Apakah Semua Perilaku Manusia Bermotifkan Seks? (Bagian Kedua: Eros, Libido, dan Kateksis)


Pada tulisan bagian pertama, saya sudah menjelaskan mengenai Tafsir Mimpi Freud. Sekarang giliran pertanyaan utama yang menjadi judul tulisan ini untuk dijawab:

Apakah semua perilaku manusia bermotifkan seks?

Menurut Freud, ya. Pada dasarnya semua perilaku manusia – termasuk mimpi – bermotifkan seks. Dalam semua model jiwa manusia (model of human psyche) yang dikembangkannya, Freud menempatkan dorongan seks sebagai inti yang menggerakkan perilaku manusia.

Dalam model pertama yang dikembangkannya – yang disebut Model Dinamis – Freud menempatkan eros atau naluri seksual sebagai salah satu dari dua dorongan yang menghuni alam bawah sadar manusia (dorongan lainnya adalah destructive atau aggresive instinct [naluri merusak atau menyerang]). Menurutnya, kedua dorongan itu dapat saling bekerjasama secara harmonis. Namun, keduanya juga dapat saling berlawanan. Keseimbangan dan perseteruan antara kedua dorongan itulah yang memengaruhi perilaku kita.

Karena eros dan naluri merusak atau menyerang itu bersemayam di alam bawah sadar dan tidak maujud (laten), maka satu-satunya cara untuk mengetahui keberadaannya adalah melalui menifestasi keduanya. Manifestasi itu dapat berupa mimpi (yang untuk memahaminya harus melalui proses penafsiran karena mimpi adalah perwujudan distortif dan telah mengalami penyuntingan di dalam pikiran kita) atau kata-kata dan tindakan-tindakan nyeleneh/menyimpang yang kadang-kadang muncul dalam perilaku kita. Freud menyebut keanehan-keanehan itu sebagai parapraxes (parapraksis).

Sebagaimana dalam model pertama, dalam model kedua jiwa manusia yang dikembangkannya – yang disebut Model Ekonomi (Economic Model) -, Freud juga menempatkan dorongan yang bersifat seksual sebagai salah satu kunci perilaku manusia. Kali ini, dia mewadahi teorinya dalam konsep pleasure principle (prinsip kesenangan) dan reality principle (prinsip realitas).

Prinsip kesenganan (PK) adalah istilah yang digunakan Freud untuk menamai dorongan naluriah yang dimiliki manusia untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan seketika tanpa mengindahkan tatanan kesusilaan dan batasan-batasan seksual yang ditetapkan oleh masyarakat. Freud menamakan energi naluriah dan batiniah yang menggerakkan PK sebagai cathexis (kateksis).

Pinsip realitas (PR) adalah lawan dari PK yang oleh Freud digunakan untuk menamai bagian dari jiwa manusia yang mengakui perlunya norma dan aturan masyarakat untuk mengatur dorongan bersenang-senang yang dimiliki oleh manusia. Energi batiniah yang menggerakkan PR oleh Freud disebut sebagai anti-cathexes (antikateksis).

Sama seperti dalam model dinamis, PK and PR adalah dua kekuatan dalam diri manusia yang saling berseteru, dan perilaku manusia dipengaruhi oleh perseteruan itu.

Model ketiga yang dikembangkan oleh Freud adalah Model Topografis (Topographical Model). Dalam model ini, Freud ‘memetakan’ jiwa manusia ke dalam tiga bagian, yaitu the conscious (alam sadar), the preconscious (alam prasadar), dan the unconscious (alam bawah sadar).

Alam sadar (AS) adalah jembatan yang menghubungkan jiwa atau pikiran manusia dengan realitas di luar dirinya. AS mempersepsi dan bereaksi terhadap lingkungan dan membantu pikiran menata realitas yang ditangkapnya. Alam prasadar (PS) adalah gudang yang menyimpan memori yang dapat diangkat ke AS tanpa menyamarkannya dalam bentuk lain. Alam bawah sadar (BS) adalah tempat jiwa manusia menyimpan hasrat dan angan-angan terpendam. Apa yang tersimpan dalam BS ini hanya dapat diangkat ke AS dalam bentuk samaran (seperti mimpi dan parapraksis).

Model topografis ini kemudian disempurnakan oleh Freud menjadi apa yang disebut sebagai Model Tripartit (Tripartite Model) atau Model Struktural (Structural Model) di mana dia memperkenalkan istilah id, ego, dan superego.

Id adalah bagian dari alam bawah sadar (BS) yang bersifat irasional, naluriah, dan tersembunyi. Di sinilah tempat bersemayamnya libido atau energi inti yang menggerakkan seluruh hasrat psikoseksual dan energi jiwa manusia. Dia beroperasi menurut Prinsip kesenangan (PK). Ego adalah bagian jiwa manusia yang rasional, logis, dan sadar – meskipun sebagian besar wilayah kerjanya berada di dalam BS dan berfungsi selaras dengan prinsip realitas (PR).

Di antara Id dan Ego terdapat Superego yang berfungsi sebagai badan sensor yang membuat kita dapat melakukan penilaian kesusilaan menurut pranata sosial. Superego beroperasi menurut prinsip moralitas dan membenamkan hasrat dan naluri yang dilarang oleh masyarakat ke dalam wilayah alam bawah sadar. Superegolah yang membuat kita secara tidak sadar mengembangkan perasaan takut dan bersalah.

Bersambung …

Satu pemikiran pada “Apakah Semua Perilaku Manusia Bermotifkan Seks? (Bagian Kedua: Eros, Libido, dan Kateksis)

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s