Ulang Tahun


Ulang tahun itu istilah yang aneh dan menyalahi fakta. Mana ada tahun yang berulang? Tapi kita sudah telanjur menerima dan memakainya. Maka jadilah ia padanan kata birthday dalam Bahasa Inggris, dan kita merangkainya dalam kalimat “Selamat ulang tahun!” untuk memberikan selamat kepada orang yang pada hari itu merayakan hari kelahirannya.

Istilah ‘tanggep warso’ dalam Bahasa Jawa, ‘tepung tahun’ atau ‘milang kala’ dalam Bahasa Sunda, ‘hari jadi’ dalam Bahasa Melayu (juga Bahasa Indonesia), dan ‘birthday’ dalam Bahasa Inggris barangkali lebih masuk akal. Tanggep warsotepung tahun dan milang kala mengisyaratkan hitungan masa dan genapnya siklus hitungan itu — pada hari itu genap sudah hitungan usia seseorang menjadi X-tahun. Hari jadi mengisyaratkan pengingatan tentang saat ketika seseorang menjadi — lahir dalam wujud manusia, di alam manusia, dengan segala tanggung jawab yang (harus) diembannya sebagai manusia. Demikian juga dengan birthday yang secara eksplisit merujuk pada hari kelahiran — titik berangkat dari sebuah perjalanan yang disebut kehidupan.

Hal-hal yang berkaitan dengan kelahiran memang selalu dianggap penting. Kelahiran adalah simbol kehidupan dan keberlanjutan. Kelahiran menepis kematian dan kepunahan. Maka wajar kalau hari lahir diberi makna melalui segala ritual yang memuliakannya.

Dalam beberapa kebudayaan, seperti Jawa, ritual dan perayaan itu bahkan tidak perlu menunggu siklus tahun. Berbagai ritual selamatan  seperti babaran (ketika bayi lahir), sepasaran (ketika bayi berumur lima hari [satu pekan]), puputan (ketika tali pusar terlepas), dan selapanan (ketika bayi berumur 35 hari) dilakukan sebagai wujud dari rasa syukur, harapan, dan doa agar anak yang lahir itu selamat dalam perjalanannya menjadi ‘manusia’.

Ulang tahun sebagai ulang tahun bisa jadi cuma ritual kosong — tanpa makna — kalau tujuannya hanya untuk berpesta. Tapi ia bisa juga menjadi perayaan yang bermakna kalau ia menandai tonggak-tonggak ritus perjalanan manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Mencapai usia akil balig, misalnya, adalah ritus penting dalam perjalanan kehidupan seorang manusia. Pada saat itu ia dianggap sudah cukup umur, berakal, dapat membedakan yang baik dan buruk, dan — oleh karena itu — sudah dikenai kewajiban dan tanggung jawab religius, tanggung jawab hukum, dan tanggung jawab-tanggung jawab lain seperti yang dikenakan kepada anggota-anggota masyarakat yang sudah dianggap dewasa.

Ulang tahun barangkali juga penting sebagai pengingat bahwa pertambahan usia sebenarnya adalah berkurangnya ‘jatah’ waktu yang masih tersedia untuk menempuh hidup dalam pergerakan waktu yang linier. Lawan dari kelahiran adalah kematian. Setiap awal bermuara pada akhir. Maka tonggak-tonggak waktu yang telah dilalui semestinya menjadi titik refleksi untuk menghitung langkah yang telah ditempuh agar kita dapat menemukan makna dalam kesementaraan  kita.

Maka, tidak ada yang perlu dirayakan dalam ulang tahun sebagai ulang tahun. Kelahiran, hidup, tanggung jawab, dan makna: itulah yang justru selalu harus diingat — dan dirayakan, setiap hari. Karena dalam  setiap kelahiran ada (harapan) kehidupan; dalam kehidupan ada tanggung jawab; dalam tanggung jawab ada makna; dan — akhirnya — dalam makna, kehidupan akan terus bergulir dan mengalir untuk melahirkan ‘kelahiran-kelahiran’ baru. Itulah siklus tiada akhir  yang, dihitung ataupun tidak, akan selalu menggenapkan kehadiran kita, eksistensi kita.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s