Alasan Tidak Posting


Ini blog pribadi. Jadi, boleh-boleh dan pantas saja kan kalau saya menulis hal-hal yang pribadi? Curhat, misalnya.🙂

Sudah dua hari ini saya berhenti posting. Bukan malas atau sibuk. Dua hari itu saya menulis dan berencana posting. Dua tulisan panjang sudah saya siapkan. Tulisan pertama urung saya terbitkan karena di ujung proses menulis — setelah sekian ratus kata — saya tiba-tiba menyadari bahwa bahan tulisan itu bisa menjadi sebuah subjek penelitian yang penting. Sayang kalau idenya dibajak orang. Jadi, untuk sementara, saya keep. Tulisan kedua sudah rampung, dan menarik (menurut saya sendiri, paling tidak). Tapi saat saya menekan tombol ‘publish’, terjadi gangguan jaringan. S**t, s**t, s**t! Saya sampai pusing kepala sepanjang sisa malam itu.

Ide tulisan kedua itu datang tiba-tiba setelah shalat maghrib. Saya tulis cepat — sangat cepat — karena kata-katanya menggelontor deras dan jernih dari kepala saya. Tapi gara-gara gangguan itu, sekitar dua ratusan kata di bagian akhir lenyap dan tak dapat saya kail kembali. Saya tidak bisa menuliskannya lagi — tidak seperti saat kata-kata itu keluar dari mata airnya. Saya sudah mencobanya. Tapi rasanya tidak sama. Tidak jernih. Tidak semengalir seperti saat pertama menuliskannya. Sisa tulisan itu kini tinggal puing-puingnya saja. Bagian awalnya, sekitar tiga ratusan kata, saya diamkan saja, mangkrak di pelipat draft. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa memancing lagi sisa-sisanya yang masih ada di kepala saya, dan mengangkatnya ke permukaan sejernih saat mereka dengan suka rela keluar tanpa saya pinta.

Begitulah cara saya menulis untuk blog ini, cara saya posting.

Kecelakaan seperti yang terjadi dengan tulisan kedua itu sebenarnya dulu sering terjadi kalau koneksi internet kebetulan sedang ‘lemot’ atau WordPress sedang sibuk. Karena kejadian-kejadian itu, kemudian saya jadi punya kebiasaan menyalin dan menyimpan tulisan di Word sebelum memublikasikannya. Entah kenapa kemarin saya alpa melakukannya. Mungkin karena saya terlalu asyik dan terpikat dengan tulisan yang baru saja saya hasilkan. Mungkin juga karena waktu itu saya lebih yakin dengan internet service provider yang sekarang saya pakai.

Ada satu lagi alasan yang kadang-kadang membuat saya urung posting meskipun tulisan sudah jadi, yaitu kalau saya menganggap tulisan itu bisa dan pantas dipublikasikan di media lain —  koran, misalnya. Karena dulu saya pernah mengirim tulisan yang sudah saya posting di blog ke sebuah surat kabar nasional, dan ditolak karena alasan itu.

Begitulah.

2 pemikiran pada “Alasan Tidak Posting

  1. Kalau saya selalu menulis di Evernote pak, note taking app yang secara real-time akan mensinkronisasikan note saya sehingga selalu ada multiple backups. Setelah selesai menulis di Evernote, baru di-copy paste ke editor WordPress.

    Works like a charm😀

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s