Bagaimana Saya Belajar Bahasa Inggris (Bagian Kedua)


Pada bagian pertama tulisan ini saya sudah bercerita bagaimana saya mulai tertarik dengan Bahasa Inggris dan bagaimana saya mulai belajar dari nol. Pada tulisan itu, saya mengungkapkan bagaimana saya berjuang mengatasi kendala grammar dan bagaimana cara saya meningkatkan penguasaan kosakata saya. Pada bagian ini, saya akan  menceritakan bagaimana saya mengasah kemampuan pelafalan, menyimak, membaca, dan berbicara saya.

Belajar Pelafalan, Menyimak, Membaca, dan Berbicara

Orang bilang, pelafalan Bahasa Inggris saya sangat bagus. Beberapa bahkan bilang kalau Bahasa Inggris saya terdengar native like, seperti penutur asli, atau near native — mendekati penutur asli. Karena itu, banyak yang suka bertanya di mana saya belajar sehingga bisa seperti itu. Seorang teman guru di LBIB LIA dulu, misalnya, bahkan pernah menyangka bahwa saya anak diplomat yang pernah tinggal dan belajar di negara yang berbahasa Inggris.🙂 Ketika saya menyangkal (karena waktu itu saya memang belum pernah tinggal di negara berbahasa Inggris), beliau — yang usianya jauh di atas saya — nyaris tak percaya. “Lalu dari mana Eki belajar sehingga bisa terdengar native like seperti itu?” Kejarnya.

Mungkin karena hal itu juga saya dipercaya untuk mengajar mata kuliah Pronunciation Practice I dan Pronunciation Practice II ketika saya baru menjadi dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI. Tampaknya, mata kuliah itu juga yang membuat saya paling banyak dikenang oleh mantan mahasiswa-mahasiswa saya. Sampai sekarang saya masih sering menerima komentar atau pesan (di Facebook, lewat surel atau ketika bertemu langsung) tentang betapa berkesannya mata kuliah itu bagi mereka. Memang sebagian kesan itu bisa jadi bukan cuma karena kualitas pronunctiation saya, tapi juga karena cara saya mengajar. Waktu itu saya memang tak segan-segan menggunakan penggaris besi atau spidol untuk mengingatkan jika mereka kurang tepat malafalkan atau salah meletakkan tekanan kata. Mungkin justru karena itulah mereka jadi selalu ingat.

Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah pesan chatting di Facebook dari seorang mahasiswi yang saya ajar sebelas atau dua belas tahun yang lalu. Dia menghubungi saya cuma untuk menyatakan terima kasih karena, katanya, hari itu dia menerima pujian dari siswa-siswanya bahwa pronunciation dialah yang terbaik di antara instruktur-instruktur lain yang pernah mengajar di lembaga tempat dia bekerja sekarang. Dia juga bilang, sejak mengikuti perkuliahan yang saya berikan dulu, dia tidak lagi suka meremehkan atau mengarang sendiri ucapan Bahasa Inggrisnya. Dia selalu mencek dalam kamus ucapan kata baru atau kata yang belum pernah didengarnya langsung dari penutur asli, seperti pesan saya dulu.

Hari itu juga saya menerima pesan chatting lain dari mantan mahasiswa lain yang ingin berkonsultasi tentang bahan dan cara mengajarkan pelafalan Bahasa Inggris karena kebetulan dia baru mendapatkan job untuk melatih pelafalan Bahasa Inggris bagi para penyiar radio. Barangkali dia menghubungi saya karena dia merasa apa yang saya ajarkan (dan cara saya mengajar) dulu sangat berkesan.

Saya bersyukur bahwa apa yang saya ajarkan masih membekas dan mampu mengubah sikap dan kemampuan mahasiswa saya. Saya juga terharu bahwa mereka masih mengingat saya dan kembali bertanya kepada saya ketika mereka dihadapkan pada tugas atau masalah yang berhubungan dengan mata kuliah yang pernah saya ajarkan kepada mereka.

Kembali kepada bagaimana saya belajar pelafalan, menyimak, membaca, dan berbicara Bahasa Inggris:

Seingat saya, ada dua cara yang saya lakukan untuk mengasah kemampuan pelafalan. Cara pertama, menyimak dan menirukan. Cara kedua, membaca dan melafalkan. Kalau melihat ini, bisa dikatakan bahwa cara saya belajar pronunciation sebenarnya terintegrasi penuh dengan ketrampilan-ketrampilan kebahasaan lain.

Menyimak dan menirukan mungkin jauh lebih mudah dilakukan sekarang. Sumber belajar seperti radio, televisi, CD dan internet sangat mudah didapat dan sangat bagus kualitasnya. Tapi di tahun delapan puluhan itu — dan terutama untuk orang-orang yang tinggal di kota kecil seperti saya — sumber-sumber audiovisual Bahasa Inggris sangatlah terbatas. Untuk mendengarkan Bahasa Inggris, saya hanya dapat mengandalkan televisi, radio, dan kaset.

Untuk mengasah pronunciation dan kemampuan menyimak, saya rajin menonton acara-acara  berbahasa Inggris (film, berita, pelajaran Bahasa Inggris) di satu-satunya stasiun televisi yang ada waktu itu: TVRI. Saya juga punya kebiasaan mendengarkan siaran berbahasa Inggris  dari stasiun-stasiun radio luar negeri seperti BBC, VOA, dan Radio Australia yang dipancarkan melalui gelombang pendek (SW – short wave). Siaran-siaran itu saya dengarkan di  pesawat radio kecil tiga band yang dihadiahkan oleh ibu  — setelah saya berjanji akan lebih rajin membantunya menjaga warung kelontong kami. Saya baru mulai belajar dari kaset kira-kira setelah kelas dua SMA ketika — dari uang beasiswa — saya bisa membeli buku-buku pelajaran dan kaset yang diterbitkan oleh Gramedia. Bahan-bahan itu, yang sampai sekarang masih saya simpan, diproduksi oleh BBC.

Siaran televisi yang sering saya tonton untuk mengasah kemampuan menyimak dan melafalkan saya adalah film (yang waktu itu tidak semuanya diberi subtitle, sebagian hanya diberi ringkasan ceritanya sebelum mulai ditayangkan), siaran berita dan fitur berbahasa Inggris (yang cuma tayang tiga puluh menit sehari), dan pelajaran Bahasa Inggris yang tayang seminggu sekali dan dibawakan oleh — kalau tidak salah — Nisrina H. Nur Ubay, Arief Rachman Hakim, dan Anton (saya lupa nama lengkapnya). Dari acara-acara itu saya mengasah kemampuan menyimak, belajar pronunciation, dan menambah perbendaharaan kosakata kata saya.

Saya juga suka mendengarkan siaran radio berbahasa Inggris, terutama siaran berita dan pelajaran Bahasa Inggris dari stasiun-stasiun luar negeri seperti yang saya sebutkan di atas. Kualitas suara siaran radio yang saya dengarkan waktu itu tentu tidak sebening sekarang — yang sudah ditransmisikan lewat setelit atau jaringan internet dan sebagian acara bahkan ada yang dipancarulangkan oleh stasiun-stasiun radio lokal. Gelombang pendek dan jarak ribuan kilometer yang harus ditempuhnya membuat  suara yang tertangkap sering naik turun, bahkan kadang-kadang lenyap jika kondisi ionosfer sedang tidak bagus. Noise yang menyertainya juga sering sangat mengganggu. Tapi mungkin justru karena itu kemampuan menyimak saya jadi sangat terasah. Saya betul-betul dipaksa untuk menyimak dengan sungguh-sungguh dan tidak bisa dengan sepintas lalu.

Setiap kali saya mendengar kata baru atau kata yang menarik bunyinya, saya akan mencoba menirukannya — dengan seluruh kalimat di mana kata itu digunakan. Kalau kata itu kebetulan belum ada dalam perbendaharaan kosakata saya, saya juga akan mencatatnya dan membuka kamus untuk mencari tahu lebih banyak tentang kata itu.

Selain menyimak dan menirukan, saya juga belajar pelafalan dari membaca. Di rumah kami dulu ada banyak sekali buku-buku lama peninggalan kakak-kakak bapak. Banyak di antaranya yang berbahasa Inggris. Dari tumpukan buku-buku itu saya menemukan beberapa koleksi cerita dan literatur berbahasa Inggris setingkat SMA. Kata bapak, buku-buku itu oleh-oleh dari salah seorang paman saya yang dulu — setamat SMA — kebetulan terpilih untuk ikut pertukaran pelajar AFS ke Amerika Serikat.

Saya rajin membaca buku-buku itu. Mula-mula memang banyak yang tidak saya pahami, tapi — seiring dengan meningkatnya penguasaan kosakata saya — lama-lama saya bisa menikmatinya. Dari buku-buku itu saya menambah perbendaharaan kosakata dan idiom saya, juga mengasah pronunciation saya dengan bantuan kamus. Saya suka membaca dengan lantang dan mencek pengucapan kata yang tidak saya ketahui di dalam kamus. Selain itu, bacaan-bacaan itu juga membuat saya bisa mulai merasakan tekstur Bahasa Inggris — sense atau rasa keinggrisan yang dimiliki oleh para penutur asli.

Ketika saya mulai mempunyai buku-buku pelajaran yang disertai kaset, sumber belajar saya bertambah. Dari sumber-sumber itu saya tidak hanya belajar kosakata dan pelafalan, tapi juga tata bahasa dan idiom serta, sekali lagi, sense atau rasa keinggrisan — bagaimana para penutur asli menggunakan bahasanya dengan segala tekstur kontekstual dan maknanya. Dari situ saya mulai merambah dan mencoba meresapi dan merasakan apa yang Inggris dan apa yang tidak Inggris, apa yang berterima dan tidak berterima, dan hal-hak kecil lain yang seringkali kurang bisa dirasakan oleh pembelajar bahasa asing. Mungkin dari situlah keunggulan penguasaan Bahasa Inggris saya dibangun. Dari pengalaman sebagai guru, saya tahu banyak orang yang terpeleset di sini. Mereka mahir tata bahasa dan menguasai cukup banyak kosakata, tapi Bahasa Inggris mereka kurang atau tidak terasa Inggris karena mereka tidak mempunyai sense itu.

Belajar berbicara barangkali adalah hal tersulit yang saya alami. Saya tidak memiliki banyak kesempatan dan mitra yang bisa diajak berlatih bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris. Bapak sebenarnya bisa berbahasa Inggris. Tapi tidak enak rasanya berbicara Bahasa Inggris dengan orangtua sendiri. Adik saya yang kedua juga pintar berbahasa Inggris, tapi — lagi-lagi — ada rasa canggung untuk berlatih dengan anggota keluarga sendiri. Di sekolah ada beberapa teman yang berminat dan pintar, tapi kami juga tidak bisa terlalu sering menggunakan Bahasa Inggris karena takut dianggap sok. Kesempatan untuk berlatih di kelas — dalam pelajaran Bahasa Inggris — juga terbatas karena sebagian besar waktu dimanfaatkan untuk mengejar bahan, membaca dan mengerjakan/membahas latihan, sehingga nyaris tidak ada kesempatan untuk berlatih percakapan. Untuk mengatasi itu semua, saya terpaksa sering berlatih sendiri — membayangkan situasi dan berbicara sendiri seperti orang gila.🙂

Begitulah cara saya belajar Bahasa Inggris. Sangat intensif dan integratif. Kalau merenungkan itu semua, saya suka agak sedih kalau melihat mahasiswa yang sudah di semester-semester akhir tapi penguasaan Bahasa Inggrisnya masih compang-camping. Tata bahasanya masih tak tertata, kosakatanya miskin dan/atau kurang cermat, dan sense Bahasa Inggrisnya belum terasah. Dari tanya jawab yang kadang-kadang saya lakukan di kelas, mereka rata-rata kurang reflektif, intensif, dan integratif dalam belajar.  Dalam belajar kosakata, misalnya, mereka sering menunggu bintang jatuh: hanya mendengarkan lagu, menonton DVD, atau melakukan kegiatan-kegiatan pasif-reseptif lain tanpa melakukan upaya yang sistematik, terarah, dan istiqomah untuk meningkatkan jumlah dan kualitas kosakata mereka. Banyak di antara mereka  yang juga takut dan menghindari grammar, kemudian berharap — atau menyangka — bahwa grammar akan datang dengan sendirinya (lagi-lagi menunggu bintang jatuh) kalau mereka sering mendengarkan lagu, menonton DVD, browsing di internet, atau main game. Mungkin sampai tingkat tertentu itu bisa terjadi, tapi kecermatan, menurut pendapat saya, tidak bisa dibangun hanya dengan menunggu bintang jatuh. Harus ada upaya proaktif dari si pembelajar sendiri untuk secara sistematik dan bersengaja menaklukkan rimba tata bahasa dan kosakata.

6 pemikiran pada “Bagaimana Saya Belajar Bahasa Inggris (Bagian Kedua)

  1. yang paling sulit dari semuanya menurut saya adalah di “menemukan gairah belajar”nya
    kalau udah dapet “itu” proses belajar seberat apapun jadi terasa enteng dalam menjalaninya, walaupun orang lain melihatnya berat 🙂
    sulit sekali menemukan motivasi, apakah pak Eki punya cara/tips agar kita jadi bermotivasi belajar (belajar apapun)?

    1. Arya:
      Ada orang yang gairahnya muncul dari dalam dirinya sendiri; ada juga yang perlu dipancing/dipantik dari luar. Orang menjadi bergairah kalau dia tahu apa yang dimauinya. Orang menjadi bergairan karena harus bersaing atau menemukan figur panutan atau berada di dalam lingkungan yang membuatnya harus membuktikan diri atau bersaing. Kamu termasuk yang mana?

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s