Bahasa Itu Berkata, Berbuat, dan Menjadi(kan)


Kalau ditanya apa fungsi bahasa, kebanyakan kita pasti menjawab ‘untuk berkomunikasi’.

Betul. Bahasa memang mengemban fungsi itu: berkata-kata dan menyampaikan pesan atau maksud.

Tapi sebenarnya fungsi bahasa bukan hanya itu. Bahasa juga adalah perbuatan dan pembuatan. Bahasa memungkinkan kita untuk melakukan perbuatan tertentu dan menciptakan, menjadikan, atau menjadi sesuatu.

Sebagai perbuatan, bahasa memungkinkan kita untuk berjanji, meminang calon istri, membuka rapat/sidang, meresmikan gedung, dan sebagainya. Sebagai pembuatan (penciptaan), bahasa adalah pencipta identitas atau jati diri. Guru, ulama, pengacara, dokter, manajer, insinyur, tukang ojeg dan preman pasar adalah identitas yang diciptakan oleh bahasa. Guru menjadi guru karena dia berbicara bahasa guru (dan berperilaku layaknya guru). Di tempat dan waktu yang lain, individu yang menjadi guru tadi bisa jadi diidentifikasi sebagai tukang ojeg ketika ia berbicara dengan bahasa tukang ojeg (dan berperilaku layaknya seorang tukang ojeg).

Dalam bahasa, berkata-kata, berbuat, dan menjadi adalah tiga serangkai yang tak terpisahkan. Kata-kata seseorang tak bisa sepenuhnya dipahami bila kita tak mengerti apa yang ingin diperbuat oleh orang yang berkata-kata itu (perbuatan) dan peran atau identitas apa yang (ingin) diperankannya dengan kata-katanya itu (siapa [ingin] menjadi apa).

Kalimat “Kamu kelihatan segar!” bisa punya tafsir yang berbeda-beda tergantung identitas si pengujar dan apa yang ingin dilakukannya. Jika ia diucapkan oleh seorang dokter, ucapan itu bisa jadi sebuah penilaian yang bersifat profesional (kamu sudah lebih sehat sekarang). Kalau ia diucapkan oleh seorang kawan yang kebetulan bertemu di kantin, ucapan itu bisa jadi sebuah basa-basi tanda keakraban. Lain lagi kalau ucapan itu disampaikan oleh orang yang tak dikenal di stasiun kereta. Ia bisa jadi dimaknai sebagai ancaman.

Jadi, sekali lagi, dalam berbahasa, kata-kata tak bisa dilepaskan dari perbuatan (apa yang ingin dilakukan dengan kata-kata itu) dan identitas (siapa atau berperan menjadi apa orang yang berkata-kata itu.)

Inilah yang pokok pikiran yang menjadi landasan bagi kajian Analisis Wacana (Discourse Analysis), yang dalam hal ini bisa dimaknai sebagai cara mempelajari perkataan, perbuatan, dan identitas. (Indentitas di sini dimaknai sebagai ‘hal menjadi’ sesuai dengan waktu, tempat, dan tujuan, bukan persepsi kita tentang diri kita sendiri.)

3 pemikiran pada “Bahasa Itu Berkata, Berbuat, dan Menjadi(kan)

  1. Saya ingin menjawab pertanyaan “apa fungsi bahasa” dengan cara yang tidak “kebanyakan” Pak:

    Berdasarkan apa yang saya pelajari di Functional Grammar, bahasa berfungsi sebagai 1) Representasi persepsi pengguna bahasa terhadap apa yang dialami / dipikirkannya (ideational metafunction), 2) media interaksi antara pengguna bahasa (interpersonal metafunction), 3) menghubungkan wacana yang koheren dan saling terhubung (textual metafunction). (Halliday, 1975; Christie dan Unsworth, 2000; Bloor dan Bloor, 1995 dikutip dalam Emilia, 2005)
    🙂

    1. Tambahan yang menarik, Fikri. Tapi jawaban itu bukan jawaban Fikri sendiri ya karena dikutip dari sumber ahli?

      Terima kasih sudah berkomentar.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s