Menulis dengan Suara Sendiri


Ditulis oleh Eki Qushay Akhwan

Teknik menulis itu bisa diajarkan. Membuat kalimat yang baik itu bisa diajarkan. Membuat paragraf yang baik itu bisa diajarkan. Struktur esai atau cerita itu bisa diajarkan. Tapi kenapa banyak penulis sukses justru tidak berasal dari sekolah bahasa?

Rahasianya – kalau ini bisa dibilang rahasia – adalah karena tulisan yang menarik tidak semata-mata bergantung pada persoalan teknik.

Betul, teknik atau mekanika tulis-menulis bisa membantu menciptakan tulisan yang baik. Tapi baik belum tentu menarik, kan?

Menurut saya, tulisan yang menarik itu formulanya 25:35:40: Dua puluh lima persen masalah teknik atau mekanika tulisan, tiga puluh lima persen isi, dan proporsi yang terbesarnya – empat puluh persen – adalah masalah suara, yaitu siapa yang bertutur dan dengan cara bagaimana. Suara inilah yang membuat sebuah tulisan mempunyai kepribadian, hidup, dan mampu menyapa dan berkomunikasi dengan pembacanya layaknya orang yang sedang diajak bercengkerama oleh seorang individu manusia lain, bukan robot.

Suara sebenarnya bukan sesuatu yang mengawang-awang dan sulit dibumikan. Suara itu ya kamu*), saya, kita, yang diprojeksikan oleh kata-kata, nada dan irama serta gerak tubuh yang kita pakai saat kita sedang mencoba mengungkapkan apa yang ingin kita ungkapkan dengan cara yang biasa kita lakukan (tidak dibuat-buat); cara kita menulis ketika kita tidak diganggu oleh pikiran-pikiran atau perasaan ingin berpura-pura menjadi orang lain; cara kita menulis ketika tidak sedang dipelototi oleh keharusan-keharusan atau orang yang akan menilai tulisan kita.

Coba bayangkan situasi-situasi seperti ini:

Kamu sedang dirundung masalah, pikiranmu penuh dengan kata-kata, dan kamu berbicara dengan diri sendiri. Bahasa seperti apa yang kamu pakai?

Kamu sedang bercengkerama dengan seorang sahabat, menertawakan hal-hal lucu yang baru saja kalian alami. Bahasa seperti apa yang Anda pakai?

Liburan kemarin kamu mengunjungi tempat yang sangat menarik dan ingin menceritakan hal-hal yang menarik tentang tempat itu kepada teman sekelas.  Bahasa seperti apa yang kamu pakai?

Kamu marah-marah karena tetangga kamu memutar musik keras-keras saat kamu sedang belajar untuk menghadapi ujian akhir semester. Bahasa seperti apa yang kamu pakai?

Bahasa seperti apa yang kamu pakai saat kamu sedang tidak berusaha untuk jaim?

Pada saat-saat seperti itulah – pada saat kita berada pada atau didesak oleh “sense of urgency” – kira-kira suara asli kamu muncul. Suara asli ini mempunyai kekuatan yang dahsyat, lebih dahsyat dari gaya dan tata bahasa serta mekanika tulis-menulis yang umumnya didapat dari hasil pembelajaran. Ia bisa menyetir pembaca kamu ke mana pun kamu mau: bertualang mengikuti imajinasi dan perasaan kamu, menjelajah ruang, waktu, dan peristiwa yang ada dalam pikiran kamu. Semua bisa.

Peristiwa kemunculan suara asli ini mungkin apa yang selama ini kita sebuat sebagai momen inspirasi, saat tiba-tiba kita punya dorongan yang begitu kuat untuk menulis, ide mengalir deras, dan kata-kata yang kita hasilkan sepertinya mempunyai kekuatan dahsyat untuk menyapu pembacanya masuk ke dalam gagasan atau imajinasi yang ingin kita bagikan.

Momen seperti itu tidak muncul ketika kita sedang dibebani oleh banyak keharusan, kan? Ia biasanya justru muncul ketika kita sedang bersama dan menjadi diri kita sendiri, sehingga pikiran dan emosi kita terfokus pada menangkap apa yang muncul dari dalam dan apa yang sungguh-sungguh ingin kita ungkapkan atau ingin kita bagikan.

Mengenali suara sendiri adalah langkah pertama untuk bisa menulis dengan suara sendiri. Langkah berikutnya adalah berlatih, mengasah, dan memoles suara mentah itu agar menjadi produk yang mampu memukau pembaca, di blog atau dalam bentuk publikasi lain yang dapat menjadi sumber penghidupan.

Nanti, insyaallah, akan coba saya tulis latihan-latihan seperti apa dan bagaimana cara mengasah dan memoles suara mentah itu menjadi tulisan yang menarik. Nantikan saja tanggal mainnya!🙂

4 pemikiran pada “Menulis dengan Suara Sendiri

  1. Terima kasih sudah berbagi Pak. Hal tersulit yang saya alami terkait hal menulis, dalam hal ini tulisan blog, yaitu menentukan “identitas tulisan” seperti yang dipaparkan pada tulisan Bapak sebelumnya tentang “identitas” blog. Saat ini bagi saya yang belum punya “identitas tulisan” atau “karakter tulisan” hanya menerapkan sebuah judul buku karya salah satu guru “Pokoknya Menulis” dengan tidak copy-paste tentunya. Semoga ini menjadi terapi bagi saya yang baru mulai menikmati aktivitas menulis dan berbagi.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s