Bohemianisme


Urakan! – itu barangkali kata yang terlintas di benak kita saat diminta untuk menggambarkan stereotip seorang seniman.

Bagi kebanyakan orang, kata seniman memang seringkali berkonotasi seperti itu: urakan – tidak mengikuti aturan dan bertingkah laku seenaknya. Selain itu, mereka juga sering kali tergambarkan sebagai orang yang suka berkumpul dengan sesamanya (pemusik dengan pemusik, pelukis dengan pelukis, sastrawan dengan sastrawan), tidak menyukai ikatan dan pasungan aturan, suka berkelana, dan avonturir.

Tentu tidak semua seniman seperti itu. Namanya juga stereotip. Tapi kita pasti setuju bahwa seniman adalah orang yang kreatif. Kreativitas itulah yang membuat mereka mampu berkarya dan melihat sesuatu dengan cara yang berbeda dengan orang kebanyakan. Cara pandang yang berbeda inilah – barangkali – yang membuat mereka seringkali dianggap aneh – nyeleneh, tak lazim – sehingga bagi sebagian orang terlihat urakan.

Ideologi yang mendasari perilaku gaya hidup seorang seniman yang seperti itu dalam khazanah peristilahan disebut bohemianisme. Pelakunya – orangnya – dan sifatnya disebut bohemian.

Kata bohemian sendiri mulai muncul dan digunakan dalam bahasa Inggris pada abad ke-19 untuk menggambarkan gaya hidup yang nyeleneh di kalangan seniman, penulis, wartawan, aktor dan aktris miskin dan terpinggirkan yang hidup di kota-kota Eropa pada masa itu.

Manusia-manusia bohemian pada umumnya digambarkan sebagai orang-orang nyeleneh yang anti-kemapanan dalam pandangan sosial politiknya. Mereka hidup sangat sederhana, tidak terlalu acuh pada hak milik (mereka bersedia berbagai apapun yang mereka miliki), dan bebas ikatan – termasuk dalam hal hubungan cinta dan pernikahan.

Asal Usul

Bohemian pada mulanya sebenarnya adalah sebutan untuk orang-orang yang berasal dari daerah Bohemia, sebuah kawasan di Eropa Tengah yang sekarang kurang lebih mencakup wilayah Republik Cheko dan daerah-daerah di sekitarnya. Pada abad ke-19, orang-orang Perancis menggunakan istilah Bohemian (orang-orang Bohemia) untuk menyebut para pengembara Gipsy yang berasal dari daerah Romania karena mereka menyangka bahwa mereka berasal dari Bohemia.

Istilah itu bisa berkonotasi positif atau negatif. Dalam pengertian positifnya, Bohemian bermakna orang-orang Gipsy yang mempunyai kemampuan bersastra (lisan) dan menguasai seni. Dalam pengertian negatif, Bohemian dikaitkan dengan orang-orang yang punya sifat leka (urakan, sembrono, abai) dalam hal kebersihan diri dan tak setia pada ikatan pernikahan.

Melalui praktik-praktik diskursif (meminjam istilah Foucault) yang berkelanjutan dari pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, terbentuklah makna kultural kata bohemian seperti yang sekarang dipahami. Sekali lagi, bohemian mengacu pada sifat atau karakteristik yang dimiliki seseorang, atau orang yang mempunyai sifat atau karakteristik seperti seorang bohemia. Sementara itu, bohemianisme adalah praktik gaya hidup yang bercirikan bohemian.

Bohemianisme Sebagai ‘Agama’

Sebagai sebuah ‘isme’ – doktrin, teori, paham pemikiran atau gerakan – bohemianisme oleh sebagian pengikut fanatiknya telah dianggap sebagai semacam agama dengan rumusan doktrin-doktrinnya sendiri. Doktrin-doktrin itu, sebagaimana dimuat dalam situs theologies.org, menggariskan bahwa (1) manusia itu penting (significant); (2) hidup adalah anugerah; dan (3) akhirat (afterlife) adalah dampak atau warisan abadi yang ditinggalkan oleh seseorang (dalam hal ini penganut bohemianisme) bagi kemanusiaan dan dunia.

Sebagaimana agama-agama ciptaan baru yang muncul di Barat, bohemianisme tampak jelas mengandung benih-benih pemikiran libertarianisme, terutama dalam hal pengagung-agungannya terhadap manusia dan kemanusiaan serta kebebasan individu. Ide-ide seperti itu, jika ditelusuri secara cermat, adalah buah dari sekularisme yang lahir di Barat bersamaan dengan bergulirnya Abad Pencerahan sebagai reaksi atas penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh penguasa negara dan gereja.

Bohemianisme sebagai ‘isme’ saja tampaknya tidak seekstrem bohemianisme yang dianggap sebagai agama. Penganut bohemianisme jenis ini ‘hanya’ menganggapnya sebagai sejenis praktik gaya hidup yang didasarkan pada ideologi tertentu yang senama. Isme ini memiliki beberapa anak cabang (sub) yang nama-namanya didapat dari gagasan-gagasan bohemian dengan gagasan-gagasan lain seperti Bohemian Zen (penggabungan antara bohemianisme dan ajaran  Zen Budha Mahayana yang berkembang di Cina pada sekitar abad ke-6 Masehi), Bohemian Baru (Nouveau Bohemian – yang menggabungkan ideologi bohemian dengan elemen-elemen kultural baru), dan sebagainya.

 

3 pemikiran pada “Bohemianisme

  1. Oh, baru tahu saya kalau bohemianisme itu apa. Sebelumnya saya hanya tahu kata bohemian dari lagunya Queen. “Bohemian Rhapsody” hehe.

    Saya jadi membayangkan kalau para bohemian itu seperti para hippie yang berpola pikir anarkis. Wallahualam🙂

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s