Pembunuh Kreativitas!


Tadi malam saya jalan-jalan di ruang maya, dan menemukan kutipan ini:

‘Creativity needs freedom – freedom from the mind, freedom from knowledge, freedom from prejudices.’

Osho, Creativity: Unleashing the Forces Within

‘Kreativitas perlu kebebasan – kebebasan dari pikiran, kebebasan dari pengetahuan, kebebasan dari prasangka.’ Kira-kira begitu terjemahannya.

Saya terhenyak sejenak.

Sudah cukup lama saya mencurigai ketiga hal yang disebutkan dalam kutipan itu (pikiran, pengetahuan, dan prasangka) sebagai pembunuh – peredam – kreativitas. Jadi, kata-kata itu terasa betul seperti sebuah gong yang memberi titik henti, sebuah kepastian, pada sebuah kecurigaan yang selama ini mengawang-awang dalam pikiran saya.

Saya yakin, bukan cuma saya yang punya kecurigaan semacam itu. Orang-orang yang selama ini berkecimpung dalam dunia kreatif – seniman/wati, pujangga, penulis, fotografer, pelukis – barangkali juga mempunyai syak wasangka yang sama dengan sangkaan yang saya rasakan.

Saya merenung, sejurus, mencoba menelusuri kembali pikiran-pikiran dan pengalaman yang telah melahirkan persangkaan itu.

Kreativitas adalah mahluk bebas yang lahir bersama kita. Kita sama bebasnya dengan kreativitas ketika lahir. Oleh karena itu, waktu kecil dulu kita akrab dengannya. Ia seperti teman sepermainan gaib yang selalu menyertai kita kemanapun kita pergi. Bersamanya, kita melihat dunia dengan cara kita sendiri: kotak pasir menjadi gunung dan kota, rumah dan jalan; lidi menjadi manusia yang hidup dan berbicara; pelepah dan daun menjadi kuda, perahu, mobil, senjata dan mahkota; parit di depan rumah menjadi sungai yang membawa kita berpetualang ke seberang benua. Bersama kreativitas, tak ada yang tak mungkin di dunia kecil kita.

Sekarang semua itu nyaris tak ada. Ke mana perginya?

Kreativitas meninggalkan kita ketika kita menjadi semakin akrab dengan dunia dewasa yang penuh aturan dan batasan. Kreativitas meninggalkan kita karena dia telah merasa diabaikan, karena dia merasa kita telah menemukan teman-teman baru yang akan menemani dan menjaga kita. Maka diapun pergi. Sedih, sahabat yang menjadi kembarannya sejak lahir, tak lagi sudi berteman dengannya. Ia pun menyepi, menyendiri. Sementar kita – girang dalam riuhnya dunia – melupakannya, dan tak lagi menjadi mahluk yang punya mimpi-mimpi sendiri; hanya mimpi-mimpi yang disuapkan kepada kita lewat imaji-imaji fatamorgana: semakin kita kejar, semakin jauh dan tak ada.

Untuk menjadi kreatif, kita harus rela menjadi anak kecil lagi, sesekali hidup di dunia kecil kita lagi, menyambangi sahabat kecil kita – sang kreativitas – lagi dan bermain lagi bersamanya, dan melihat dunia dengan mata kecil kita lagi.

Untuk menjadi kreatif, kita harus rela untuk belajar lagi. Bukan belajar seperti yang kita lakukan untuk menjadi dewasa seperti yang kita lakukan dulu, tapi belajar untuk sesekali melepaskan keyakinan-keyakinan dan prasangka-prasangka yang telah menyempitkan pandangan dan ruang gerak kita. Kita harus sudi keluar dari kotak-kotak pengetahuan yang telah membuat kita nyaman hidup di dunia dewasa. Dalam kata-kata Osho, penulis yang saya kutip di atas, “kita harus terus belajar tanpa pernah menjadi tahu sepenuhnya.”

Untuk menjadi kreatif, kita tak boleh takut bermimpi, berimajinasi, dan menerobos apa yang telah berterima dan dianggap wajar; kita harus berani menjadikan apa yang dianggap normal menjadi aneh – apa yang disebut oleh para penganjur Formalisme Rusia dan sejumlah kritik seni dan sastra sebagai defamiliarization.

Untuk menjadi kreatif, kita harus dapat menemukan misteri dan keajaiban dalam hal-hal yang mundane – hal-hal yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan cara-cara itulah kita bisa mengusir si pembunuh kreativitas, dan berteman lagi dengan kembaran dan sahabat kita ketika kita lahir dulu, ketika kita kecil dulu: Kreativitas.

__________

CatatanOsho, atau Bhagwan Shree Rajneesh (1931 – 1990), adalah guru spiritual asal India yang ajaran-ajarannya sangat kontroversial bagi banyak orang. Meskipun saya mengutip kata-katanya perihal kreativitas ini, saya bukan simpatisan ajaran-ajarannya.

5 pemikiran pada “Pembunuh Kreativitas!

  1. iya. ada benarnya juga. tapi sepertinya kreatifitas takkan meninggalkan kita,tapi kita butuh keberanian agar dia menemani kita lagi. saat ini kita jarang memakai kreatifitas karena terpaku oleh aturan2 yg kita tau itu menjenuhkan tapi tetap kita lakukan tanpa berani mencoba hal2 lain. bgitu kali ya pak…hehe

  2. baca tulisan ini, saya ngerasa emosional. seakan kreatifitas itu memang pernah menemani saya sebelumnya dan skr kembali ingin menemukannya.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s