukup menarik. Kenyataan ini sangat kontras dengan karya-karya foto yang menonjolkan keindahan tubuh perempuan yang kadang-kadang meskipun secara teknis fotografis tidak istimewa hampir selalu mendapatkan respon dan sorakan yang positif dari anggota-anggota FN.

Selain menunjukkan karakter patriakal budaya kita, popularitas foto yang mengeksploitasi keindahan tubuh perempuan di antara pehobi fotografi juga menunjukkan bahwa fotografi di Indonesia masih menjadi hobi yang didominasi oleh laki-laki, dan oleh karena itu masih bersifat maskulin. Meskipun secara proporsional anggota FN banyak yang perempuan, mereka bisa dikatakan tidak mempunyai suara khas yang bisa meneriakkan suara perempuan dalam karya-karya mereka. Mereka lebur dalam arus besar budaya patriakal yang menempatkan perempuan dalam posisi yang marjinal.

Sebagai penutup perlu dicatat bahwa tafsir ini tidak bersifat absolut. Di dunia yang semakin terbuka dan saling berkait lewat jaringan maya sekarang ini, beragam gaya fotografi akan terus selalu mempengaruhi perkembangan fotografi Indonesia. Pengaruh itu terutama datang dari situs-situs fotografi yang semakin marak di dunia saiber. Paparan karya-karya foto dengan beragam bentuk dan pendekatan dapat menjadi inspirasi yang dapat memperluas cakrawala inspirasi fotografer Indonesia dalam memilih pendekatan teknis untuk karya-karya fotonya. Sebagi situs fotografi utama Indonesias, FN – terutama para administratornya – dapat memainkan peranan strategis dalam perkembangan fotografi Indonesia, antara lain dengan menjadikan keragaman gaya foto dan kreatifitas sebagai salah satu kriteria dalam pemilihan foto pilihan editor, sehingga kecenderungan untuk terus terpaku pada foto-foto landskap dan model perempuan bisa diimbangi dengan paparan terhadap beragam gaya fotografi lain.

________________
Tulisan ini semula saya tulis dan dipublikasikan di Fotografer.net dan di blog fotografi saya Jagat Fotografi.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s