Ketakpedulian dan Peradaban yang Tergelincir


Hari ini aku terpaksa ‘marah-marah’ di kelas. (Kata marah-marah sengaja kupetik karena kemarahanku tidak mengumbar emosi; hanya sentilan penuh kasih sayang seorang guru yang mencoba menggugah kesadaran siswanya.)

Ini dia pasalnya:

Di lorong depan kelas, ada sepotong sampah yang tergeletak sekira satu meter dari tempat sampah. Lalu, ketika aku masuk ke kelas (yang terletak di lantai empat), mahasiswa duduk hingga mepet ke pintu sampai-sampai pintu tak dapat terbuka sepenuhnya.

Sepintas barangkali ini kejadian yang biasa. Tak terlalu serius. Tapi, bagiku, itu tak dapat diterima.

Bahwa orang membuang sampah sembarangan semeter dari tempat sampah, di gedung yang notabene merupakan bagian dari lingkungan akademik yang dihuni oleh warga dengan predikat intelektual, sungguh sangat tidak dapat diterima oleh akal sehat. Ada sebuah sensibilitas yang hilang, sebuah peradaban yang ternista di mana akal dan ilmu pengetahuan tidak lagi mampu membuat orang menjadi santun dan berperilaku saleh.

Aku sedih. Marah.

Bahwa orang-orang yang dilatih berpikir cermat memilih berdesak-desakan di dekat pintu, barangkali bisa menjadi petunjuk bahwa orang-orang yang seharusnya mampu berpikir cermat pun ternyata tak menyadari betapa perbuatannya memiliki konsekuensi yang membahayakan. Telah terjadi defisiensi cara berpikir yang cukup parah, bahkan di kalangan yang semestinya terlatih untuk berpikir lebih tajam dan lebih dalam dari kalangan awam.

Tidak terpikir oleh para mahasiswa itu bahwa dalam keadaan darurat bencana – seperti saat terjadi kebakaran atau gempa bumi – akses ke pintu dan jalan keluar bisa sangat menentukan mati hidupnya orang-orang yang berada di dalam gedung. Panik dan akses ke jalan keluar yang tertutup dapat menciptakan stampede yang dapat menambah jumlah korban mati atau cidera.

Memang bencana tak terjadi setiap hari; dan sepotong sampah tak akan merusak sebuah gedung. Tapi sebagai sebuah gejala, multiplisitas konsekuensi dari hal-hal itu tak dapat dipandang dengan sebelah mata.

Sebagai sebuah masyarakat, kita sedang menggelinding jatuh dari peradaban yang tinggi dan terhormat – di mana kepedulian, kesantunan, dan kearifan menjadi cirinya – menjadi masyarakat yang savage (biadab) yang tidak peduli pada alam sekitar, tak santun pada sesama, dan meremehkan kehidupan.

Peristiwa sampah dan pintu di atas hanya pucuk kecil dari gunung es yang mahadahsyat yang sedang menggulung dan mebusukkan masyarakat kita dari dalam. Setiap hari saya (kita) menyaksikan perilaku-perilaku degeneratif yang semakin memprihatinkan:

Mahasiswa memarkir kendaraannya di tempat yang menghalangi pengendara lain untuk keluar masuk tempat parkir. (Demi alasan apa? Hanya agar lebih dekat ke gedung tempatnya kuliah? Agar dia dapat keluar masuk dengan mudah tanpa memedulikan kesulitan orang lain?). Tidakkah ini sama dengan perbuatan sopir-sopir angkot yang berhenti di tikungan dan/atau nyaris ke tengah jalan tanpa peduli bahwa tindakannya menyebabkan kemacetan dan membahayakan keselamatan pengguna jalan lain?

Mahasiswa anarkis membakar, merusak, dan melukai orang lain dan sesamanya atas nama suara yang harus didengar orang lain, juga tak kalah menyedihkannya. Suara bening yang mengalir dari pikiran yang jernih (karena telah ditapis oleh proses berpikir yang reflektif dan rasional) seolah telah lenyap digantikan oleh suara-suara iblis yang ganas dan panas (karena lahir dari substansi api dan hawa nafsu). Tidakkah ini sama dengan perbuatan-perbuatan para preman pasar atau narapidana di relung-relung penjara yang pengap?

Bila karakter para cendekia dan bibit-bibit cendekia tak ada bedanya dengan karakter lapisan terendah dari strata masyarakat yang beradab, apa yang akan terjadi?

Kita akan tergelincir dan menggelinding cepat ke jurang savagery (kebiadaban, lawan dari peradaban) yang gelap … lalu lenyap ditelan kenistaan.

Apakah kita akan menjadi seperti ini?

3 pemikiran pada “Ketakpedulian dan Peradaban yang Tergelincir

  1. Menurut saya, pada masanya, perilaku-perilaku manusia-manusia Eropa juga seperti kita hari ini. Sekarang mereka jauh lebih beradab. Itu tidak bisa dilepaskan dari faktor ideologi, yang seperti yang bapak ungkapkan, sebagai suprastruktur dari basis material suatu peradaban. Inilah realitas kehidupan negeri yang masih terjajah secara ekonomi, lebih dari itu masih menyisakan peradaban feodal. Selain melakukan kritik secara mikro, tak bisa dihindari, ini tanggung jawab politis untuk memerdekakan bangsa ini secara hakiki.

  2. Kadang saya suka bingung, tentang kesemrawutan yang ada; apa yang harus saya lakukan pak? Dalam hati saya ingin berbuat banyak, tapi keadaan membuat apa yang saya lakukan seperti menentang arus tsunami; keadaan seperti itu sudah dianggap ‘wajar’ itu hal yang membuat saya paling miris menjadi seorang pembelajar yang hanya dapat melongo melihat keadaan negeri ini…

    1. Mulailah dengan tidak ikut-ikutan berperilaku tak peduli. Lalu berani menegur perilaku sesama yang tidak pantas dilakukan. Selain itu, Sandi bisa menulis dan menyebarkan tulisan agar dibaca oleh orang-orang yang berperilaku tidak semestinya dan orang-orang yang membuat kebijakan.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s