Pendekatan Kritis Terhadap Sastra (Bagian Pertama)


Apa itu Pendekatan Kritis?

Secara esensi, pendekatan kritis terhadap karya sastra adalah pendekatan yang mencoba menjawab paling tidak tiga pertanyaan berikut: (1) bagaimana cara menafsirkan isi karya sastra, (2) bagaimana dan kenapa suatu karya sastra diciptakan, dan (3) apa implikasi sosial budaya dari karya itu.

Ketiga pertanyaan itu tampaknya sederhana. Tapi seorang pembaca yang pernah membaca suatu karya sastra dan mencoba mendiskusikan pemahamannya atas isi teks itu akan tahu bahwa suatu karya dapat memiliki banyak tafsir. Setiap pembaca dapat memberikan tafsir yang berbeda atas teks yang sama. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, adakah pendekatan tertentu yang dapat membuat pembaca yang berbeda memiliki persepsi dan tafsir yang sama atas teks yang sama? Maka, pertanyaan ini sesungguhnya adalah pertanyaan metodologis – masalah pengkajian dan pilihan pendekatan apa yang dapat dipakai untuk menafsirkan teks sastra.

Pertanyaan kedua, yaitu bagaimana dan kenapa suatu karya sastra diciptakan, juga bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Tidak banyak penulis yang menulis penjelasan dan/atau memberi kesempatan kepada pembaca untuk bertanya jawab mengenai bagaimana dan kenapa ia menulis karya yang dihasilkannya. Kesulitan itu bertambah kalau penulis yang karyanya dibaca/ditafsirkan/dikritisi itu sudah tiada. Maka, pertanyaan kedua ini juga adalah soal pengkajian yang – dengan menggunakan alat-alat yang tepat – mencoba merekonstruksi dan menjelaskan cara dan alasan di belakang penulisan suatu karya.

Pertanyaan ketiga – apa implikasi sosial budaya dari suatu karya – bahkan lebih tidak mudah lagi untuk dijawab, karena untuk menjawab pertanyaan seperti itu, diperlukan penguasaan perangkat teoretis lintasdisiplin dan kemampuan analisis yang mumpuni. Maka, sekali lagi, pertanyaan ini pun adalah soal pengkajian.

Dengan latar belakang seperti itu, dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Kritis terhadap karya sastra adalah masalah pengkajian yang – secara leksikal – paling tidak melibatkan kegiatan-kegiatan yang yang dicakup dalam medan maknanya, yaitu: belajar, mempelajari, memeriksa, menyelidiki, memikirkan, mempertimbangkan, menguji, dan menelaah. Dengan kata lain, Pendekatan Kritis adalah pendekatan pengkajian dengan segala kegiatan yang diimplikasikan oleh makna pengkajian itu sendiri.

Untuk melakukan pengkajian – dalam rangka menerapkan Pendekatan Kritis terhadap sastra – diperlukan seperangkat ‘alat bantu’ (teori, metodologi, dan sebagainya) yang memungkinkan kita untuk melakukan hal itu. Sepanjang sejarah ilmu sastra – yang secara formal termasuk bidang ilmu yang masih sangat muda – beragam teori telah diajukan untuk membantu kita menjawab pertanyaan-pertanyaan inti sebagaimana diuraikan di atas. Teori-teori itulah yang secara umum kini dianggap sebagai alat untuk melakukan pendekatan kritis terhadap sastra.

Saya perlu menggarisbawahi frasa ‘secara umum’ karena tampaknya tidak ada kesepakatan di kalangan para akedemisi kritik sastra mengenai teori apa yang dapat dikategorikan sebagai pendekatan kritis. Sebagian berpendapat bahwa pemikiran-pemikiran dan wacana-wacana yang termasuk dalam Teori Kritis1) saja yang dapat dimasukkan ke dalamnya. Sebagian yang lain berpendapat bahwa semua teori yang memungkinkan terjadinya ‘percakapan’ dan perbedaan penafsiranlah yang dapat masuk dalam kategori pendekatan kritis. Teori yang ‘memaksakan kehendak’ dan menganggap bahwa hanya ada satu tafsir yang benar tidak dianggap sebagai teori pendekatan kritis. Namun demikian, ada pula yang beranggapan bahwa semua teori/wacana/pemikiran yang menjadi bagian dan memberikan sumbangannya bagi pekembangan ilmu sastra seharusnya menjadi bagian dari pendekatan kritis terhadap sastra.

Meskipun tidak (belum?) ada kesepakatan mengenai teori apa saja yang dapat digolongkan ke dalam Pendekatan Kritis, beberapa teori berikut tampaknya selalu disetujui masuk ke dalam daftar Pendekatan Kritis:

Kritik Marxisme

Kritik Marxisme adalah kritik yang berorientasi politis. Gagasan dasar yang menggerakkan kritik ini adalah teori-teori sosial Karl Marx. Dalam tradisi kritik ini, penggunaan bahasa diyakini mencerminkan dan dipengaruhi oleh kelas sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, dalam setiap teks, kita akan menemukan pernyataan-pernyataan ideologis seperti kelas, ekonomi, ras, dan kekuasaan. Teks-teks sastra, khususnya, diyakini merefleksikan kepentingan-kepentingan ideologis yang saling bersaing dan, oleh karena itu, mengusung fungsi mendukung atau mengkritik struktur politik dan ekonomi yang yang sedang berkuasa.

Kritik Feminisme 

Pendekatan kritik feminisme berkeyakinan bahwa teks-teks sastra yang diproduksi di dunia yang didominasi oleh kekuasaan lelaki mencerminkan sikap-sikap patriakis dan, oleh karena itu, dipenuhi oleh asumsi-asumsi yang diciptakan oleh kaum lelaki yang seringkali meminggirkan dan merugikan kaum perempuan. Kritik ini bertujuan untuk mengungkapkan/menyingkap asumsi-asumsi itu dan mengoreksi bias sudut pandang dunia lelaki dengan cara menganalisis dan mempertanyakan kembali asumsi-asumsi itu sehingga tercipta keseimbangan sudut pandang yang tidak merugikan kaum perempuan.

Kritik New Historicism, Cultural Materialism, dan Cultural Poetics

Kritik New Historicism (Kesejarahan Baru?) berpandangan bahwa tidak ada sejarah yang objektif, padu, dan cermat. Semua sejarah adalah hasil tulisan orang dan akan  selalu bisa ditulis ulang. Oleh karena itu, sejarah selalu mengandung bias subjektif penulisnya. Bias subjektif inilah yang memengaruhi interpretasi mereka atas masa lalu. Berdasarkan pandangan ini, mereka mengajukan keyakinan mereka bahwa sejarah hanyalah salah satu dari sekian banyak wacana – cara berpikir dan melihat – yang (dapat) digunakan untuk menafsirkan dan memahami peristiwa-peristiwa yang dialami oleh umat manusia. Dalam perspektif baru ini,  sejarah berkedudukan setara dengan sosiologi, ilmu politik, atau ilmu-ilmu lain yang serupa.

Kesejarahan Baru termasuk dalam praktik kritik Postrukturalis. Pada praktiknya, kritik ini berupaya mengarahkan perhatian kita pada kompleksitas hubungan yang terjadi dalam seluruh aktivitas umat manusia, dan menunjukkan bahwa teks apapun – termasuk teks sastra – hanya dapat dipahami dan ditafsirkan dengan  memahami elemen-elemen kultural, kerangka kesejarahan dan pemikiran pengarangnya. Namun, berbeda dengan asumsi kesejarahan lama yang menganggap bahwa sebuah teks hanyalah cerminan konteks sejarah yang menjadi latar belakangnya (pandangan mimetik),  Kesejarahan Baru justru memertanyakan apa yang kita lakukan dalam menafsirkan teks (dalam pengertian yang luas, termasuk di dalamnya tradisi, kejadian sejarah, politik, dan sebagainya).

New Historicism adalah nama yang dipakai oleh kalangan akademis di Amerika untuk jenis kritik ini. Nama lain yang sering digunakan adalah Cultural Poetics. Di Inggris, pemikiran sejenis disebut Cultural Materialism. Pemikiran-pemikiran Cultural Materialism berakar pada teori-teori Marxist dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan politis dan kultural, seperti membongkar mitos-mitos sosial dan politik yang menjadi alat hegemoni kaum borjuis dan ditanamkan di alam bawah sadar pembacanya melalui teks-teks yang mereka produksi, terutama teks-teks sastra.

(Bersambung)

 

____________

Catatan kaki:

Teori Kritis (Critical Theory) dalam pengertiannya yang luas, sebagaimana kita tahu, adalah semua pemikiran filosofis dan teori sosial yang tidak hanya berwacana tentang kondisi manusia dan kemanusiaan, namun juga berupaya – melalui wacana teoretis itu – mengemansipasi dan “membebaskan manusia dari keadaan-keadaan yang membelenggunya” (Horkheimer 1982, 244)*. Dengan pengertian itu, Teori Kritis tidak hanya mencakup pemikiran-pemikiran yang semula dikemukakan oleh tokoh-tokoh Marxist Eropa Barat yang tergabung dalam Mahzab Frankfurt, namun juga semua wacana kritis yang muncul seiring dengan lahirnya gerakan-gerakan sosial yang memperjuangkan kebebasan dan emansipasi manusia, seperti Feminisme, Kajian Gender, dan New Historicism (Kesejarahan Baru?).

*Horkheimer, M. Critical Theory  (New York: Seabury Press, 1982)

2 pemikiran pada “Pendekatan Kritis Terhadap Sastra (Bagian Pertama)

  1. Di buku yang berjudul “Methods of Critical Discourse Analysis” dijelaskan pula bahwa Teori Kritis mendukung lahirnya pendekatan Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis). Dengan membaca tulisan Bapak yang ini, saya berpikir kalau pada dasarnya pendekatan kritis bisa dipakai untuk analisis sastra dan linguistik. Katakanlah, kalau di sastra ada Marxisme tentang kepentingan politik dan ideologi, maka di linguistik ada teori wacana media milik Fairclough yang menjelaskan bahwa setiap text yang dibuat, misalnya di surat kabar, terdapat faktor ekonomi, politik, dan akses mengapa teks itu dibuat. Kalau di Sastra ada Kritik New Historicism, maka di CDA ada Discourse-Historical Approach milik Wodak yang menyatakan setiap teks bersifat historis yang penafsirannya bisa dengan menghubungkan teks lain dan discourse yang lain di masa lalu dan masa sekarang.

    Kira-kira penjelasan saya benar tidak, Pak?🙂

    Pak, dulu saat saya belajar Critical Analysis of Prose saya belajar tentang pemaknaan mengapa sebuah cerita dibuat. Salah satu “alat”nya adalah dengan melihat biography penulis. Kira-kira alat apalagi yang bisa digunakan untuk menafsirkan pertanyaan “mengapa” tersebut.

    1. Betul, Yogi. Dari beberapa buku yang sudah saya baca, kelahiran CDA memang diilhami antara lain oleh perlunya metoda prosedural yang dapat merinci cara kerja membedah teks secara kritis dengan menggunakan alat-alat linguistik.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s