Fotografi Propaganda dan Propaganda dalam Fotografi


Ditulis oleh Eki Qushay Akhwan

Membicarakan foto propaganda tanpa menelisik secara cermat pengertian propaganda itu sendiri membuat diskusi menjadi agak tersendat-sendat dan kurang mengarah ke sasaran. Itu kesan yang saya dapatkan saat mengikuti diskusi fotografi yang dikemas dalam program Afternoon Tea di Selasar Sunaryo Art Space Rabu sore yang lalu. Berangkat dari hal itu, saya tergerak untuk membuat tulisan ini.

Apa itu fotografi propaganda atau propaganda dalam fotografi?

Propaganda secara harfiah didefiniskan seperti ini oleh Kamus Merriam-Webster:

“the spreading of ideas, information, or rumor for the purpose of helping or injuring an institution, a cause, or a person”

atau

“ideas, facts, or allegations spread deliberately to further one’s cause or to damage an opposing cause; also : a public action having such an effect”.

Sementara KBBI mendefinisikannya seperti ini:

“penerangan (paham, pendapat, dsb) yg benar atau salah yg dikembangkan dng tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu: — biasanya disertai dng janji yg muluk-muluk;”

Pengertian harfiah itu didukung oleh pendapat-pendapat yang bersifat akademik seperti yang dikemukakan oleh Nelson (1996: 132 – 133), yang menyatakan bahwa propaganda mempunyai sifat sistematik dan bersengaja serta bertujuan memengaruhi emosi, sikap dan tindakan sekolompok orang tertentu demi kepentingan ideologis, politis, atau perniagaan dengan cara menyebarkan pesan sepihak (baik faktual maupun tidak) secara langsung maupun melalui media massa.

Pendapat Nelson itu menambahkan dua dimensi penting yang tidak dirumuskan dalam pengertian propaganda secara harfiah, yaitu kepentingan ideologis, politis, atau perniagaan serta sifat informasi propaganda yang sepihak dan tidak sepenuhnya faktual.

Dengan mengacu pada pengertian propaganda seperti di atas, maka fotografi propaganda, menurut saya, secara lugas dapat didefinisikan sebagai produk fotografi yang diciptakan secara sengaja, sistematik, dan manipulatif dengan tujuan memengaruhi emosi, sikap, dan tindakan odiennya demi kepentingan politis, ideologis, atau perniagaan penciptanya atau kelompok di mana si pencipta itu menjadi anggotanya.

Pertanyaan berikutnya yang muncul atas definisi di atas adalah, karya fotografi seperti apa yang bisa disebut atau digolongkan ke dalam fotografi propaganda?

Saya berkeyakinan bahwa setiap karya foto sebenarnya adalah produk propaganda, karena setiap karya foto pada dasarnya diciptakan dengan sengaja, sistematik, dan manipulatif; memiliki tujuan untuk memengaruhi emosi, sikap, dan tindakan odiennya; serta selalu terdapat kepentingan penciptanya di dalamnya.

Begini penjelasannya:

Foto adalah karya yang diciptakan dengan sengaja. Kehadiran manusia di belakang kamera tidak bisa tidak mengimplikasikan adanya intent atau niat mencipta. Proses penciptaan itu sendiri mengikuti seperangkat gagasan, prinsip, dan prosedur yang terencana (baca: bersifat sistematik). Selain itu, setiap karya foto pada dasarnya bersifat manipulatif karena ia mengambil sepenggal kehidupan dalam satu bingkai yang sengaja dipilih dengan meniadakan atau menyingkirkan elemen-elemen yang tidak dimasukkan ke dalamnya. Manipulasi ini menyebabkan apa yang ditampilkan di dalam foto tidak sepenuhnya faktual – di dalam foto selalu ada fakta-fakta yang disembunyikan atau dipelintir untuk kepentingan penciptanya.

Di luar hal-hal tersebut, setiap foto juga diciptakan dengan tujuan untuk memengaruhi emosi, sikap, dan tindakan odiennya. Sebuah foto narsis yang dibuat oleh seorang remaja, misalnya, dapat menimbulkan emosi, sikap, dan tindakan tertentu bagi odiennya. Teman-teman atau odien si remaja yang melihat foto itu bisa jadi merasa geli, kagum, atau bahkan jijik (reaksi emosional), yang pada gilirannya akan menimbulkan sikap tertentu di dalam diri odien (misalnya: bersahabat, mencintai, atau memusuhi) dan membuat mereka berpotensi melakukan tindakan yang sejalan dengan sikapnya itu.

Lalu di mana letak kepentingan ideologis, politis, atau perniagaan dalam foto-foto pribadi seperti yang dibuat oleh remaja tadi?

Kalau kita meyakini apa yang dikemukakan oleh Marx, bahwa ideologi adalah adibangunan (superstructure) dari suatu peradaban di mana konvensi-konvensi dan kebudayaan yang tumbuh di dalamnya mencerminkan gagasan-gagasan dominan dari kelas yang berkuasa, maka dengan mudah dapat kita pahami bahwa praktik dan produk fotografi yang personal sekalipun selalu mengandung dan dipenuhi oleh kepentingan ideologis, politis, dan perniagaan dari kelas yang berkuasa. Jadi, meminjam salah satu adagium kaum feminis yang terkenal, “the personal is political” (Hanisch, 1970), saya berkeyakinan bahwa praktik dan produk fotografi yang bersifat pribadi pun tidak lepas dari kepentingan-kepentingan ideologis, politis, atau perniagaan si pencipta atau kelompok tempat pencipta tergabung.

Rujukan
Richard Alan Nelson, A Chronology and Glossary of Propaganda in the United States (1996) pp. 232-233

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s