Perjumpaan Pertama Dengan Si Thank You


Ini bagian keempat dari seri My American Stories. Bagian ketiga, ada di sini.

Hari sudah agak gelap ketika van sampai di kampus Florida International University (FIU), tempat kami akan menjalani orientasi akademik. Kami akan tinggal di sana selama empat hari. Setelah itu, masing-masing orang akan berangkat ke kampusnya masing-masing di sepanjang Pantai Timur dan Midwest Amerika. Saya sendiri nanti akan bertolak ke Negara Bagian Pennsylvania, ke sebuah kota kecil yang namanya besar dan suci: Bethlehem!

Selama di FIU, kami dirumahkan di University Park Towers, dua gedung asrama mahasiswa berlantai sepuluh yang selama liburan musim panas memang kosong (tepatnya: wajib dikosongkan) karena para mahasiswa pulang ke kampung halamannya masing-masing, atau bekerja di luar kampus. Saya ditempatkan sekamar dengan empat orang dari Amerika Latin dan Eropa. Saya tidak ingat lagi nama-nama dan dari negara mana saja mereka berasal karena perkenalan kami cuma sepintas. (Selama orientasi mereka berada di kelompok yang berbeda dengan saya.)

Malam Pertama di Amerika.

Ada peristiwa menarik yang sebenarnya saya sudah agak lupa. Untung Neny, anak Salatiga, teman baik saya, mencatat peristiwa itu dengan cukup detil di blognya. Jadi saya bisa ingat lagi peristiwa itu. (Thanks, Neny!).

Malam itu, saya lapar luar biasa. Ingat kan, saya sudah ‘puasa’ sejak mendarat di Amerika tadi pagi? Jadi, agenda pertama saya setelah menyimpan koper dan tas di kamar adalah: makan!

Tapi, alamaaaak! Hari sudah terlalu malam. Semua kantin dan dining hall di kampus sudah tutup. Apalagi ini musim panas. Kampus sepi — “kayak kuburan,” kata Neny. Jadi kantin pun tak buka full time. Mau keluar kampus juga tak tahu jalannya. FIU cukup besar dan – rasanya – cukup jauh dari permukiman penduduk dan pertokoan. Tadi, saat mengantar kami, si sopir van pun – yang mestinya cukup tahu seluk beluk kota Miami – harus bertanya dua kali untuk menemukan gerbang kampus dan membawa kami ke gedung yang dituju. Apalagi kami yang baru datang.😦

Saya dan Usep, si anak pesantren – dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pasrah. Tapi Neny – si wonder woman, demikian saya menyebutnya – punya ide ajaib. “Makan indomi aja, Kang! Gue bawa tuh!”

Tiing! Dasar bolot! Saya baru ingat kalau saya juga bawa mi instan dan … panci listrik! (Kayak emak-emak ya? Hehehe …)

Kami segera buru-buru kembali ke kamar: saya ke kamar saya, Neny ke kamarnya untuk mengambil mangkok, sendok, dan mi instannya. Tapi, lagi-lagi, nasib buruk menimpa kami. Saya lupa kombinasi angka gembok yang saya pasang di kopor saya. Saling berpandangan, kesal, kami akhirnya cuma bisa tertawa! Menertawakan nasib!  Menertawakan diri sendiri!

Malam itu akhirnya kami memutuskan untuk mengatasi rasa lapar kami di vending machine (mesin jual otomatis). Terus terang saya tidak ingat betul apa yang saya beli. Tapi menurut Neny, kami membeli muffin dan susu kotak. Ini pengalaman pertama Neny menggunakan vending machine. Jadi saya terpaksa mengajarinya. Dulu, waktu ikut pertukaran pemuda ke Jepang, saya sering menggunakan vending machine untuk membeli segala rupa di Tokyo: rokok, mi, kopi.

Selesai makan dan ngobrol sebentar di koridor taman yang terletak di antara menara asrama, kami kembali ke kamar masing-masing untuk mencoba tidur. Saya tidak bisa tidur sampai menjelang pagi. Akibat jet lag, jam di tubuh saya mengatakan hari masih siang, waktunya untuk beraktivitas; padahal waktu setempat menunjukkan  hampir pukul 02:00 pagi.

Suasana diskusi kelompok di FIU.

Hari berikutnya suasana sudah mulai normal. Pagi, sebelum kegiatan resmi dimulai, kami mendapat bekal – jatah uang makan selama empat hari. Setelah itu, kami mulai mengikuti berbagai simulasi kehidupan akademik di kampus Amerika: mengikuti kuliah, berdiskusi, bekerja kelompok, belajar menggunakan perpustakaan dan segala fasilitas pendukungnya, belajar membuat makalah, dan lain-lain. Tidak ada yang baru sebenarnya. Cuma fasilitasnya saja yang terasa lebih wah dibandingkan dengan yang selama ini kita kenal  di tanah air.

Makan Siang

Makan siang pertama di FIU adalah makan siang yang paling berkesan selama di Miami. Pertama, karena sudah berpuluh-puluh jam saya tidak cukup makan. Terus terang, saya mulai rindu nasi dan lauk-pauknya. Kedua, di sinilah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan si Thank You.

Untuk makan siang, kami diarahkan ke Graham Center Food Court, tempat makan terdekat dari gedung tempat kegiatan berlangsung. Mula-mula saya tidak mengerti kenapa tempat makan di dalam kampus itu diberi nama Food Court, bukan kantin atau dining hall layaknya sebutan tempat makan di kampus. Setelah sampai di tempat itu, barulah saya mengerti kenapa namanya food court – istana makanan.

Tempatnya memang seperti istana makanan di mal: cukup besar dan banyak pilihan. Ada Burger King, Subway, Pollo Tropical, Sushi Maki, Cafe Bustello, Einstein Bros Bagels, dan sederet nama-nama lain yang terasa cukup asing di telinga saya waktu itu.

Sasaran pertama saya tentu saja nasi! Saya tak peduli apa namanya. Yang penting ada nasi! Karena alasan itulah, pilihan saya jatuh pada Pollo Tropical (baca: poyo tropikal) – restoran yang menyajikan nasi, ayam bakar, dan lauk pauk lainnya yang dimasak ala Amerika Latin (Kuba?).

Kesan pertama ketika  menerima makanan yang saya pesan – setengah ekor ayam, nasi, dan lauk-pauknya – adalah: Wow! Besar sekali porsinya! Waktu itu saya tidak tahu bahwa itulah porsi normal untuk orang Amerika. Tapi dasar sudah kelaparan, habis juga porsi abnormal yang nyaris dua kali lipat porsi yang biasa saya makan di Indonesia itu.

Selesai makan, saya melihat orang-orang mengangkat dan membawa baki yang berisi sampah dan sisa makanannya ke kotak yang bertulisan Thank You. Sampah dimasukkan ke lobang yang mirip laci berjendela di sisi depannya, dan bakinya ditaruh di atas kotak itu. Rapih!

Itulah perjumpaan petama saya dengan Si Thank You. Berbeda dengan food court-food court di tanah air, di mana orang serba dilayani, bahkan untuk membuang sampah bekas makannya sendiri, di Amerika orang diharapkan membereskan sendiri bekas makannya.

Ah, Thank You. Untung aku jeli melihat orang-orang itu “memberi contoh”. Kalau tidak, malulah aku, membawa-bawa kebiasaan dari tanah air.

5 pemikiran pada “Perjumpaan Pertama Dengan Si Thank You

  1. Sama Pak dengan di Tokyo, waktu itu saya terpaksa makan di KFC karena gak ada restoran yang dekat, dan udah kelewat lapar, bekas makan kita harus ditata sendiri, tulang-belulang, plastik, gelas, es, baki, keranjang, harus ditata sedemikian lupa. Meski gak bisa baca tulisan kanjinya, tapi memperhatikan sekitar 5 orang yang melakukannya sebelum saya, alhamdulillah lancar dan gak kena semprot mulut jepun😀

  2. Kalo di kopma BS mungkin kali ya Pak di sediain “thank you”?. Saya jadi inget tagline Indomie “Ini ceritaku mana ceritamu”, tapi sayang, indomienya tidak jadi dimasak.🙂

    ditunggu kelanjutan ceritanya ya, Pak.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s