Gundik Puisi


Puisi itu kadang-kadang datang menyergap. Tiba-tiba dan tanpa aba-aba. Dia memang suka begitu. Tiba-tiba saja datang menyergap, mendekap … Lalu dibiarkannya jiwaku meleleh dalam dekapannya.

Aku tak punya pilihan selain pasrah. Kuserahkan jiwaku padanya.

Maka ketika ia bicara, itulah dia. Bukan aku! Dia hanya meminjam jiwaku untuk mengalirkan kata-katanya, ruhnya.

Lalu, setelah dia puas mempermainkanku, dia akan pergi begitu saja. Hengkang tanpa jejak. Aku tersadar dalam lemas, puas; seolah-olah kepuasannya adalah kepuasanku juga.

Aku tak dapat mencarinya di mana. Dia datang begitu saja. Kapan dia mau, di mana dia mau.

Puisi adalah ruh peri cantik dalam raga perkasa. Pria barangkali. Tapi aku tak pernah tahu. Aku cuma tahu, dia cantik. Titik.

Malu aku jadi gundik puisi. Tapi mungkin tak seharusnya aku – karena dalam dekapannya, kematian hanya suri, yang lalu hidup seribu tahun lagi.

Eki Akhwan,

13 Januari 2012

Satu pemikiran pada “Gundik Puisi

  1. Kata ‘tersiratnya” membuat aq sedih. Kalow inspirasi puisi ini sebagian dari realitas mahasiswa UPI. Sedih sekali lagi.Mungkinkah ini gara gara biya kuliah mahal? Semoga aja tidak.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s