Exploring Poetry – Day 1


Saya mengajar dua kelas hari ini. Mata kuliah yang sama: Exploring Poetry.

Kelas pertama, enam puluh tujuh orang! Kelas Pendidikan A, anggkatan 2010.

Di ruang 37 lantai empat yang kecil, kelas itu jadi terasa meruah. Sebagian mahasiswa terpaksa duduk di sisi kiri depan dekat papan tulis. Mereka kesulitan melihat apa yang saya tulis di papan tulis; sebagian – yang duduk di pojok kiri depan – sama sekali tak bisa melihat apa yang saya tayangkan di layar LCD yang letaknya di pojok kanan ruang kelas. Menyedihkan!

Pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, tidak banyak mahasiswa yang suka puisi. Apalagi pengkajian puisi. Di kelas ini pun tak berbeda. Ketika saya bertanya,

“Are there any of you here who like poetry?”

Hanya satu tangan yang terangkat.

“Is there anybody here who likes reading or writing poems?”

Tak satupun mengangkat tangannya.

Saya tak menyalahkan mereka. Pelajaran sastra selama ini memang tidak dianggap penting di sekolah. Dalam pelajaran bahasa Indonesia sekalipun, puisi umumnya hanya diajarkan sebagai suatu pengetahuan yang bunyi pertanyaannya kurang lebih seperti ini:

“Pengarang puisi ini adalah …”

Sangat kognitif. Unsur apresiasinya tak tersentuh. Karena itu – barangkali – mereka menganggap puisi sama dengan mata pelajaran-mata pelajaran lain yang harus dihafal dan dipelajari sebagai pengetahuan karena ada kepentingan ujian. Setelah itu? Tak ada yang membekas.

Dalam pelajaran bahasa Inggris, puisi bahkan lebih parah lagi nasibnya. Kurikulum berbasis genre untuk program  IPA dan IPS tidak memberi tempat sama sekali untuk puisi.

Jadi, wajar kalau para mahasiswa jurusan bahasa ini tidak punya ketertarikan pada puisi. Mereka tidak punya memori apapun mengenai puisi dari pendidikan di tingkat sebelumnya.

Kelas kedua, lima puluh delapan orang! Kelas Pendidikan B, angkatan 2010.

Ruang 39, yang luasanya dua kali lipat dari ruang 37, terasa lebih pas untuk kelas sebesar itu.  Tapi, di sini pun tak ada yang mengaku suka puisi.

Untuk sekedar menggelitik rasa – setelah memperkenalkan dan membahas silabus – saya mencoba membacakan beberapa puisi. Ada tawa kecil dan senyum simpul, terutama ketika saya membacakan puisi-puisi cinta berbahasa Indonesia. Tapi ketika ditanya, lagi-lagi mereka mengatakan tak mengerti. Mereka hanya geli mendengar kata-kata yang ‘nyeleneh’ dalam puisi-puisi itu.

3 pemikiran pada “Exploring Poetry – Day 1

  1. Assalamualikum pak, saya mahasiswa bapak kelas dik A 2010. saya punya pertanyaan mengenai puisi. Apakah untuk memahami puisi, tidak cukup hanya dengan teori-teori saja? Apakah kita harus punya “sense” terhadap puisi itu sendiri? atau mungkin bakat untuk memahami puisi tersebut? Jujur saya suka dengan puisi walaupun saya tidak mengakuinya pada waktu itu, hehe. Karena bisa memahami sebuah puisi merupakan suatu kemampuan yang tidak dimiliki oleh banyak orang, dan saya akan merasa sangat bangga jika bisa menjadi seperti bapak. Mohon bimbingannya Pak.

  2. Selamat sore, Pak🙂 Ikut isi komennya ya Pak..

    Banyak yang mengaku tidak suka puisi tetapi tanpa disadari ternyata mereka membuatnya, dan banyak dari murid-murid (sewaktu saya masih di sd-smp-sma dulu) yang mengaku tidak suka puisi karena mereka takut: jika mengaku suka puisi akan langsung diminta berpuisi oleh gurunya. Mereka takut akan merasa malu ketika mereka tidak bisa membaca puisi sesuai dengan ekspektasi sang guru, apakah mungkin ini menjadi salah satu alasan mahasiswa2 tersebut tidak mengangkat tangan? Sewaktu saya tahun kemarin belajar sama Bapak, kebanyakan dari teman2 merasa bingung terhadap maksud-maksud yang puisi sampaikan. Mereka merasa interpretasi setiap orang bisa berbeda dan mereka takut jika maksud yang ingin mereka sampaikan tidak sesuai dengan yang seharusnya. Tapi, buat saya sendiri menulis puisi itu menyenangkan. Kita bisa menulis kata-kata secara implisit jadi kalau mau curhat gak perlu blak-blakan, hehe… meskipun saya sendiri masih harus banyak belajar teori-teori yang ada. Karena selama dari dulu (sejak SD saya sudah belajar menulis dan membaca puisi) tidak pernah memperhatikan teori-teori yang berhubungan dengan puisi. Terkadang dalam memilih tone saat membacanya pun saya masih suka salah interpretasi. Mungkin karena keterbatasan vocabulary seperti yang Bapak pernah sampaikan di kelas..anyway… Maaf Pak jadi curhat.. hehe

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s