Fotografi dan Kamera


Saya selalu bilang, fotografi itu seni melihat!

Saya suka geli kalau melihat ‘anak-anak’ (orang dewasa juga) yang merasa sudah menjadi fotografer hanya karena menenteng kamera tambun dengan lensa-lensa mahal, tapi – kalau dilihat apa yang dibidik dan cara membidiknya – terlihat sekali bahwa mereka tak tahu banyak soal fotografi (dengan definisi seperti yang saya tulis di atas).

Saya tidak menafikan bahwa fotografer profesional memerlukan alat yang profesional pula. Tapi alat bukan ukuran profesionalitas. Bagi seorang fotografer profesional, alat adalah alat: sarana yang membantunya mewujudkan gagasan dan visi yang ada di kepala. Jadi, baginya, yang pertama harus ada bukan kamera-kamera mahal, tapi gagasan dan visi. Setelah itu ada, barulah dia mencari alat yang bisa membantunya mewujudkan gagasan dan visi itu.

Fotografi di Indonesia tampaknya memang cenderung memuja alat. Sah-sah saja sebenarnya. Sejak semula, fotografi memang bermata dua: Di satu sisi ia dipandang sebagai  teknologi – dalam hal ini, alat rekam visual; tapi di sisi lain, ia juga dipandang sebagai medium ekspresi berkesenian. Pemujaan alat cenderung menarik bandul ke arah teknologi, sehingga aspek ekspresi berkeseniannya menjadi terabaikan. Saya bisa mengatakan itu karena pengalaman dan observasi.

Dulu, waktu saya mulai belajar fotografi secara serius, saya mengikuti kursus tertulis (multimedia) dari New York Institute of Photography. Pelajaran yang pertama saya terima dari sekolah jarak jauh itu bukan tentang kamera atau hal-hal teknis tentang cara menggunakan kamera, tapi justru tentang bagaimana cara melihat melalui kamera – the art of seeing.

Ini sangat berkebalikan dengan apa yang saya alami kemudian ketika mengambil kursus serupa dari sebuah sekolah fotografi terkenal di kota Bandung. Hal yang pertama diajarkan – dan terus ditekankan sepanjang kursus – adalah tentang kamera dan segala tetek bengek teknis tentang cara menggunakan kamera. Seni melihat justru diletakkan di tingkat lanjut.

Hand and FootBaiklah, boleh jadi itu cuma masalah pendekatan pembelajaran saja. Tapi coba kita amati karya-karya foto yang dimuat di situs-situs utama fotografi Indonesia; buku-buku tentang fotografi yang telah ditulis dan diterbitkan, dan tren diskusi atau pelatihan yang paling mengemuka di kalangan komunitas-komunitas fotografi. Barangkali cukup aman kalau saya mengatakan bahwa mayoritas bukti-bukti kegiatan kefotografian itu cenderung berpihak pada masalah-masalah teknis.

Akibat dari kecenderungan itu, terbentuklah semacam mitos di kalangan para peminat fotografi bahwa kamera dan teknik adalah segala-galanya. Tanpa kamera yang bagus dan penguasaan teknik fotografi yang mumpuni, fotografi dianggap sebagai suatu kemustahilan. Maka timbullah hal-hal yang menggelikan seperti yang saya sebutkan di atas: orang-orang yang mempunyai kamera mewah merasa dirinya sudah menjadi fotografer karena sudah memenuhi setengah dari syarat yang dimitoskan.

Kamera canggih boleh  jadi menghasilkan foto-foto yang bagus. Tapi bagusnya foto-foto semacam itu adalah karya mesin – yang dihasilkan oleh mekanika dan elektronika kamera – bukan oleh visi dan gagasan orang yang berada di balik kamera itu. Penguasaan teknis yang mumpuni bisa jadi menghasilkan karya yang bagus (baca: sempurna secara teknis), tapi tanpa visi dan gagasan yang jelas – dan kreatif – foto-foto semacam itu cenderung dingin, bisu dan tak bernyawa.

“There is nothing worse than a brilliant image of a fuzzy concept.”

Begitu kata Ansel Adams.

Catatan: Semua foto yang saya pakai sebagai ilustrasi di sini saya ambil dengan kamera ponsel 3 MP dengan efek kamera mainan.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s