Rupiah di Miami!


Ini bagian ketiga dari My American Stories. Bagian kedua ada di sini.

Kami tiba di MIA (Miami International Airport) sekitar pukul delapan malam, 33 jam! sejak kami berangkat dari Jakarta. Anehnya, tidak sedikitpun saya merasa lelah atau ngantuk. Padahal selama perjalanan, saya mungkin cuma tidur tiga atau empat jam. Mungkin karena saya sangat girang dan menikmati perjalanan itu. Mungkin juga karena mabuk pascaterbang (jet lag): kalau saya tidak ke mana-mana dan tetap tinggal di Jakarta atau Bandung, saat saya tiba di MIA itu mestinya jam delapan pagi. Jadi, jam di tubuh saya mengatakan, ini saatnya beraktivitas. Bukan tidur!

Urusan-urusan rutin di bandara rasanya tak cukup menarik untuk diceritakan. Di mana-mana sama saja, kan? Keluar pesawat, menunggu dan mengambil bagasi di ruang pengambilan bagasi, blah … blah … blah … blah!

Saat menunggu dan mengambil bagasi itu, saya cuma khawatir tentang satu hal: uang! Ya, uang yang pecahan $100 itu. Bagaimana nanti saya akan membayar taksi atau bis yang akan membawa kami ke kota? Jangan-jangan mereka juga tidak mau menerima pembayaran dengan uang $100-an itu. Padahal, saya dan kawan saya sama sekali tidak punya uang receh! —  Maklum juragan kampung!🙂

Di tengah kebingungan itu, keajaiban tiba-tiba datang. (Alhamdulillah ya, sesuatu banget!)🙂 Di antara ruang klaim bagasi dan pintu keluar, sudut mata saya melihat tempat penukaran uang. Di depan jendela kaca money changer itu terpampang besar-besar mata uang apa saja yang dapat ditukarkan di sana. Salah satunya adalah … IDR.

Rupiah!!??

Hampir saja bola mata saya meloncat dari kantongnya. Sama sekali saya tidak menyangka bahwa rupiah, mata uang yang seringkali dipandang sebelah mata justru karena angkanya yang besar-besar itu, ternyata masih diakui di tempat yang jauhnya setengah keliling bumi dari tempat asalnya ini.

Saya langsung ingat bahwa di dompet saya, selain dolar yang nyaris tak bisa saya pakai untuk membeli apa-apa karena nominalnya yang besar, saya masih membawa rupiah. Ada sekitar satu juta, yang entah kenapa tidak saya konversikan ke dolar sampai naik ke dalam pesawat di Jakarta. Uang itu adalah sisa bekal yang saya persiapkan dari Bandung untuk biaya-biaya selama menunggu di Jakarta sebelum keberangkatan ke Amerika.

Saya tukarkan semua rupiah saya  – yang nominal besar. Secara spesifik, saya minta kepada petugas di balik jendela kaca itu untuk memberi saya recehan $5, $10, dan $20 saja.

Ini foto saya dan kawan-kawan peserta Fulbright Orientation Week yang berasal dari seluruh penjuru dunia di Pelabuhan Miami, tempat bersandarnya kapal-kapal pesiar mewah, ketika kami melakukan wisata kota. Saya berbaju kuning di tengah belakang.


Ada beberapa pilihan kendaraan umum untuk keluar dari MIA ke kota Miami. Kami memilih Super Shuttle – layanan van ulang-alik yang tarifnya $20 per orang. Ini jauh lebih murah daripada naik taksi yang mungkin akan dikenai ongkos $50 sampai $60 sekali jalan, sebelum tip. (Tip ini hukumnya wajib di Amerika. Minimal 10 persen dari pokok biaya yang kita bayarkan untuk layanan apapun. Kalau tidak, seperti pernah saya alami dan nanti akan saya ceritakan, kita bisa kena damprat!)

Sopir van yang kami naiki ternyata orang Mesir Amerika, dan mengaku bisa berbahasa Indonesia.

What?

Saya dan teman saya, anak pesantren yang tadinya sudah mencoba mengajak dia berbicara bahasa Arab, kontan kaget. Kami uji. Ternyata betul, dia bisa berbahasa Indonesia, meskipun cuma sedikit-sedikit. Bahasa Indonesia Tanah Abang!

Halaaahhh …! Ternyata Miami tak jauh-jauh amat dari Pasar Tanah Abang!

Hari pertama di Amerika ternyata kami justru tidak “bertemu” bule yang seringkali diasosiasikan dengan orang Amerika oleh kalangan awam di tanah air. Amerika yang kami jumpai hari itu adalah Amerika yang multikultural. Mosaik dari berbagai bangsa yang ada di dunia.

Selain kejutan-kejutan tadi, hal yang pertama saya rasakan ketika akhirnya van yang membawa kami masuk ke Kota Miami adalah suasananya. Sangat tropis! Percaya atau tidak, saya merasa seperti berada di Bali, tempat yang pernah saya tinggali selama dua tahun karena pekerjaan saya. Tentu saja tidak ada umbul-umbul janur, pura, atau patung-patung khas Bali di sana. Hanya atmosfernya saja yang saya rasakan seperti itu.

Satu pemikiran pada “Rupiah di Miami!

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s