South Beach, Tukang Semir, Dan ‘It’s The Law!’!


Ini bagian kelima dari serial My American Stories. Bagian sebelumnya ada di sini.

Empat hari di Miami berlalu sangat cepat. Banyak hal-hal yang menyenangkan – dan menakjubkan – kami alami di sana. Menyenangkan, karena di sela-sela acara resmi yang akademis, kami sempat dimanjakan bak turis: diajak jalan-jalan keliling kota (city tour) dan ditraktir di restoran-restoran berkelas; menakjubkan, karena banyak hal yang kami lihat dan rasakan di sini adalah pengalaman baru.

Di antara tempat-tempat yang sempat kami singgahi di acara wisata kota, South Beach barangkali adalah tempat yang paling berkesan. Di sana kami berhenti cukup lama, dan diberi kesempatan untuk berjalan-jalan sendiri. Tempat-tempat lain agak kurang berkesan karena kami hanya duduk di dalam bis dan mendengarkan cerita dari pemandu wisata. Kalaupun turun, hanya sebentar.

Mengunjungi Miami tanpa singgah ke South Beach tak ubahnya seperti melancong ke Bali tanpa ke Kuta atau Sanur, karena boleh dibilang, South Beach inilah pusat atraksi wisata utama di kota Miami.

Di Ocean Drive, jalan yang membentang sepanjang pantai ini, kita dapat menikmati warisan gedung-gedung Art Deco seperti yang juga banyak dimiliki oleh Kota Bandung. (Bandung dan Miami adalah dua di antara sejumlah kota di dunia yang paling banyak memiliki warisan bangunan bergaya arsitektur ini.) Selain itu, South Beach juga dikenal sebagai tempat bermainnya kalangan jet set. Dalam hal yang satu ini, konon statusnya tak kalah dari Monaco atau Paris, sehingga lokasi ini sering dijadikan seting pembuatan film-film Hollywood. Bagi generasi saya, ingatan pertama tentang South Beach adalah dari film serial detektif “Miami Vice”, yang tayang di TVRI sekitar akhir tahun 1980-an, kalau tidak salah.

Makan malam (sore) di Ocean Drive, di depan Hotel Colony.

Ada dua hal yang paling saya ingat dari pantai ini. Yang pertama, makan malam di pinggir jalan di depan Colony Hotel  sambil menyaksikan turis-turis yang berseliweran dalam pakaian bikini yang aduhai. Yang kedua – dan sebenarnya ngga penting-penting amat karena saya bukan penggila selebriti – adalah berpose di depan rumah mendiang Gianni Versace, persis di trotoar tempat dia ditembak mati oleh Andrew Cunanan sepulang dari minum kopi dan jalan-jalan pagi pada tanggal 15 Juli 1997. Rumah itu kebetulan terletak hanya beberapa puluh meter dari restoran tempat kami bersantap malam, sore itu.

Di depan rumah Gianni Versace.

Ke Bethlehem!

Hari keempat, pagi tanggal 15 Agustus  2003, saya bersiap berangkat ke Bethlehem, tempat saya akan kuliah, lewat Philadelphia, ibu kota Negara Bagian Pennsylvania.

Tidak ada yang menarik untuk diceritakan selama perjalanan yang hampir enam jam itu. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya sudah makan cukup sebelum berangkat, dan membeli bekal secukupnya untuk di perjalanan. Jadi, saya tidak kelaparan lagi.

Tukang Semir Sepatu  dan It’s The Law!

Pesawat tiba di Philadelphia sekitar pukul dua siang. Untuk sampai di Bethlehem, saya seharusnya  naik pesawat lagi ke Lehigh Valley International Airport di Allentown, kota terdekat dari Bethlehem. Tapi siang itu, entah kenapa, keberangkatan pesawat dibatalkan. Sebagai gantinya, kami akan dibawa dengan menggunakan bis.

Saya agak cemas. Bukan karena harus naik bis itu, tapi karena satu koper saya tidak juga muncul di ruang klaim bagasi sampai semua bagasi untuk penerbangan yang saya naiki dinyatakan habis. Setelah konfirmasi sana sini dengan pihak perusahaan penerbangan, akhirnya saya mendapat receipt – surat yang menyatakan bahwa bagasi saya nyasar, dan akan diantarkan ke alamat jika sudah ditemukan. Saya belum punya alamat. Jadi saya bilang saja kepada mereka untuk mengantarkannya ke alamat universitas.

Di ruang tunggu, saya didekati oleh seorang remaja tanggung berkulit hitam, African American. Mula-mula saya tidak mengerti apa yang diinginkannya. Tampaknya dia seorang anak tunagrahita. Tapi dengan bahasa isyarat dan menunjukkan perlengkapan yang dibawanya, akhirnya saya tahu dia menawarkan jasa semir sepatu.

Kasihan, saya bertanya, “How much?”

Dia bilang, “Twelve dollars.”

Saya tidak tega menolaknya. Maka disemirnyalah sepatu butut saya. Barangkali inilah jasa semir sepatu termahal yang pernah saya gunakan. Ironis juga, soalnya sepatu itu saya beli di Cibaduyut cuma seharga dua ratus lima puluh ribu rupiah atau sekitar dua puluh lima dollar saja. Ongkos jasa semirnya nyaris setengah dari harga baru sepatu itu!

It’s The Law!

Tak lama kemudian petugas perusahaan penerbangan memberi tahu bahwa bis ke Allentown sudah menunggu. Saya bergegas menuju ke pelataran parkir dan naik dengan satu kopor besar, satu tas jinjing, dan satu ransel. Kopor masuk ke bagasi, sementara tas jinjing dan ransel saya bawa masuk ke dalam bis karena ada kamera dan barang-barang berharga lain.

Di bis inilah, untuk pertama kalinya, saya merasakan apa artinya hukum bagi masyarakat Amerika.

Terbawa kebiasaan dari Indonesia, saya meletakkan tas di sebelah sopir di dekat jendela depan. Dia langsung menegur saya dengan isyarat tangan dan suara yang agak keras, “You can’t put ’em there!”

Mungkin karena terlalu lama saya membenahi tas dan berdiri di ambang pintu di atas tangga masuk, dia membentak saya, “Get in! BY THE LAW, I can’t move the bus until you step pass that white line!”

Dugg!!!

Di bis itu, di atas tangga setelah pintu masuk, ada garis putih. Rupanya itulah wujud hukum di bis itu, hari itu. Sopir dilarang untuk menjalankan bisnya sebelum penumpang melewati garis itu. It’s the law!

Saya malu.

Di mata saya, ketaatan sopir itu pada hukum sungguh luar biasa. Saya ingat, betapa nyawa manusia tidak lebih berharga dari kambing dan ayam di negeri sendiri. Bagaimana di bis kota, penumpang tak hanya terpaksa naik sampai di pintu, tapi juga bergantungan di luar pintu. Mereka harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk bisa sampai ke tempat tujuannya.

“By the law!” Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di telinga dan sanubari saya. Bukan karena saya dibentak oleh sopir yang tak saya kenal di negeri orang itu, tapi karena bentakannya itu adalah suara hukum yang ditegakkan; suara negara yang melindungi keselamatan rakyatnya.

Kapan nyawa penumpang bisa seberharga itu di negeriku? Kapan hukum bisa tegak seperti itu di negeriku? Bukan cuma karena takut oleh aparat atau polisi, tapi karena semua orang sudah mengerti, bahwa hukum ada untuk melindungi kepentingan manusia dari perbuatan sesamanya.

Kapan?

4 pemikiran pada “South Beach, Tukang Semir, Dan ‘It’s The Law!’!

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s