Apa Yang Harus Ada Ketika Aku Sedang Menulis?


Ditulis oleh Eki Qushay Akhwan

Apa yang harus ada ketika aku sedang menulis?

Alat tulis, tentu.

Dulu itu pena, pensil, mesin ketik, dan kertas. Tapi itu semua sekarang sudah diganti dengan laptop ini. Ya, kadang-kadang aku masih menulis dengan pena dan kawan-kawannya, terutama kalau aku sedang di jalan dan otakku tiba-tiba gatal. Tapi itu jarang. Laptop dan empuknya papan kunci (tuts?) sekarang terasa lebih enak. Aku sudah jatuh cinta pada papan kunci. Kadang-kadang aku pikir dialah yang sebenarnya membuatku rindu untuk menulis. Cinta dan rindu. Mana ada cinta tanpa rindu? Mana mungkin rindu kalau tak ada cinta, kan?

Kopi?

Iya, itu juga dulu. Sebenarnya sekarang juga aku masih suka kopi. Apalagi kopi yang bercitarasa tinggi. Tapi aku tak bisa terlalu akrab lagi dengannya sekarang. Yaa, sekali-sekali boleh lah. Sekarang aku lebih suka teh. (Hush! Ini bukan karena aku tinggal di Bandung ya!)

Teh kesukaanku: teh melati. (Hihihi … cantik ya?). Lebih spesifik lagi, teh poci yang beraroma melati yang diseduh dengan gula batu dan disajikan panas dari poci lempung. Perpaduan aroma tanah bakar dari si poci, wangi melati, pekatnya teh, dan manisnya gula batu bagiku terasa sangat nostaljik (mungkin ini karena aku dibesarkan dengan minuman seperti ini, yang disajikan setiap hari dari pagi hingga petang di rumah orangtua kami).

Rokok?

Terus terang ini barang laknat yang tak seharusnya aku ungkapakan di sini, apalagi aku banggakan. Tapi apa boleh dikata, rokok memang masih menjadi salah satu sajen yang harus ada ketika aku sedang menulis. Barangkali seperti asap dupa yang mampu memanggil jin dan lelembut, asap rokok juga membantuku memanggil roh kata-kata yang seringkali bersembunyi di balik lipatan-lipatan otakku.

Mudah-mudahan suatu saat nanti – dan percayalah ini cita-citaku – aku bisa bercerai dari si laknat yang telah memberiku kenikmatan tapi sekaligus menjajahku ini. Aku tahu, ia telah membantuku memanggil dan menghidupkan roh kata-kata yang bersembunyi di kolong tempurung kepalaku; tapi tumbalnya adalah tubuhku. Ia pelan-pelan membunuhku. Aku tahu.

Kamus!

Ini barang wajib yang selalu harus ada ketika aku menulis.

Di rumah ada beberapa kamus tebal-tebal yang selalu ada di mejaku. Tapi untungnya sekarang aku tak selalu harus membukanya karena dari laptopku ini aku bisa membuka-buka kamus yang raganya entah  disimpan di mana di dunia maya sana.

Minimal tiga kamus andalanku harus ada ketika aku menulis dalam bahasa Indonesia: Satu kamus ekabahasa Indonesia saja (saya pakai Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI),  satu kamus dwibahasa bolak-balik (Inggris-Indonesia/Indonesia-Inggris), dan satu kamus ekabahasa Inggris saja. Itu karena aku berpikir paralel dalam dua bahasa,  Inggris dan Indonesia, tapi kosakataku dalam kedua bahasa itu tak setimbang. Kadang-kadang aku cuma tahu kata Inggris untuk sebuah konsep yang ingin aku ungkapkan dalam bahasa Indonesia. Kosakata Indonesiaku memang agak payah karena lebih banyak membaca dalam bahasa Inggris (bukan bergaya dan congkak, tapi sungguh ini karena tuntutan profesi saja).

Aku butuh KBBI karena aku orang yang agak perfeksionis. Aku ingin selalu tahu persis medan makna kata yang ingin aku pakai, meskipun kadang-kadang – setelah tahu maknanya – aku juga tak segan-segan memelesetkannya demi kepentingan tulisanku.

Ada banyak cerita menarik dari pergaulanku dengan KBBI ini. Dari dia aku belajar membedakan “carut-marut” dan “karut-marut” (kalian tahu apa bedanya?), dan menemukan kata “renjana” (mungkin kalian pernah mendengarnya, tapi tahukah kalian artinya?). Kata “dirgahayu” ternyata juga banyak disalahartikan. Banyak orang latah menggunakannya tanpa tahu betul maknanya.

Untuk menulis dalam bahasa Inggris, aku seringkali mengistirahatkan KBBI dan menggantikannya dengan:

Tesaurus!

Hihihi … Namanya lucu ya? Seperti dinosaurus. Dulu sebelum mengenalnya aku juga mengira dia itu sejenis binatang purba yang hidup ratusan juta tahun yang lalu dari zaman Triasik hingga zaman Jurasik.

Tesaurus – seperti halnya KBBI ketika aku menulis dalam bahasa Indonesia – membantuku menemukan kata yang maknanya persis aku inginkan dalam tulisanku. Meskipun, lagi-lagi, aku bisa saja memelintirnya kalau aku sudah tahu, demi kepentingan tulisanku.

Tesaurus juga kadang-kadang aku pakai untuk menemukan kata dengan rima yang aku inginkan kalau aku sedang menulis puisi dalam bahasa Inggris, dan untuk menghindari terlalu sering mengulang kata yang sama dalam satu paragraf/tulisan. Tulisan bisa jadi kurang enak dibaca dan membosankan.

Terakhir (tapi bukan berarti tak penting ya), aku pakai:

Mbah Google dan referensi lain.

Yang ini tentu tak perlu kujelaskan apa. Ngecek fakta itu penting! Fakta yang salah bisa membuat kita tampak konyol dan tolol, kan?

Nah, bagaimana dengan kamu? Apa yang harus ada ketika kamu menulis?

3 pemikiran pada “Apa Yang Harus Ada Ketika Aku Sedang Menulis?

  1. yang harus ada: niat.. yang paling penting: koneksi internet soalnya dari sana bisa sekalian nyari ide dan ngecek kata-kata yang mau dipake lewat kamus online, tapi kadang saya emang sengaja pake kata-kata yg kurang tepat, hehehe kalo kopi opsional, rokok nggak, Pak🙂

  2. Sesuatu yang harus ada yaitu ;
    Pertama dan utama yang menggerakkan tangan untuk mengetik adalah Ide, hal abstrak nan penting saat menulis dan untuk mengumpulkan ide yaitu dengan blogwalking atau dari pertanyaan teman-teman.
    sisanya sama kopi, seperangkat komputer, juga Si Cantik Nancy (optional) tapi untuk kamus dan rokok tidak.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s