Renungan Tahun Baru


Ini malam tahun baru, kata orang. Malam terakhir di tahun 2011. Dalam beberapa jam lagi angka itu akan berganti menjadi 2012. Tahun Miladiyah/Masehi.

Penting?

Bagi banyak orang tampaknya bagitu. Tidak bagi saya. Saya tetap tidak bisa mengerti kenapa pergantian angka bisa membuat orang-orang tiba-tiba seperti kesurupan: berbelanja seperti orang yang hilang ingatan; girang seperti orang kesetanan – meniup terompet, membakar petasan dan kembang api, memenuhi jalanan kota seperti semut yang terbakar sarangnya, membuat kebisingan yang tak alang kepalang.

Bagi saya, suasana seperti itu tak ubahnya seperti suasana bencana – dengan satu perbedaan kecil saja.

Saat bencana terjadi, orang-orang akan tercekam dan ketakutan. Mereka akan mencoba menumpuk persediaan: takut tak ada makanan, takut tak punya pakaian, dan takut dan takut yang lain. Berbelanja melebihi apa yang dibutuhkan dan menumpuk persediaan merefleksikan sikap itu.

Saat bencana terjadi, orang-orang akan panik dan ingar bingar, memenuhi jalanan dan tempat-tempat umum seperti semut yang terbakar sarangnya. Semua orang seperti kehilangan ingatan.

Mirip kan?

Bedanya, perayaan tahun baru – seperti perayaan hari-hari besar lain – menghadirkan ‘kepanikan’ yang tampak riang; sementara pada peristiwa bencana, kepanikan itu mencekam. Tapi kedua-duanya tetaplah sejenis kepanikan.

Seperti pernah saya tulis di sini, tahun baru bagi saya hanyalah sebuah nama, sebuah angka yang ditambahkan pada angka sebelumnya, sebuah cara menghitung  yang diciptakan oleh manusia untuk memahami waktu. Oleh karena itu, perayaan tahun baru tidak punya makna apa-apa kecuali jika melalui perayaan itu kita bisa mentafakuri makna yang dapat kita petik dari berlalunya waktu. Padahal perayaan – pesta – dari wujudnya bukanlah cara yang reflektif untuk memahami sang waktu dan hikmah apa yang diajarkannya kepada kita.

Perayaan –  pesta – seringkali mengedepankan bentuk dengan mengaburkan hakikat. Kita tahu, tahun (nama dan angka) bukanlah hakikat waktu. Tidak ada yang ilahiah dalam angka dan nama tahun. Semua hanya ciptaan manusia. Perayaan pergantian tahun yang kita lakukan telah memperlakukan angka dan nama itu seolah-olah sebagai sesuatu yang ilahiah; seolah-olah detik ke-60 dari pukul 23:59 pada tanggal 31 Desember adalah saat keramat di mana Tuhan menutup tahun lama dan membuka tahun baru sehingga kita yang menjadi saksi atas peristiwa itu berteriak-teriak histeris, bertepuk tangan, dan mengeluarkan aneka jenis kebisingan untuk menyambutnya. Kita lupa bahwa kita sendirilah yang menciptakan ilusi itu.

Kita girang karena sebuah ilusi. Lalu kita lupa hakikat dan hikmah yang ada di balik berlalunya waktu.

Maka,

alih-alih merayakan pergantian tahun seperti orang-orang yang kesurupan, ada baiknya kita renungkan kembali firman Tuhan ini:

”Demi masa.

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr)

Waktu, dalam perspektif ayat Tuhan ini, adalah perbuatan. Dan semua perbuatan selain yang didasari oleh iman dan berwujud kesalehan atau penyebarluasan kesalehan adalah kerugian.

2 pemikiran pada “Renungan Tahun Baru

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s