“Teori” dalam Kajian Budaya


Ditulis oleh Eki Qushay Akhwan

Dalam kajian budaya (cultural studies), dikenal istilah teori. Ini bukan teori apapun, atau teori dalam pengertian umum yang seringkali didefinisikan sebagai: (1) suatu rumusan aturan formal yang menjadi dasar bagi suatu kajian dalam suatu bidang ilmu, atau (2) seperangkat gagasan sistematik yang dapat digunakan untuk menjelaskan suatu fakta atau kejadian.

Teori di sini juga tidak sama dengan teori kesusasteraan (literary theory), yang umumnya didefinisikan sebagai seperangkat gagasan sistematik yang dipakai untuk mengkaji hakikat sastra, atau seperangkat metoda yang dipakai untuk menganalisis karya sastra.

Istilah teori dalam kajian budaya agak sulit didefinisikan karena mencakup banyak bidang kajian ilmu (multidisipliner). Namun demikian, menurut Culler (1997), teori memiliki sejumlah sifat yang menjadi ciri khasnya.

Sifat pertama dari teori adalah spekulatif. Artinya, penjelasan yang ditawarkannya tidak obvious (kentara, pampang, mudah dilihat dan/atau dimengerti); teori menawarkan penjelasan yang lebih dari sekedar hipotesis karena di dalamnya terdapat relasi-relasi yang kompleks dan sistematik antar-sejumlah faktor, dan oleh karena itu apa yang dikemukakannya tidak dapat dengan mudah dikukuhkan atau dibantah kebenarannya.

Sifat kedua dari teori adalah “keberhasilannya dalam menantang dan mereorientasikan pemikiran-pemikiran di luar bidangnya sendiri.” (p. 3) Dalam hal ini, karya-karya pemikiran dari berbagai bidang kajian yang dampaknya seperti disebutkan di atas dapat digolongkan sebagai teori. Oleh karena sifat ini dimiliki oleh wacana pemikiran dari berbagai bidang ilmu, maka Culler mengusulkan bahwa teori disebut sebagai suatu genre.

Selain kedua sifat di atas, teori juga dapat dikenali dari pengaruhnya dalam menggugat ‘common sense’ (apa yang secara nalar dianggap benar). Teori dalam hal ini berusaha menunjukkan bahwa apa dianggap benar secara nalar – dan telah kita terima sebagai sesuatu yang semestinya – bisa jadi hanya merupakan konstruksi sejarah. Teori menawarkan pemahaman alternatif dengan mempertanyakan pengertian dan asumsi-asumsi dasar yang melandasi pengertian kita.

Sebagai konsekuensi dari hal di atas (kemampuannya menggugat ‘common sense’), teori bersifat menggerakkan. Artinya, dengar bercermin pada hal-hal yang telah digugat oleh teori, orang dibuat tergerak untuk mempertanyakan ‘common sense-common sense’ lain.

Jadi, apa itu teori?

Culler (pp. 14 – 15) menyimpulkan bahwa teori mempunyai empat ciri utama, yaitu:

1. Ia bersifat interdisipliner. Artinya, wacana yang dilontarkannya mampu mempengaruhi bidang-bidang kajian di luar bidang kajian dari mana wacana itu semula berasal.

2. Ia bersifat analitis dan spekulatif seperti yang telah dijelaskan di atas.

3. Ia menjadi kritik atas ‘common sense’ atau konsep-konsep yang telah dianggap sebagai wajar atau alamiah.

4. Terakhir, teori bersifat refleksif. Ia adalah berpikir tentang berpikir, ia menyelidik dan mempertanyakan kategori-kategori yang kita gunakan untuk memahami segala sesuatu dalam kesusasteraan maupun praktik-praktik kewacanaan lain.

Demikian pemahaman saya.

Satu pemikiran pada ““Teori” dalam Kajian Budaya

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s