Indonesia Tanah Air


Ada beberapa lagu patriotik yang selalu bisa membuat bulu kuduk saya berdiri.

Indonesia Raya, pasti. Bagiku, kegegapgempitaannya adalah semangat yang membangunkan kesadaran akan tanah air dan tumpah darah, imbauan untuk berdiri tegak menjadi pandu bagi Ibu Pertiwi. Darah saya selalu berdesir setiap kali mendengarkannya. Apalagi kalau ia mengiringi naiknya Sang Saka di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia.

Di dadaku, Indonesia Raya adalah penggerak semangat dan pembangkit mimpi tentang tanah air yang bersatu; tentang tanah tumpah darah yang dimanusiakan oleh jiwa-jiwa dan badan-badan yang bangun — bangkit! — untuk memuliakannya, dan memuliakan diri mereka sendiri: tentang manusia-manusia merdeka yang berazam membangun sebuah cita-cita yang akan mengangkat mereka berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Indonesia Raya adalah semangat kemegahan yang menghentak-hentak, membangunkan jiwa-jiwa dan badan-badan yang tertidur (atau ditidurkan oleh mantra-mantra sirep kelalaian dan kebodohan), agar mereka menyadari nilai dan jatidiri mereka sebagai bangsa, agar mereka bangkit memikul tanggung jawab untuk mengangkat harkat dan martabat diri dan bangsanya.

Tapi, setelah Indonesia Raya, tak ada lagi lagu yang mampu membuat bulu kuduk saya berdiri dan mata saya berlinangan penuh keharuan seperti lagu Tanah Air ciptaan Ibu Soed. Tidak seperti Indonesia Raya yang menghentak-hentak, lagu ini begitu lembut — seperti bisikan seorang ibu yang sedang menuturkan kisah-kisah tentang kemuliaan tanah air untuk menggugah nurani anaknya.

Saya ingat menyenandungkan lagu ini — lirih dan penuh perasaan — di atas pesawat udara, ketika kelap-kelip lampu kota Jakarta mulai terlihat dari jendela, saat saya pulang dari Jepang, dua puluh empat tahun yang lalu. Air mata saya menetes penuh haru. Tanah airku, ke manapun aku pergi, aku akan selalu kembali ke pangkuanmu.

Saya ingat menyenandungkan lagu ini berlunang-ulang, sepanjang malam, di kamar gelap ketika saya menyelesaikan tugas-tugas kuliah musim panas saya di negeri yang jauhnya satu matahari dari Ibu Pertiwi.

Saya ingat menyenandungkannya di atas puncak bukit ketika ketika bintang-gemintang menjadi saksi akan kemuliaan tanah air ini.

Saya ingat menyenandungkannya — bersama angin, matahari, dedaunan dan bisik satwa — di tepi samudera raya, di antara debur ombak yang menggelora di ujung nusa.

Aku dan tanah airku — kami tak kan pernah terpisahkan, selama-lamanya!

Satu pemikiran pada “Indonesia Tanah Air

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s