Hari Lahir


Bulan depan saya akan berulang tahun. Insya Allah, kalau Allah masih memberi saya umur untuk berjumpa dengan hari itu.

Yang ke berapa? Mungkin sebaiknya tidak saya sebutkan.

Bukan karena saya takut angka, atau tak mau dianggap tua. Tahun ini, usia saya memang sudah tidak bisa dianggap muda lagi. Dan itu saya terima dengan lapang hati, dan rasa syukur. Menjadi tua itu suatu keniscayaan ketika waktu bergulir. Tidak ada yang bisa menghindar.

Saya cuma malu, bahwa angka-angka yang kian besar itu belum berbanding lurus  dengan apa yang telah saya capai dalam hidup ini. Masih terlalu banyak kesia-siaan dalam hidup saya: kesia-siaan waktu, kesia-siaan tenaga, dan kesia-siaan karunia. Tuhan telah memberi begitu banyak kepada saya; tapi saya belum bisa berbuat sebanyak yang seharusnya untuk mensyukuri semua nikmat itu.

Saya masih harus berbuat lebih banyak lagi, lebih baik lagi, agar misi yang telah diberikan oleh Sang Pengutus ketika Ia mengirim saya ke dunia ini tercapai; agar kalau saya dipanggil lagi untuk menghadap-Nya suatu saat nanti, saya akan dapat mempertanggungjawabkan misi saya itu dan mendapat rapor dan penghargaan yang baik.

Saya khalifah. Itu titel saya. Tugas saya menyebarkan rahmat – kasih sayang dan kebaikan bagi semesta, agar dalam diri dan perbuatan-perbuatanku, Wajah Agung Tuhan Yang telah menciptakan semesta ini dapat terlihat dan dirasakan oleh semua mahluk-Nya.

Aku tentu tak punya ingatan seperti apa rasanya berpindah dari alam rahim Ibu ke alam dunia. Tapi dari cerita-cerita ibuku, aku dapat membayangkan:

Malam itu, aku mulai gelisah di perut ibu. Bukan tak betah. Kalau boleh terus terang, mungkin itulah tempat paling nyaman di jagat raya ini – menjadi bagian dari ibu, berada dalam dekapannya setiap waktu, dekat dengan hatinya, dekat dengan jantungnya, dan mendengar ungkapan kasih sayangnya dalam setiap detaknya. Tapi aku sudah besar, dan aku harus segera memulai tugasku di muka bumi.

Perut ibu melilit. Maka pergilah ia ke rumah sakit, ditemani ayah yang ikut gelisah.

Aku tahu kenapa ayah gelisah. Aku adalah anak pertamanya. Ada kegirangan dan harap-harap cemas dalam kegelisahannya itu. Seperti apakah bayi yang akan lahir itu, manusia kecil yang akan menjadi bagian dari amanatnya sebagai seorang ayah itu.

Semalam berlalu. Sepertinya aku tertidur. Ibu masih terus mulas, tapi belum juga ada tanda-tanda aku akan segera keluar.

Bakda subuh, demikian cerita ibu, ayahku memutuskan untuk pulang. Sebentar. Nenekku – ibu dari ayahku – menggantikannya menjaga dan menemani ibu.

Tak lama setelah itu, mungkin aku  terbangun, dan ingin bergegas keluar. Hari sudah pagi! Dan aku ingin memulai kehidupanku di dunia di pagi hari – hari saat semesta terbangun dari tidurnya dan bergegas menjemput rizkinya. Ya, aku ingin hadir ketika dunia mulai menggeliat dalam kesibukan, agar aku ikut dalam arusnya, ikut menggerakkannya, dan menjadi bagian dari kegairahan semesta merayakan keagungan Tuhan dan mensyukuri nikmat yang dianugerahkan-Nya.

Ibu melilit, merintih, dan sakit … dalam perjuangan antara hidup dan mati – untukku, dan demi aku. (Semoga Allah melimpahkan seluruh kasih sayangnya untukmu, Ibu; mengampuni dosa-dosamu, dan menempatkanmu di tempat yang mulia kelak di sisi Tuhan Yang mahaluas kasih sayang-Nya, untuk perjuanganmu membawa seorang khalifah Tuhan ke muka bumi-Nya.)

Konon tangisku pecah tak lama setelah fajar – ketika matahari mulai tersenyum di ufuk timur. Aku tak tahu kenapa aku menangis. Mungkin aku menangis karena mulai saat itu, aku terpisah dari raga ibuku. Mungkin aku menangis karena aku tak bisa bersuara lain, kecuali menangis untuk mengumumkan kehadiranku pada dunia: “Hai, dunia! Ini aku datang, dengan dua kaki mungilku, dengan dua tangan mungilku, dengan dua mata dan telingaku yang belum lagi sempurna … Tapi aku akan tumbuh, besar dan kuat, agar aku menjadi sebagian dari tanda-tanda kebesaran Pencita-ku.”

Berita itu sampai kepada ayahku. Ia – yang konon sedang membuang hajat – terlonjak, tergopoh-gopoh mengejar waktu ke rumah sakit. Aku tak bisa membayangkan seperti apa wajahnya waktu itu. Masai, barangkali. Tegang, girang tak alang kepalang, itu yang aku bayangkan. Tapi dengan mantap dikumandangkannya adzan di telinga kananku, iqomah di telinga kiriku – kalimah-kalimah yang mengagungkan Tuhan Yang Esa atas segala karunia-Nya; kalimah-kalimah yang menegaskan ikrar dan kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah rasul-Nya; kalimah-kalimah yang menyeruku – agar aku tak amnesia – untuk mendirikan shalat dan membaktikan diriku untuk Tuhan, supaya aku menjadi menjadi manusia yang bahagia dan sentosa.

Selasa pagi itu, kliwon dalam hitungan hari pasaran orang Jawa yang lima itu, aku terlahir ke dunia. Nenekku – ibu dari ibuku – bilang, aku terlahir di hari yang istimewa, dan akan mempunyai sifat-sifat yang istimewa.

Tapi bukankah setiap kelahiran seorang anak manusia itu istimewa? Apapun harinya, ia adalah anugerah bagi alam semesta.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s