Tentang Nama Saya


Saat ini ada tiga kata dalam nama saya: Eki, Qushay, dan Akhwan. Agak kurang lazim untuk orang Indonesia tradisional, yang rata-rata cuma memakai satu atau dua kata untuk namanya. Ayah saya cuma menggunakan satu kata untuk namanya. Ibu saya juga. Di antara ketiga adik saya, cuma satu yang mempunyai nama yang terdiri dari dua kata. Lainnya cuma bernama satu kata.

Nama saya yang terdiri dari tiga kata itu sebenarnya relatif baru. Ketika lahir, saya juga diberi nama dengan satu kata saja: Qushay. Nama itu, menurut ibu, diberikan oleh kakek (ayah dari ibu) saya. Saya tidak tahu apa makna kata itu. Saya cuma tahu, nama itu diambil dari nama  kakek buyut Abdul Muthalib, ayah dari Nabi Muhammad SAW.

Qushay bin Kilab – demikian nama tokoh yang namanya dipinjam itu – adalah pemimpin suku Quraisy dan wali/juru kunci Ka’bah yang konon sangat disegani karena kearifan dan kedermawanannya. Dalam masa kepemimpinannya, Qushay memerintahkan orang-orang Arab untuk memperbaiki Ka’bah dan membangun permukiman di sekitarnya, menetapkan aturan-aturan yang menjamin ketersediaan makanan dan air minum gratis bagi para peziarah yang berkunjung ke Makkah, dan melakukan pembagian tugas di antara suku-suku yang bermukim di sekitar Makkah untuk mengurus Ka’bah dan para peziarah yang datang untuk beribadah di tempat itu. Selain itu, dia juga orang pertama yang mendirikan Dar-an-Nadwah (balai pertemuan majelis) sebagai tempat bermusyawarah bagi para pemimpin suku-suku di Jazirah Arabia untuk membahas berbagai persoalan sosial, politik, budaya dan perdagangan di antara mereka.

Mungkin karena itu, kakek saya – yang seorang ustad dan ahli bahasa Arab – memberikan nama itu kepada saya. Mungkin beliau ingin saya tumbuh menjadi seorang pemimpin yang bijaksana dan dermawan seperti dia.

Orangtua saya suka nama itu. Tapi ibu merasa perlu menambahkan nama panggilan yang sederhana dan lebih mudah diucapkan oleh lidah orang Indonesia. Maka ibu memutuskan untuk menambahkan nama Eki di depan Qushay.

Nama itu, konon, diinspirasi oleh nama seorang tokoh aktivis Angkatan 1966: Eki Syahruddin.

Suatu ketika dulu – ketika masih bersekolah di Jakarta – ibu mengantar seorang temannya berkunjung ke Asrama Mahasiswa UI Daksinapati. Di sana, teman yang dicari oleh temannya itu kebetulan sedang keluar; maka, mereka terpaksa menunggu. Pada saat menunggu itulah, sosok Eki Syahruddin muncul dan menemani mereka ngobrol. Rupanya kepribadian Eki yang sangat ramah dan enerjik sangat mengesankan ibu, sehingga ketika memikirkan nama untuk anak pertamanya ini, namanyalah yang teringat. Mungkin ibu juga ingin anaknya juga punya kharisma seperti orang yang namanya dia pinjam.

Dengan dua kata itulah identitas saya didaftarkan kepada negara. Dengan dua kata itu juga saya didaftarkan ke sekolah dan dikenal oleh orang-orang di luar lingkungan terdekat saya.

Saya tidak pernah protes dengan nama itu. Saya terima, dan saya suka, meskipun nama depan saya yang berakhiran -i itu kadang-kadang membuat orang yang hanya membaca nama saya dan belum pernah bertemu suka menyangka bahwa saya seorang perempuan.

Sepanjang hidup saya, hanya ada satu rentang waktu – ketika saya beranjak remaja – di mana saya merasa kurang puas dengan nama saya. Di akhir kelas dua atau awal kelas tiga SMP, ketika saya mulai menyukai pelajaran bahasa Inggris, saya merasa perlu menambahkan nama keluarga (surename) di belakang nama saya. Seperti orang-orang Inggris, atau Amerika, atau Eropa.

Maka saya mulai menuliskan nama-nama yang lebih panjang di buku-buku saya. Entah kenapa, nama keluarga yang pertama saya taruh di belakang nama saya justru bukan nama ayah saya, Akhwan, tapi nama kakek saya dari pihak ibu, Ismail – yang sudah meninggal tatkala saya masih kecil. Mungkin itu kreativitas saja. Tapi mungkin juga karena saya tidak melihat ayah sebagai sosok yang dapat saya kagumi saat itu. Dia cerdas, jujur, dan bersahaja, tapi di mata saya tampak dingin dan menjaga jarak, layaknya seorang kepala keluarga Jawa tradisional. Saya lebih mengagumi kakek saya karena – dari cerita-cerita ibu – beliau seorang yang cerdas, tegas, berani, sederhana dan berwibawa; seorang ulama, penulis buku, seorang pemimpin milisi dan tentara pejuang sejati yang meletakkan senjata ketika perang kemerdekaan usai dan melupakan pangkat dan karir militer yang dengan mudah mungkin dapat diraihnya kalau dia tetap memilih menjadi tentara.

Selain menambahkan nama keluarga, masa itu saya juga suka bereksperimen dengan nama-nama lain ciptaan saya sendiri. Saya pernah mengagumi dan memakai nama-nama berbau Mediterania yang terdengar eksotis di telinga saya, juga nama-nama dari bahasa Sanskerta. Pokoknya nama-nama yang tidak lazim terdengar, tidak pasaran, dan membuat saya merasa istimewa.

Kalau mengingat itu semua, kadang-kadang saya merasa geli. Tapi itulah mungkin dinamika awal masa remaja: ingin tampil beda, ingin diakui …🙂

Saya tak ingat ada gejolak lain tentang nama setelah itu. Nama dengan dua kata yang diberikan oleh orangtua saya pakai sebagai indentitas yang melekat dengan pribadi saya.

Saya mulai menempelkan nama ayah saya, Akhwan, ketika saya membuat paspor untuk pertama kalinya. Tahun 1988.  Waktu itu saya terpilih untuk mengikuti program pertukaran pemuda Kapal Pemuda Asia Tenggara (Ship for Southeast Asian Youth Program) mewakili Propinsi Jawa Barat.

Nama keluarga itu sebenarnya tidak harus ada. Semua ijazah saya dari SD hingga SMA hanya menggunakan nama dengan dua kata. KTP saya juga. Tapi keinginan seperti yang pernah saya rasakan waktu SMP dulu muncul lagi. Kali ini bukan karena iseng atau main-main, tapi karena saya betul-betul ingin mencantumkan nama keluarga sebagai bagian dari identitas saya.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s