Formalisme Rusia dan Kritik Baru (Bagian Pertama)


Ditulis oleh Eki Qushay Akhwan

Dalam khazanah kajian sastra, pembahasan tentang Formalisme Rusia (Russian Formalism) hampir selalu disandingkan dengan Kritik Baru (New Criticism)  karena kedua-duanya memiliki kemiripan keyakinan dan pendekatan metodologis dalam mengkaji karya sastra. Kedua-duanya menempatkan form atau bentuk/wujud sebagai inti kajian serta  menggunakan terminologi-terminologi yang mirip satu sama lain. Oleh karena itu, kedua-duanya digolongkan sebagai kritik sastra formalis.

Namun di balik kemiripan-kemiripan itu, kedua aliran kritik sastra itu sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung. Keduanya dikembangkan secara terpisah (paling tidak pada masa-masa awal kemunculannya), meskipun kemudian diketahui bahwa tokoh-tokoh Formalisme Rusia seperti Roman Jakobson dan Rene Wellek pernah terlibat dalam diskusi-diskusi akademik dengan para penganut Kritik Baru di Amerika Serikat pada sekitar tahun 1940an, dan dari interaksi itu beberapa gagasan Formalisme Rusia terefleksikan di dalam prinsip-prinsip Kritik Baru.

Formalisme Rusia

Formalisme Rusia muncul pada sekitar pertengahan dekade kedua abad ke-20. Gagasan-gagasannya muncul dari dua kelompok ilmuwan yang tergabung dalam Lingkaran Linguistik Moskow (Moscow Linguistic Circle) yang terbentuk pada tahun 1915 dan Society for the Study of Poetic Language (OPOYAZ) yang dibentuk pada tahun 1916 di Petrograd. Para ilmuwan itu bersepakat menolak asumsi-asumsi analisis teks yang umum dipakai sejak abad ke-19, terutama yang menganggap bahwa analisis teks dapat dilakukan dengan pendekatan psikologis dan biografis, di mana karya sastra diperlakukan sebagai ekspresi padangan dunia pengarangnya. Sebagai gantinya, mereka dengan tegas menyatakan otonomi sastra dan bahasa puitis serta mengusulkan pendekatan ilmiah dalam penafsiran karya sastra.

Gagasan yang mereka usulkan tersebut dianggap radikal karena untuk pertama kalinya dalam sejarah kritik sastra, sastra diperlakukan sebagai disiplin keilmuan yang mandiri dan bukan sekedar batu pijakan untuk membahas gagasan-gagasan yang berkenaan dengan filsafat atau bidang-bidang keilmuan lain. Karena hal itulah, maka para penggagas Formalisme Rusia dianggap sebagai pendiri kritik sastra modern. Namun karena hal itu jugalah mereka menjadi olok-olok  para ilmuwan lain yang menentang gagasan mereka. Bahkan istilah ‘Formalisme’ sendiri pada mulanya adalah nama ejekan yang diberikan oleh para penentang itu, yang tentu saja ditolak oleh para penggagasnya karena pendekatan metodologis yang mereka tawarkan sebenarnya tidak formal dan dogmatis seperti yang disangkakan oleh lawan-lawan mereka.

Gagasan para Formalis Rusia banyak dipengaruhi oleh bapak Strukturalisme Ferdinand de Saussure, yang gagasan-gagasannya menjadi acuan mereka dalam merumuskan bidang ilmu baru yang mereka usulkan. Seperti Saussure yang menganjurkan bahwa kajian bahasa harus berpusat pada wujud bahasa itu sendiri, para penganjur Formalisme Rusia juga berkeyakinan bahwa kajian sastra haruslah berpusat pada wujud sastra itu sendiri. Mengkaji karya sastra berarti mengkaji poetika (poetics) nya, yaitu menganalisis bagian-bagian form atau bentuk maujud yang menyusun suatu karya sastra, termasuk di dalamnya mekanika internal dan, khususnya, bahasa puitis yang dipakai di dalam karya itu sendiri.

Mekanika internal inilah (yang disebut juga sebagai perangkat atau devices) yang menurut mereka merupakan bangunan yang menjadikan suatu teks berseni dan memiliki sifat sastra. Setiap perangkat atau fitur komposisi memiliki sifat-sifat tertentu yang dapat dianalisis. Analisis atas perangkat literer dan artistik yang dipakai oleh pengarang untuk menghasilkan sebuah teks inilah yang menjadi dasar bidang ilmu kesusasteraan baru yang mereka usulkan.

Perhatian yang diberikan oleh Formalisme Rusia pada bahasa yang dipakai di dalam teks (literariness) ini didasari pada keyakinan bahwa bahasa sastra memiliki karakteristik yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Bahasa sastra mempunyai sifat mengedepankan dirinya sendiri (foregrounding itself) dan menciptakan apa yang disebut oleh Victor Shklovsky (salah satu tokoh utama Formalisme Rusia) sebagai proses pentaklaziman (defamiliarization). Melalui struktur, citraan, sintaksis, pola rima, paradoks, dan perangkat-perangkat lain yang digunakannya, bahasa sastra menciptakan apa yang disebut Shklovsky sebagai “ruang persepsi baru” di mana hal-hal yang lazim dipelintir menjadi tak lazim dan hal-hal lama dipandang dengan kacamata baru sehingga pembaca dipaksa memperlambat pemahamannya atas kata-kata dan objek sehari-hari dan merenungkan kembali citraan yang muncul.

Selain menelaah perangkat-perangkat yang menyusun puisi, Shklovsky juga mencoba menganalisis prosa naratif dan mengemukakan dua aspek penting yang menyusunnya, yaitu fabula (cerita) dan syuzhet (plot). Fabula adalah bahan dasar cerita yang dimiliki oleh pengarang; sedangkan syuzhet adalah perangkat literer yang dipakainya untuk menggubah bahan dasar cerita menjadi plot.

Formalisme Rusia mempunyai sumbangan penting dalam perkembangan kajian sastra dan teori sastra dengan mendefinikan kembali makna teks sebagai suatu kesatuan konvensi dan perangkat literer yang dapat dianalisis secara objektif. Dengan demikian, teks (sastra) tidak lagi dianggap sebagai refleksi atas maksud dan/atau pandangan dunia pengarang, namun sebuah sistem tertutup yang mempunyai hukum-hukumnya sendiri layaknya objek-objek kajian ilmiah lain.

(Bersambung)

3 pemikiran pada “Formalisme Rusia dan Kritik Baru (Bagian Pertama)

    1. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca, Milton. Mungkin harus agak sabar menunggu, karena saya belum ada waktu untuk betul-betul duduk. Tulisan seperti itu kan harus akurat.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s