Dosen Juga Manusia!


Gara-gara “Rockers Juga Manusia”-nya Seurieus Band, sekarang siapa saja bisa ngomong “blah blah blah blah juga manusia”.

Saya juga manusia. Kebetulan saja saya dosen.

Sama seperti manusia-manusia lain, saya juga manusia. Artinya, saya punya sifat-sifat layaknya manusia lain; sifat yang terkadang terlupakan tatkala orang mengenal saya dengan dan/atau melalui atribut profesional saya: D-o-s-e-n.

Saya punya perasaan-perasaan yang juga bisa dirasakan oleh manusia lain: senang, sedih, marah, kecewa, frustasi, dendam, sayang, iba, dan lain-lain perasaan yang wajar dimiliki oleh seorang manusia.

Kalau saya pintar – atau dianggap pintar, maka saya juga pernah bodoh atau merasa bodoh. Seperti manusia-manusia lain, saya juga menjalani proses belajar yang tidak selalu mudah.

Kalau saya kuat – atau tampak kuat, maka saya juga pernah dan bisa lemah. Kalau saya arif dan dewasa – atau tampak arif dan dewasa, maka saya pernah dan bisa sama sekali tak bijaksana dan kekanak-kanakan. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya manusia!

Sebagai manusia, saya punya sejumlah keunggulan (yang sangat saya syukuri); namun saya juga punya banyak sekali kelemahan. Kadang-kadang kelemahan-kelemahan itu lebih berat terasa karena atribut-atribut yang saya sandang. Atribut-atribut itu mau tak mau memaksa untuk menyembunyikan sisi-sisi jelek pribadi saya yang tidak berkorespondensi dengan dan tak pantas dimiliki atau dipertunjukkan oleh orang dengan titel seperti yang saya miliki.

Rumit memang. Tapi begitulah! Manusia adalah mahluk amfibi yang hidup di dua alam: alam pribadi (private space) dan alam kemasyarakatan (public space). Kita meniti dua alam itu setiap hari, dalam berbagai peran yang kita mainkan di atas “Panggung Sandiwara”-nya Ahmad Albar dan Nicky Astria.

Dengan berkata-kata seperti ini, saya tak hendak membuka kedok-kedok peran kesandiwaraan saya tentu saja. Topeng-topeng itu tetap harus saya pakai demi suksesnya peran saya di atas panggung (sandiwara) kehidupan. Lagipula Tuhan dan Nabi melarang kita untuk membuka aib, kan? Borok orang lain pun tidak, apalagi keburukan diri sendiri.

Saya cuma sedang berpesan kepada diri sendiri – bertausiah, kata orang pesantren – agar saya selalu waspada pada kemanusiaan saya sendiri; tidak lupa bahwa saya ini manusia yang tidak berbeda dengan insan-insan lain ciptaan Tuhan: kalau saya kuat, maka saya juga lemah; kalau saya agung, maka saya juga rendah; kalau saya pintar, maka saya juga bodoh; kalau saya bersih, maka saya juga kotor; kalau saya baik, maka saya juga jahat, dan seterusnya, dan seterusnya.

Manusia tidak pernah sepenuhnya hitam, namun juga tidak pernah sepenuhnya putih. Saya tidak akan mengaku ‘suci’ – putih dan bersih, tanpa noda; namun saya juga tak rela sepenuhnya disebut nista – kotor, hina, dan bernoda – karena saya memang tidak seperti itu. Kalau saya tampak putih, itu mungkin cuma karena jubah yang sedang saya pakai dalam peran yang mengharuskan saya memakainya. Kalau saya tampak dekil dan hina, itu mungkin juga karena kostum yang terpaksa saya kenakan karena peran yang sedang saya mainkan.

Saya yakin, cuma Tuhanlah yang sempurna, karena Ia lah Sang Sutradara – yang tak perlu topeng, tak perlu turun ke atas panggung dan bermain peran sendiri; karena Ia lah Sang Pemegang skenario dengan kuasa mutlak, yang mengarahkan para anak wayangnya dalam cerita yang Ia mau. Karena Ia lah yang mendirikan panggung ini – dan yang akan menutupnya jika pertunjukan telah usai.

Maka jangan pernah lupa, kita ini manusia!

Satu pemikiran pada “Dosen Juga Manusia!

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s