Diksi dan Puisi (Bagian Pertama)


Hari ini saya mempertunjukkan dua puisi kepada mahasiswa untuk menunjukkan bagaimana diksi bekerja pada puisi. Puisi pertama berjudul “Of Being” karya Danise Levertov; puisi kedua, “Hello, Hello Henry” karya Maxine Kumin:

Of Being

(Denise Levertov – 1997)

I know this happiness
Is provisional:

the looming presences –
great suffering, great fear –

withdraw only
into peripheral vision:

but enluctable this shimmering
of wind in the blue leaves:

still this flood of stillness
widening the lake of sky:

this need to dance,
this need to kneel:

this mystery:

Hello, Hello Henry

(Maxine Kumin – 1925)
My neighbor in the country, Henry Manley,
with a washpot warming on his woodstove,
with a heifer and two goats and yearly chickens,
has outlasted Stalin, Roosvelt and Churchill
but something’s strirring in his dotage.

Last fall he dug a hole and moved his privy
and a year ago in April reamed his well out.
When the country sent a truck and poles and cable,
his daddy ran the linemen off with birdshot
and swore he’d die by oil lamp, and did.

Now you tell me that all yesterday in Boston
you set your city phone at mine, and had it ringing
inside a dead apartment for three hours
room after empty room, to keep yours busy.
I hear it in my head, that ranting summons.

That must have been about the time that Henry
walked up two miles, shy as a girl come calling,
to tell me he has a phone now, 264, ring two.
It rang one time last week – wrong number.
He’s be pleased if one day I would think to call him.

Hello, hello Henry? Is that you?

Saya meminta mahasiswa membaca puisi pertama – dalam hening, selama kurang lebih lima menit – sebelum saya membacakannya dengan lantang. Lalu saya bertanya, dapatkah kalian memahami puisi ini?

Saya sudah menduga jawabannya: Tidak mengerti. Sulit.

“Kira-kira apa yang membuat kalian kesulitan memahami puisi ini?”

“Kata-katanya sulit, Pak.”

Saya membimbing mereka menggunakan kamus ekabahasa (Inggris – Inggris) dan menelusuri makna kata-kata yang belum ada dalam kosa kata mereka, memberikan ilustrasi tentang arti dan penggunaan kata-kata tersebut. Lalu saya bertanya lagi, apakah kalian sekarang sudah bisa memahami apa maksud puisi ini?

Semua masih terdiam. Ada yang tersenyum-senyum simpul. Satu dua orang akhirnya mengangkat tangan dan menyatakan pendapat: Meskipun arti kata-katanya sudah diketahui, puisi itu tetap sulit dipahami karena kata-kata itu mungkin punya makna lebih dalam daripada apa yang tersurat.

Good point! Bisakah kalian berikan contohnya?

Pendapat berikutnya mengatakan, barangkali karena puisi itu mengandung banyak kata-kata abstrak di dalamnya.

Itu yang saya tunggu!

Mahasiswi itu tampaknya sudah membaca bab buku teks yang saya perintahkan minggu sebelumnya.

Diksi dan Puisi

Diksi abstak – dalam puisi, dalam teks apapun – lebih sulit dipahami pembaca, karena kata-kata semacam itu perlu ‘dikunyah’ dan ‘dicerna’ lebih lama di dalam otak kita. Kata-kata seperti ‘happiness’, ‘suffering’, dan ‘fear’ tak dapat digenggam seketika dan ditelan mentah-mentah. Ada proses mengunyah dan mencerna yang kira-kira berlangsung seperti ini:

Untuk memahami kata ‘happiness’, orang harus mengaitkan dulu kata itu dengan pengalaman-pengalaman subjektifnya tentang kebahagiaan – yang tentu saja berbeda dengan pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh orang lain tentang itu. Barulah setelah itu dia bisa membumikan makna ‘happiness’.

Ada paling tidak dua tahapan dalam proses itu: Tahap pertama – apa yang saya sebut ‘mengunyah’ – adalah tahap di mana orang mencari di gudang perbendaharaan pengalamannya hal-hal yang tergolong dalam ‘happiness’. Tahap kedua – ‘mencerna’ – adalah tahap di mana orang mengaitkan pengalaman-pengalamannya tentang kebahagiaan dengan kebahagiaan yang dimaksud di dalam teks. Karena proses yang tidak langsung inilah, diksi abstrak menjadi lebih sulit dicerna ketimbang diksi konkret, yang sifatnya lebih spesifik.

Untuk mengontraskan pengalaman mahasiswa dengan puisi berdiksi abstrak, saya memberi kesempatan kepada mereka untuk membaca puisi kedua, dengan langkah yang sama.

Beberapa kata dalam puisi itu juga berada di luar jangkauan penguasaan kosakata mereka. Kerja kamus dan sedikit bimbingan dan ilustrasi membantu mereka mengatasi kesulitan itu.

Tidak seperti pada puisi pertama, setelah tahap ini, mahasiswa menyatakan dapat memahami isi puisi kedua. Ini menunjukkan bahwa diksi konkret lebih mudah dicerna ketimbang diksi abstak. Ada proses asosiasi langsung antara kata dan gambaran yang muncul di dalam kepala ketika maknanya sudah diketahui. Kata-kata seperti ‘washpot’, ‘woodstove’, ‘phone’, ‘poles, ‘cables’ dan nama-nama binatang seperti ‘heifer’, ‘goats’ dan ‘chicken’ dapat langsung terbayang tanpa harus melalui proses ‘mengunyah’ seperti yang harus dilalui seperti ketika mereka berhadapan dengan kata-kata abstrak dalam puisi pertama.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s