Definisi Sastra?


Ditulis oleh Eki Qushay Akhwan

Ada sejumlah kata kunci yang biasanya dikaitkan dengan upaya untuk mendefiniskan sastra. Kata-kata itu adalah: representasi, ekspresi, pengetahuan, bahasa puitis atau retorik, genre, teks, dan wacana. Kata-kata kunci itu terefleksikan dalam berbagai pandangan teoretis tentang apa itu sastra.

Bagi sebagian teoretikus, sastra adalah cerminan kehidupan. Karya sastra adalah tiruan tentang apa yang terjadi di dalam kehidupan dan alam semesta. Dalam pandangan ini, sastra mempunyai sifat mimetik (mimetic). Bagi sebagian teoretikus lain, sastra dianggap sebagai cerminan, tapi bukan cerminan kehidupan sebagaimana yang diyakini oleh pandangan mimetik, melainkan cerminan atau ekspresi jiwa pengarangnya. Karena keyakinannya yang demikian, pandangan ini disebut sebagai teori sastra ekspresif (expressive theory of literature).

Selain kedua pandangan itu, ada juga kalangan yang memandang sastra sebagai suatu jenis pengetahuan, kearifan, nubuat, atau wawasan yang menggambarkan realitas eksternal dan internal dan berfungsi sebagai wahana untuk mencapai pencerahan, menyebarluaskan pengetahuan, dan menjernihkan renjana (emosi jiwa). Karena fungsinya yang demikian, pandangan ini disebut sebagai teori sastra didaktik (didactic theory of literature).

Sepanjang sejarah, ketiga pandangan mengenai sastra itu silih berganti mendominasi ufuk sastra. Pandangan mimetik dan didaktik muncul bersamaan dengan kebangkitan peradaban Yunani kuno dan bertahan cukup lama hingga ditantang oleh kaum Romantisis – yang mengedepankan pandangan ekspresif – pada pertengahan abad ke-18 dan kaum Modernis – yang mengedepankan pandangan formalistik – pada awal abad ke-20. Meskipun demikian tidak berarti bahwa pandangan mimetik dan didaktik telah ditinggalkan sama sekali. Kedua-duanya tetap hidup dan mewarnai kancah perdebatan mengenai teori sastra hingga saat ini.

Perkembangan teori sastra sebagaimana digambarkan di atas secara grafis diikhtisarkan dalam sebuah model heristik (heuristic) yang dikembangkan oleh M.H. Abrams (1953), di mana “karya sastra” ditempatkan di tengah-tengah struktur segi tiga yang ketiga sudut luarnya masing-masing ditempati oleh “semesta (universe),” “peseni (artist),” dan “pemirsa (audience)”. Dalam model ini, teori mimetik menekankan hubungan antara karya dengan semesta; teori ekspresif mengedepankan hubungan antara karya dengan peseni/pengarang; dan teori didaktik menekankan hubungan antara karya dengan pemirsa/pembacanya. Menurut Abrams, kebanyakan teori kritik sastra memainkan keempat unsur itu dengan memberikan tekanan pada salah satunya.

Meskipun model yang dikemukakan oleh Abrams sangat bermanfaat untuk mengilustrasikan orientasi teoretis dan memetakan perkembangan historis teori-teori sastra, namun model itu juga memiliki keterbatasan: Ia tak cukup memadai lagi untuk menjelaskan teori-teori sastra yang berkembang setelah periode (?) Modernisme yang telah telah bergerak ke arah kritik budaya (seperti Strukturalisme, Posmodernime, Poskolonialisme, Feminisme, dan Kajian Budaya). Perhatian teori-teori mutakhir ini tidak lagi berpusar di sekitar persoalan mimesis, ekpresionisme, didaktisisme, atau formalisme, namun telah menjangkau hal-hal yang lebih rumit seperti tiruan realitas, nilai dan representasi sosiohistoris dan politis, teknik-teknis retorika dan penggubahannya, serta kebenaran dan pandangan batiniah.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s