Cara Berpikir Agama, ‘Cara Berpikir’ Tuhan


Cara berpikir agama adalah cara berpikir hitam putih: kalau tidak benar, salah. Padahal, Tuhan Yang saya yakini telah menurunkan wahyu yang menjadi dasar agama ini, Tuhan Yang telah menciptakan kehidupan dan jagat raya yang sedemikian rumit ini, pastilah tidak sesederhana itu ilmu dan “cara berpikirnya”.

Jika kita meyakini bahwa ilmu Tuhan meliputi segala sesuatu,

“Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit” (QS Ali Imran [3]:5)

“Tidak sehelai daun pun yang gugur kecuali Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, tidak juga sesuatu yang basah atau kering kecuali tertulis dalam Kitab yang nyata (dalam jangkauan pengetahuannya)” (QS Al-An’am [6]: 59)

tidakkah pantas pula kita meyakini bahwa Allah itu tidak hitam putih?

Segala ilmu adalah milik-Nya dan ada dalam kekuasaan-Nya. Setiap nuansa — yang halus, yang tampak, yang tak tampak — pasti ada dalam perhitungan-Nya. Dia Maha Melihat dan Mahaadil.

Maka:

Saya sungguh tidak mengerti jika ada manusia-manusia  pongah yang mengklaim — seringkali atas nama Tuhan — bahwa dialah yang lebih tahu tentang kebenaran, dan bahwa orang-orang yang pemahamannya berbeda dengan apa yang dipahaminya itu adalah salah dan sesat.

Saya sungguh tidak mengerti jika ada manusia-manusia congkak yang menghukum sesamanya — seringkali atas nama Tuhan, seringkali pula dengan kebengisan dan kebiadaban yang jelas-jelas dibenci Tuhan — karena mereka tidak memiliki pemahaman atas kebenaran sebagaimana kebenaran yang dipahaminya.

Apakah mereka mengira Tuhan itu hanya sebesar tengkorak kepalanya?

Apakah mereka lupa bahwa ilmu — hikmah, taufik, dan hidayah — itu milik Allah? Dan hanya Allah lah yang berhak memberikannya:

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja dan memaksamu untuk beriman). Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (QS An Nahl [16]:93)

Maka, tak seorang pun bisa mengetahui (mempunyai ilmu, hikmah, taufik dan hidayah tentang) apa kebenaran itu, kecuali jika Tuhan berkenan memberikannya.

Maka,

tidakkah lucu (paradoksal) bahwa orang yang merasa dirinya saleh (telah dianugerahi ilmu, hikmah, taufik, dan hidayah) menganggap bahwa kebenaran itu miliknya, lalu bertindak melangkahi Tuhan, seolah-olah dialah yang bisa memberikan petunjuk tentang kebenaran (bukan Tuhan, yang memiliki hak prerogatif itu), bahkan kalau perlu dengan pemaksaan dan jalan kekerasan?

Orang (yang benar-benar) saleh seharusnya tidak lupa, bahwa kebenaran dan petunjuk tentang kebenaran itu milik Allah, dan bahwa hanya Dialah yang berhak — secara prerogatif dan absolut — memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Kita hanya diberikan sedikit wewenang untuk membukakan jalan — menjadi perantara, atas restu-Nya — dengan berdakwah: menyeru dan mengajak.

Tuhan tidak pernah memberikan wewenang kepada kita untuk memaksa, apalagi melakukan kekerasan atas nama-Nya.  Bahkan kepada Rasul-Nya pun Dia mengingatkan:

“Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan seizin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.” (QS Al-Ahzab [33]: 45 – 46)

Nabi tidak pernah diberi wewenang untuk memaksa — apalagi memaksa dengan dengan jalan kekerasan — agar orang menerima Kebenaran. Pesan itu bukan hanya untuk Muhammad SAW, nabi kita, tapi juga untuk seluruh rasul dan nabi yang diutus-Nya. Tidak ada satupun di antara mereka yang diberi wewenang untuk memaksa dan melakukan kekerasan dalam melakukan misinya. Bahkan dalam keadaan yang sangat ekstrem sekalipun — Musa ketika berhadapan dengan Firaun yang menganggap dirinya tuhan; Luth ketika menghadapi kaumnya yang melakukan kekejian secara terang-terangan — nabi-nabi itu tetap melakukan dakwahnya dengan cara yang halus: mengajak, menyeru, berdialog. Hanya sampai di situlah wewenang yang diberikan Tuhan kepada mereka.

Nabi tidak pernah diperintahkan untuk berperang — dan memerangi siapapun — kecuali dalam konteks membela diri dan melindungi kaum muslimin. Karena itu, tidak pernah beliau berperang hanya untuk memaksakan kehendak. Bahkan ketika Makkah telah takluk pun — dan berada sepenuhnya dalam kekuasaan kaum muslimin — Nabi tidak memerangi atau memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang tidak muslim.

Maka,

jika kita memang mencintai beliau, dan mengaku sebagai umatnya, tidakkah pantas kita beritibak kebadanya?

Beliau paham betul, Kebenaran — ilmu, hikmah, taufik dan hidayah — itu milik dan prerogatif Tuhan. Maka, tidakkah pemahaman kita juga seharusnya seperti itu?

Wallahu’alam. Mari kita kembalikan segala sesuatu kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui.

2 pemikiran pada “Cara Berpikir Agama, ‘Cara Berpikir’ Tuhan

  1. Gerakan ekstrimis dalam beragama mungkin tidak akan terjadi jika kita mau menengok sejenak ajaran lama Mangkunegara IV dalam serat Wedhatamanya yang mengatakan bahwa Agama ageming aji. Agama adalah busana yang berharga. Agaknya, jika melihat kondisi kehidupan beragama yang terjadi di negri ini, konsep agama ageming aji hanya dimaknai secara mentah saja. Agama digunakan sebagai kedok, sebagai pakaian yang menjadi pembenaran atas tindak anarkisme dan kekerasan atas nama agama. Hal ini bukankah justru mengotori bahkan merusak pakaian itu sendiri. Apa yang dilakukan kaum ekstrimis yang paling merasa benar tersebut tidak pernah diperintahkan oleh Tuhan. Tuhan tidak pernah memerintahkan seseorang untuk memaksa orang lain yang tidak sepaham dengannya. Paling tidak sejarah telah membuktikan. Menurut ajaran agama yang saya yakini, tidak ada satu nabi atau rasul pun yang menggunakan jalan kekerasan dalam mendakwahkan ajaran agama.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s