Perjalanan


Pagi ini aku mulai dengan membuka ‘catatan-catatan’ lama dari blog pribadiku yang dulu, “Life’s Small Notes” – Catatan-Catatan Kecil (tentang) Kehidupan. (Blog itu sudah aku tutup bagi pembaca umum. Jadi tak ada gunanya juga rasanya kalau aku berikan tautannya di sini.)

Ada beberapa ‘catatan’ menarik yang aku sendiri hampir lupa. Ini salah satunya:

(Aku ingin membaginya di sini, agar ia bisa dibaca oleh semua,  dan agar aku selalu bisa membacanya kembali dan kembali, dan ingat bahwa aku pernah sampai dan singgah pada titik perenungan ini pada suatu masa dalam kehidupanku.)

Perjalanan itu, kawan, tidak dimulai dari satu langkah kecil seperti yang mereka bilang padamu. Ia dimulai – dan hanya bisa dimulai – ketika kau tahu siapa dirimu, di mana kau berada, dan ke mana kau kan pergi.

Jika kau tak tahu siapa dirimu, di mana kau berpijak, dan ke mana kau kan pergi; kau tak kan tahu berapa jarak yang kan kau tempuh, ke arah mana kau kan melangkah, dan apa bekal yang kau perlukan untuk mencapai tujuanmu. Langkah kecilmu hanya kan menjadi langkah gamang yang dipenuhi keragu-raguan.

Ketahuilah siapa dirimu, di mana tempatmu, dan ke mana kau kan melangkah.

Dan kau tak kan tahu siapa dirimu jika kau tak jujur pada dirimu sendiri, menerima dan mengakui dengan lapang hati segala kerapuhanmu. Kalau kakimu pincang, atau matamu rabun, atau kau tak pandai membaca peta; maka kau kan perlu seekor kuda, atau kacamata, atau seorang kawan yang akan membantumu menempuh perjalanan itu.

Dan kau tak kan tahu di mana tempatmu berpijak jika kau tak melihat tanda-tanda di sekitarmu itu: nyiur di sebelah kananmu itu, gubug tempat kau berteduh di sebelah kirimu itu, sungai di belakangmu itu, hamparan padang yang membentang di hadapanmu itu – yang telah memberimu tempat bercanda dengan matahari dan menggali kehidupan … Kenali mereka. Merekalah yang memberi nama bagi tempat itu, asalmu itu. Merekalah yang telah membesarkanmu, memberitahumu nama-nama, membentukmu menjadi dirimu itu. Merekalah yang telah menanamkan rindu itu, pada negeri-negeri di seberang – tampat kau kan membangun rumah barumu -, pada nuranimu, pada kaki-kakimu yang memijaknya siang dan malam.

Dan kau tak kan tahu ke mana kau kan menuju jika kau tak tahu apa yang kau inginkan di sana. Karena ia misteri yang selalu malu dan lari bersembunyi ketika kau mulai mengayun langkah ke arahnya – kecuali jika kau telah mengenali wajahnya dan membuatnya tersenyum dengan menunjukkan wajahmu dan mempersembahkan sesaji dari rerumputan, dan bunga, dan embun, dan tanah dari tempat yang kini  kau pijak.

Berdamailah dengan dirimu.

Berdamailah dengan asalmu,

dan rindukanlah sang nun dengan sepenuh yang kau tahu –

lalu  melangkahlah:

Perjalanan itu milikmu!

Kawanmu,
Eki Qushay Akhwan,
24 September 2010

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s