I Will Survive


Saya tidak sedang putus cinta, apalagi patah hati. Tapi saya suka lagu bertema putus cinta yang judulnya saya pakai sebagai judul tulisan ini, justru karena ia menceritakan pengalaman seperti itu tanpa memberi kesan cengeng, merengek-rengek, atau menghiba-hiba seperti kebanyakan lagu-lagu serupa. Bagi saya, lagu ini akhirnya tak seperti lagu bertema cinta, tapi sebuah lagu yang  membawa pesan universal tentang semangat hidup, harga diri, dan kebebasan – melalui kisah cinta!

Saya suka semangat lagu ini: Ada semacam kesadaran – pencerahan tentang harga diri – dan pemberontakan, yang berakhir dengan pembebasan dan kebebasan dari ketidakberdayaan, penindasan, dan perbudakan (dalam hal ini penindasan dan perbudakan cinta, tapi, bagi saya, pemberontakan itu bisa jadi terhadap apa saja yang membelenggu dan merendahkan martabat kemanusiaan seseorang).

Irama dan hentakan ritme lagu ini – yang dinamis dan penuh semangat – juga terasa sangat pas dengan tema dan pesan yang diusungnya; setiap ketukan perkusi dan lengkingan nadanya seolah menggedor kerinduan primordial yang dirasakan oleh setiap manusia: kerinduan akan kebebasan yang selaras dengan derajatnya sebagai mahluk Tuhan yang dimuliakan.

Lagu ini kira-kira bercerita tentang seorang perempuan yang begitu mencintai seorang lelaki, sampai-sampai dia terbelenggu dan merasa tak dapat hidup tanpa si lelaki itu: “First I was afraid. I was petrified, kept thinking I could never live without you by my side.” Tapi si lelaki itu memperlakukannya dengan semena-mena, sehingga – lama kelamaan – dia pun belajar untuk menjadi kuat: “But I spent so many nights thinking how you did me wrong. I grew strong. I learned how to carry on.”

Singkat cerita, dia meninggalkan lelaki itu. Dan kini, justru si lelaki itulah yang – dengan wajah memelas (“with that sad look upon your face”) – mengejarnya dan mengharapkan dia mau kembali, atas nama cinta yang dulu telah membuatnya merasa berkuasa dan mempunyai hak untuk berlaku semena-mena.

Cinta yang diberikan tak seharusnya membuat orang yang menerima cinta itu merasa bahwa dia bisa mengambilnya begitu saja tanpa membayar harga yang semestinya bagi cinta yang telah diberikan itu. Orang boleh saja bilang bahwa cinta itu gratis. Tapi sesungguhnya cinta itu tidak pernah gratis. Memang cinta tak selalu dibayar dengan uang. Tapi cinta selalu menuntut resiprokalitas: Balasan bagi cinta adalah cinta. Ketika hukum resiprokalitas itu tak terpenuhi, maka yang akan terjadi adalah breakage – keterputusan. Tidak ada tali yang bisa mengikat dua orang di mana satu pihak mencinta, dan satu lagi tak mencinta. Apalagi kalau orang yang dicinta itu berlaku semena-mena terhadap orang yang mencintainya.

Hukum resiprokalitas tidak hanya berlaku bagi cinta asmara, tapi bagi semua jenis cinta dalam pengertian seluas-luasnya. Cinta adalah perekat yang menyatukan manusia satu dengan manusia lain, manusia dengan dunianya: suami dan istrinya, orangtua dan anak-anaknya; pekerja, pemberi kerja dan pekerjaannya, anggota masyarakat dan masyarakatnya, rakyat dan negaranya, pujangga dan karya-karyanya … Pendek kata, tanpa resiprokalitas, keterikatan antara dua pihak yang saling berhubungan tidak mungkin terjadi. Jawaban atas pertanyaan “Bisakan seorang istri betul-betul mencitai suami yang tak mencintainya?” berlaku juga untuk “Bisakah rakyat ikhlas mencintai negara yang tidak mencintainya?”

Bila cinta tak berbalas cinta, bila cinta berbalas nista dan penindasan, maka tidakkah pihak yang mencinta boleh melupakan cinta itu, dan bilang “I will survive!” (dengan atau tanpamu)? Karena aku manusia yang punya harga diri. Dan harga diri itu bukan kau yang memberi, tapi Sang Azza wa Jalla! Dia lah Yang telah menitipkannya bersama ruh-Nya ketika Dia menciptakan kita dan memberi kita hidup.

Satu pemikiran pada “I Will Survive

  1. Saya tergelitik sama kalimat “Bagi saya, lagu ini akhirnya tak seperti lagu bertema cinta, tapi sebuah lagu yang membawa pesan universal tentang semangat hidup, harga diri, dan kebebasan – melalui kisah cinta!”

    Saya tergelitik karena pernah melihat video Cake, salah satu band yang meng-cover lagu ini, membawakan lagu ini secara live. Sebelum memulai membawakan lagu ini, John McCrea (vokalis), bilang “many agendas have been spirited forward by this song… We never played this song as a joke.” lucu karena di tiap penampilan live-nya, mereka sering membawakan lagu lain dengan bercanda dengan penonton.

    Jadi saya mengira bahwa Cake dan pak Eki punya pandangan yang sama bahwa lagu ini sebenarnya lagu serius yang membawa pesan universal yg dibutuhkan dunia. Bukan lagu cinta biasa.🙂

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s