Autonomy


Autonomy!

Itulah salah satu kata penting dalam resolusi saya tahun ini.

Saya sengaja tidak menggunakan kata ‘otonomi’, yang dalam bahasa Indonesia ternyata berkonotasi politis. Definisi KBBI cuma merujuk maknanya sebagai ‘pemerintahan sendiri’.

Bah!

Padahal dalam bahasa Inggris, kata ‘autonomy’, yang mestinya menjadi sumber pinjaman kata ‘otonomi’ dalam bahasa Indonesia, mempunyai makna yang lebih luas. Salah satunya adalah “self-directing freedom and especially moral independence.” (Sumber: Merriam-Webster Dictionary)

Nah, itulah yang sebenarnya ingin saya capai. Saya ingin memiliki kebebasan (lebih besar) untuk mengarahkan diri saya sendiri, bukan ingin punya pemerintahan sendiri! Saya kan bukan negara atau wilayah!

Kenapa saya ingin punya kebebasan lebih untuk mengarahkan diri sendiri? Apa selama ini saya kurang bebas?

Bebas – saya rasa saya sudah cukup bebas. Kadang-kadang saya malah merasa sudah terlalu bebas. Tapi kebebasan yang sudah saya punyai ternyata belum cukup mampu membuat saya tahu arah.

Kompas yang ada di dalam diri saya sudah terlalu lama terdistorsi oleh magnet-magnet dari luar, sampai-sampai saya tidak bisa lagi membaca “True North” nya. Magnet-magnet yang berseliweran  di orbit saya itu menarik saya ke kiri dan ke kanan tak tentu arah, sampai-sampai saya kehilangan arah dan tak mengenali diri saya sendiri.

Saya itu siapa? Mau ke mana?

Sebulan ini – kurang lebih – saya memberanikan diri untuk memberontak, bertaruh dengan risiko yang cukup besar bagi kemapanan yang sudah telanjur saya nikmati. Saya sedang membetulkan magnet saya. Lebih tepatnya, memagarinya agar tak terlalu berayun kiri kanan mengikuti magnet-magnet lain yang berseliweran di medan orbit saya.

Reparasi itu tampaknya cukup berhasil. Kini saya mulai bisa menemukan titik Utara Sejati kompas batin saya. Dari situ saya bisa menentukan di mana selatan, barat, dan timur. Saya tahu kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan saya yang selama ini saya abdikan dengan cukup sia-sia untuk mengikuti kemauan-kemauan orang-orang dan sistem yang tak selamanya cocok dengan program perangkat lunak yang ditanamkan Sang Pembuat ketika saya dibuat  untuk saya jalankan sebagai misi hidup saya.

Dengan kompas yang sudah melenting ke arah semula jadi (ini padanan bahasa Melayu untuk re– ya?), saya cukup percaya diri untuk mulai menempuh pelayaran jauh yang sudah lama tertunda itu. Dengan kompas itu saya kini menetapkan autonomy sebagai sikap batin yang akan membawa saya ke tujuan yang semestinya.

Saya tidak perlu sesumbar secara eksplisit di sini kan tentang apa yang saya mau, percaya, dan ingin lakukan? Cukup kalau saya bilang bahwa autonomy akan menjadi kata kunci penting dalam resolusi saya tahun ini.

From now on, I’ll be self-directing about what I want to do and achieve. Let time be the judge and my inner-compass and God be my guide.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s