Witing Trisno Jalaran Soko Kulino


Orang Jawa bilang, witing trisno jalaran soko kulino. Cinta tumbuh karena kebiasaan.

Banyak orang menafsirkan ungkapan itu seperti ini: Cinta itu tidak perlu. Yang penting jalani saja dulu. Nanti ia juga akan tumbuh sendiri.

Mungkin itu benar. Tapi pengertian itu – menurut saya – perlu diluruskan.

Saya tidak percaya apa yang tidak ada dapat berubah menjadi ada. Ini hukum alam. (Hukum mukjizat tentu lain lagi.) Sesuatu dapat tumbuh tentu karena bibitnya telah ada. Dan bibit cinta sesungguhnya sudah ada dalam batin setiap manusia. Tinggal bagaimana ia diraih dan ditumbuhkan.

Untuk orang-orang yang memulai sebuah hubungan dengan cinta yang sudah bersemi pun, ungkapan itu bisa jadi sama benarnya. Cinta adalah suasana batin. Mahluk hidup. Sama seperti mahluk hidup lain, ia juga perlu pemeliharaan, perlu lingkungan yang baik, perhatian yang baik, nutrisi yang baik agar terus hidup dan tumbuh.

Bayangkan cinta sebagai sebuah tanaman yang hanya dapat tumbuh di jenis tanah tertentu, tingkat kelembaban tertentu, intensitas cahaya matahari tertentu. Kau akan tahu. Jika ia bibit, kapan dan bagaimana ia akan tumbuh. Jika ia tanaman, bagaimana dia bisa merana dan mati.

Jika cinta telah tumbuh subur, ia akan memenuhi taman hati. Rindang. Sejuk. Sedap dipandang mata. Lezat dan segar buahnya. Akan ada kesuwungan yang menakutkan, menggelisahkan jika ia tiba-tiba pergi. Itulah tanda-tanda dari cinta yang telah tumbuh.

Jadi, pengertian pertama tentang “Witing trisno jalaran soko kulino” adalah bahwa cinta itu seperti bibit atau tanaman, dan bahwa untuk tumbuh ada syarat-syarat yang harus dipenuhi.

“Kulino”
“Kulino” dalam khazanah kosakata Jawa adalah biasa. Sesuatu yang biasa itu familier. Ia dikenali seluk beluknya dan, oleh karena itu, nyaman, tidak menakutkan, tidak mengagetkan seperti fenomena yang asing.

Jadi, metonimi yang terbentuk antara kulino dan trisno adalah: kulino (biasa) nyaman tentram trisno (cinta).

Bagi orang Jawa, wudud utama cinta adalah perasaan tentram yang lahir karena pengenalan: yang asing menjadi tak asing lagi, yang menakutkan menjadi tak menakutkan lagi, yang (berpotensi) menimbulkan kekagetan tak menimbulkan kekagetan lagi, dan seterusnya. Itulah perwujudan cinta yang sejati menurut filsafat Jawa.

Dua orang yang saling mencinta akan memiliki perasaan tentram atas kehadiran masing-masing. Perasaan tentram itu tidak muncul seketika, namun tumbuh seiring kedekatan yang membuat masing-masing saling mengenali:

Suami – istri mengenali tubuh pasangannya seperti mengenali tubuh mereka sendiri. Mengenali kebiasaan-kebiasaan masing-masing seperti mengenali diri sendiri. Mereka tahu apa yang disuka dan tak disuka oleh pasangganya seperti dia tahu apa yang disukai dan tak disukainya, dan seterusnya. Pasangan yang sudah punya “trisno” tak perlu banyak kata-kata untuk tahu bahwa ia ingin sesuatu dari belahan jiwanya, dan sebaliknya.

Karena “trisno” lahir dari pembiasaan, maka suami-istri akan sulit mengembangkan rasa itu bila mereka tak seatap, sedapur, sesumur, dan sekasur.

______________
Tulisan ini semula saya publikasikan di blog saya yang lain Life’s Small Notes.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s