Terapi Menulis


Tahu tidak kalau menulis itu bisa menjadi obat?

Saya tidak begitu menyadari itu, sampai suatu ketika saya membaca sebuah artikel di sebuah koran yang mengungkapkan pengakuan mantan Presiden B. J. Habibie.

Beliau mengatakan,  buku “Habibie & Ainun,” yang ditulisnya setelah Bu Ainun wafat, adalah hasil dari salah satu pilihan terapi yang disarankan oleh dokternya untuk mengatasi penyakit-penyakit yang dideritanya akibat ditinggal pergi sang istri tercinta. Pilihan lain yang ditawarkan dokter itu adalah: mencari teman curhat, atau masuk rumah sakit untuk mendapatkan perawatan profesional.

Dahsyat, kan?

Menulis bisa menjadi pilihan pengobatan yang setara dengan perawatan rumah sakit!

Saya jadi ingat, dulu – waktu pertama merasakan jatuh cinta dan ditolak (huuu …, curhat nih!) – saya mencurahkan seluruh perasaan dan hati saya yang luluh lantak tak beraturan di atas kertas: saya menulis, menulis, dan menulis!

Sekarang mungkin saya akan malu, geli, atau tersenyum-senyum sendiri kalau membaca sajak-sajak dan surat-surat cinta yang tak terkirim itu. Tapi, waktu itu, saya sungguh tak punya pilihan lain. Curhat dengan orangtua atau teman, takut diolok-olok. Dipendam sendiri, dada terasa sesak, takut meledak dan jadi gila. Menulis diam-diam menjadi satu-satunya pilihan yang bisa membuat beban saya terasa lebih ringan.

Sampai sekarang pun, kalau saya menghadapi masalah yang sangat berat, saya biasanya menulis – di buku harian, atau di blog. Tentu yang saya tulis di buku harian tidak sama dengan yang saya tulis di blog. Di buku harian, saya bisa menulis apa saja. Bebas! Tidak ada beban rasa takut atau malu. Saya merdeka menelanjangi diri sendiri karena tidak ada yang menonton. Di blog, saya menulis dengan majas dan kias, lewat puisi atau fiksi.

Saya yakin, banyak di antara kalian yang juga seperti itu. Bahkan, kalau kalian jeli, kalian bisa lihat bagaimana Facebook dan Twitter penuh dengan ungkapan-ungkapan curhat dan keluh-kesah yang – menurut saya – sangat, sangat personal dan intim. Bagi teman-teman kita itu (dan barangkali kita sendiri), Facebook dan Twitter adalah obat sakit jiwa yang kalau tidak diminum sehari saja, bisa menyebabkan penyakit sarapnya kambuh.🙂

Nah! Daripada membuat coretan-coretan pendek yang tak jelas di situs-situs blog mikro seperti itu, apa tidak lebih baik kalau kita mencurahkan perasaan dan kegalauan kita dalam tulisan yang jelas dan bernas?

Menulis bisa membuat kita lebih sehat. Sebuah tulisan yang saya temukan di sini menunjukkan bahwa menulis bisa membantu kita “mengatasi stres, mengurangi gejala-gejala penyakit jasmani tertentu, memperkuat kesadaran diri, mengurangi perasaan gelisah, dan mengembangkan citra diri yang lebih baik.”

Lewat menulis, kita bisa mengenali diri kita sendiri dengan lebih baik: Siapa kita, apa kekuatan dan kelemahan kita, apa mimpi dan obsesi-obsesi kita, dan sebagainya. Menulis adalah menempuh perjalanan mengarungi alam bawah sadar kita, menggali emas dan mengail sampah-sampah yang mengotorinya dan membawanya ke luar, ke alam sadar, sehingga kita bisa memeriksa dan menyusunnya kembali menjadi bentuk-bentuk yang lebih baik, bentuk-bentuk yang lebih kita inginkan.

Menulislah! Maka kau akan menjadi pribadi yang lebih baik!

2 pemikiran pada “Terapi Menulis

  1. Membaca post Bapak mengingatkan saya pada prosa-prosa pendek dan absurd yang sering saya tulis di buku harian😀. Suka ketawa sendiri membacanya😀

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s