Kau dan Aku Berada Pada Puncak-Puncak Sepi


Kau dan diriku
berada pada puncak-puncak sepi.
Padahal kita tak sendiri.
Di hatiku adamu.
Di hatimu adaku (?) – maaf aku bertanya.
Di tengah kebisingan ini, aku selalu mendengar namamu –
bergaung di relung-relung kosong
dengan tembok-tembok megah yang hampa.
Di pucuk-pucuk dedaunan itu,
tinggi – nyaris menyentuh awan –
kau bilang, kau sepi sendiri.
Padahal doa-doa selalu dilantunkan:
siang malam tiada henti,
mengingatkanmu bahwa kau adalah bagian
dari mereka yang berdoa.
Dari dua dunia yang berbeda,
hati kita telah tertaut –
seperti jari-jari yang tergenggam erat
saat berdoa:
memohon agar kita menjadi kita –
dari diri yang terpisah,
menjadi diri yang tak lagi dua,
tapi satu. Satu saja.
Kini aku harus membagi hatiku
agar sunyi itu tak melekat.
Tapi hatiku sejatinya tetap untukmu,
berharap, kelak dari sunyi yang melekat pada deru sorai
dan hampa yang menyertai doa,
kita akan menjadi kita,
dan hampa sunyi tiada lagi,
karena sesungguhnya, hatiku telah kutinggalkan di antara pucuk dedaunan itu
agar dalam doa-doamu, kusebut aku,
dan agar dalam kehampaan dadaku,
aku dapat selalu mendengar namamu –
di tengah deru
dan bising pilu.

____________________
Eki Akhwan
24 Juli 2011

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s