Apa Itu Kitsch?


Ditulis oleh Eki Qushay Akhwan

Kalau KBBI dijadikan rujukannya, saat ini kata ‘kitsch’ belum masuk sebagai kosakata bahasa Indonesia. Mungkin tidak perlu juga, karena secara kasar – dan untuk keperluan umum – kata itu bisa dipadankan dengan kata tiruan. Namun sebagai kosakata ilmiah (kata yang telah memasuki diskursus keilmuan), kata ini sebenarnya layak untuk dipinjam dan dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia.

Menurut kamus Merriam-Webster, kata kitsch berasal dari Jerman dan mulai digunakan pada tahun 1925; namun sumber-sumber lain seperti Wikipedia menyebutkan, kata itu telah muncul dan digunakan pada akhir abad ke-19 untuk menggambarkan lukisan-lukisan ‘murahan’ yang dijajakan di pasar-pasar kota Munich dan sangat digemari oleh para OKB (orang kaya baru).

Konon para borjuis baru itu mengira bahwa dengan meniru perilaku dan kebiasaan-kebiasaan serta memiliki barang-barang seperti yang dimiliki oleh para elit bangsawan tradisional (termasuk lukisan-lukisan tiruan itu), mereka juga akan mendapatkan status yang setara dengan para bangsawan itu.

Karena asal-usul itulah, maka kata ‘kitsch’ kemudian berkonotasi sebagai sesuatu yang secara moral berada di wilayah abu-abu atau suatu tiruan atau pantomim estetis yang biasanya dikaitkan dengan upaya untuk menunjukkan status sosial seseorang.

Ilustrasi untuk kata kitsch tentu saja sekarang sangat mudah kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari: rumah-rumah berwajah ala Eropa klasik yang tampak nyeleneh dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya; furnitur ala klasik penuh ornamen, salah ukuran, dan terbuat dari kulit imitasi di rumah-rumah BTN yang sempit; pakaian ala raja, ratu, dan punggawa istana serta ‘singgasana’ dan payung-payung ala kerajaan di pesta-pesta pernikahan (yang jika diteropong dengan jeli akan tampak jelas terbuat dari bahan-bahan imitasi murahan); hiasan-hiasan remeh-temeh keemasan yang sebenarnya terbuat dari bahan plastik PVC. Pendek kata, dewasa ini mungkin nyaris tak satupun hal yang tidak dapat kita temukan kitsch-nya. Semua produk budaya, baik yang bersifat fisik (sebagaimana dicontohkan di atas) maupun non-fisik (seperti tradisi, pertunjukkan seni, musik, dan drama), bisa ditemukan kitsch-nya.

_____

Kitsch sebagai suatu fenomena menjadi menarik ketika para teoretikus seperti Theodor W. Adorno mengangkatnya menjadi sebuah diskursus dan mengemukakan argumen yang secara implisit menganggapnya sebagai semacam kesadaran palsu (false consciousness) yang, dalam pengertian tradisi kritik Marxisme, dimaknai sebagai kesadaran yang lahir sebagai akibat dari struktur kapitalisme yang membuat masyarakat tidak dapat mengenali dengan gamblang apa yang dibutuhkan dan diinginkannya.

Menurut Adorno, kitsch adalah fenomena industri budaya (culture industry) di mana seni diposisikan sebagai karya yang dibuat dan dikendalikan oleh kebutuhan pasar. Pasarlah yang menentukan apa yang disebut seni. Masyarakat hanyalah konsumen yang pasif menerima definisi itu.

Dalam konteks ini, seni kadangkala menjadi sesuatu yang bentuknya bisa jadi tidak mudah dimengerti, tidak masuk akal, absurd, atau tidak koheren. Maka, seni secara umum dapat dikatakan ‘hanya’ berfungsi menghibur dan memberikan tontonan bagi konsumennya. Dalam masyarakat kapitalis, fungsi tersebut penting sebagai alat penindas yang mengalihkan perhatian masyarakat dari keterasingan sosial (social alienation) yang tercipta sebagai akibat dari struktur (dan oleh karena itu juga ideologi) kapitalisme. Maka, bagi Adorno, seni yang sesungguhnya seharusnya tidak memiliki sifat kongkalikong sebagaimana sifat-sifat yang dimiliki oleh kitsch. Ia harus menjadi agen yang memiliki sifat subjektif dan subversif yang mampu menantang dan mempertanyakan penindasan struktur kekuasaan yang bersifat kapitalis.

6 pemikiran pada “Apa Itu Kitsch?

  1. kalo fetism jadi awalan, kitsch adalah akhirannya. dan seperti itulah komoditi dibuat oleh pemodal untuk memenuhi hasrat manusia untuk ‘menuhankan’ benda

  2. Aih… Baru tahu gw kalo “kitsch” itu kosakata ilmiah. Waktu pertama denger kata “kitsch”, gw dengernya dalam konteks santai. Malah, gw pikir artinya kurang-lebih “norak” atau “maksa”.

    Contoh kitsch yang paling sering gw lihat belakangan adalah orang yang beli gadget dengan spesifikasi berlebihan/nggak sesuai kebutuhan. Misalnya: BlackBerry kan sebenernya business phone (bukan “mainan” kayak iPhone atau Android). Image-nya yang punya itu orang yang perlu biasanya businessperson atau orang penting/pekerja yang perlu bisa connected dengan team mereka di tempat kerja, tapi karena dia mobile, meeting sana-sini, dia jadi harus akses email dari BB-nya.

    Cuman kalo di sini kan orang punya BB buat gaul/SocMed/chatting terus kameranya bukan buat foto-fotoin dokumen/properti yang akan ditransaksikan, melainkan buat foto diri sendiri.

    1. Istilah KW tidak secara akurat sepadan dengan “kitsch”. Tidak usah dipaksakan hingga ketemu padanannya. Siapa tahu “kitsch” malah bisa kita serap secara resmi. Kan asyik, kita jadi bisa ber-kitsch-kitsch-an😀

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s