Nocturnal, Si Manusia Malam


Ini sebuah pengakuan: saya manusia malam.

Mohon tidak disalahartikan. Saya bukan pekerja malam. Apalagi pekerja di dunia malam, yang seringkali dikonotasikan negatif. Saya bukan manusia malam seperti itu.

Manusia malam adalah istilah saya untuk nocturnal human being — orang yang cenderung terjaga hingga larut malam dan aktif pada malam hari. Istilah lainnya barangkali adalah kalong. Dalam Bahasa Inggris, sebutan untuk orang semacam ini adalah night owl — si burung hantu — atau evening person, yang saya terjemahkan sebagai manusia malam tadi.

Lawan dari manusia malam adalah manusia pagi — orang yang suka tidur awal, bangun pagi, dan aktif di pagi hari. Orang Inggris menyebutnya lark — sejenis burung gereja (?) yang punya sifat-sifat yang digambarkan itu. Saya tidak tahu sebutan lain yang dipakai dalam Bahasa Indonesia untuk menamai orang-orang seperti ini. (Ada yang bisa memberi tahu?)

Di “dunia yang digerakkan oleh matahari” (istilah saya) di mana pekerjaan dan aktivitas produktif normalnya dilakukan pada siang hari, manusia malam seringkali dipandang dengan sebelah mata. Dalam urusan pekerjaan, mereka sering kali dianggap pemalas, kurang disiplin, tidak tepat waktu, dan “bermasalah”.

Sebagai manusia malam, tentu saja saya tidak setuju dengan pandangan seperti itu. Pandangan seperti itu saya anggap bias. Saya tidak  malas. Saya bukan pemalas. Saya agak kurang disiplin dan tidak tepat waktu, barangkali. Tapi itu karena saya lebih suka bekerja di malam hari — ketika orang-orang lain tidur — dan banyak beristirahat di pagi dan siang hari — ketika orang-orang lain beraktivitas. Waktu saya tidak sama dengan waktu mereka. Mungkin itu yang menyebabkan saya terlihat malas dan kurang tepat waktu, di siang hari. “Bermasalah”? Mungkin juga. Tapi masalah itu, saya kira, tidak ada hubungannya dengan kekalongan saya. Dalam beberapa hal saya punya cara pandang yang berbeda dengan orang-orang lain. Saya kira itu hal yang wajar. Setiap orang punya keistimewaan, dan cara pandang saya adalah keistimewaan saya. Orang lain juga bisa seperti itu, dalam hal-hal lain. Setiap orang punya keunikannya sendiri-sendiri.

Iseng — curious(?) — saya bertanya kepada Mbah Google, berapa banyak sebenarnya orang yang seperti saya ini. Jawabannya tidak konklusif. Beberapa penelitian mengenai hal ini menghasilkan jawaban yang berbeda-beda. (Ini masalah biasa dalam penelitian; metodologi dan instrumen seringkali menjadi penentu hasil. Tidak ada penelitian yang seratus persen benar atau sepenuhnya ‘objektif’. Penelitian apapaun saya anggap hanya sebagai salah satu cara melihat salah satu dimensi kebenaran. Kita tidak perlu mendewa-dewakan penelitian sebagai sesuatu yang absolut, seperti Tuhan.)

Apa yang saya temukan?

Menurut sebuah penelitian, ternyata kecenderungnan ngalong (nightowl-ness) punya presentase yang lebih besar: 25%. Kira-kira hanya 15% responden penelitian itu yang dianggap (menganggap diri mereka) sebagai orang pagi. Sisanya ada di tengah-tengah — bukan orang pagi, tapi juga bukan orang malam.

Menurut penelitian itu, saya bukan orang minoritas ternyata, which — of course — makes me feel good, somewhat.🙂 Saya yakin, ada banyak kalong-kalong lain di luar sana. Dan mereka bukan orang-orang yang bisa begitu saja dipandang dengan sebelah mata. Banyak di antara mereka yang ternyata bahkan orang-orang yang hebat. Sejarah mencatat Winston Churchill, Robert Louis Stevenson,  James Joyce, Marcel Proust, Fran Lebowitz, dan Elvis Presley adalah orang-orang seperti itu. Hitler dan Lenin juga.

Jadi saya tidak perlu merasa rendah diri bahwa saya seorang night owl. Mungkin — kalau waktu masih mengizinkan dan saya bisa keluar dari pot saya — saya bisa jadi besar juga seperti mereka: punya karya besar, dikenal, dan berdampak luas. [Berharap ;)]

Hari sudah menjelang pagi. Kalong sebentar lagi harus segera kembali ke sarangnya, dan beristirahat. Tapi, sebelum itu, barangkali ada baiknya saya bercerita sedikit lagi tentang kemanusiamalaman ini:

Manusia malam adalah mahluk nokturnal. Lawannya adalah manusia pagi/siang, mahluk diurnal. Manusia malam — di beberapa negara — disebut juga sebagai Manusia B, lawan dari Manusia A, yang aktif di siang hari. Kronotipe (kesiangan atau kemalaman) seseorang, konon, adalah sifat endogenus (bawaan lahir). Namun ada juga kekalongan yang disebabkan  gangguan ritme sirkadian. Penyakit orang-orang seperti ini disebut sebagai DSPD — Delayed Sleep Phase Disorder (Gangguang Fase Tidur Yang Tertunda), atau apa yang sering disebut orang sebagai insomnia.

Terlalu ilmiah, barangkali. Tapi, saya cuma mau bercerita bahwa manusia malam itu ada. Dan itu sudah diteliti dan dipetakan, diberi istilah dan dijelaskan.

Jelas?

______________

Eki Akhwan, 23 Maret 2012

3 pemikiran pada “Nocturnal, Si Manusia Malam

  1. Kalau masalahnya adalah ada cahaya matahari atau tidak, lubangi tanah tempat bepijak maka sebenarnya di bagian bumi di bawah mereka sedang melakukan aktivitas seperti biasa.
    Berkat postingan bapak saya jadi tau DSPD dan kalong-kalong lain yang tenyata orang-orang besar dibidangnya, which makes me feel good too.

    OOT nih:
    Manusia malam seperti tukang ojek kalong, sopir angkot/taksi kalong adalah orang-orang yang membantu sesama kalong lainnya. Petugas keamanan kalong juga membantu menjaga keamanan waktu malam. Yang saya suka adalah penjaga kasir kalong (shift malam) di sebuah mini market 24/7 yang selalu tersenyum melayani sesama kalong lainnya yang mencari snack malam.

  2. Bagus topik tulisanya Pak, bersinggungan dengan dunia saya pada masa lampau yang sekarang mulai “setengah ngalong”. Mengangkat topik yang mungkin bagi banyak orang merupakan hal sederhana menjadi “kajian” khas ala Blogger.

    Pengalaman “ngalong” telah berdampak kurang bagus bagi saya. Kebiasaan Ini telah membuat perkuliahan “rusak berat”. Mungkin bukan hanya saya tapi dialami oleh beberapa teman saya yang satu pekerjaan. Sejak menjadi sukarelawan di UPInet pada awal 2006 hingga menjadi op warnet awal 201o.

    Setuju dengan pendapat Bapak “Saya tidak malas. Saya bukan pemalas. Saya agak kurang disiplin dan tidak tepat waktu, barangkali.”, saya pekerja keras tapi sayangnya semua pekerjaan tidak teratur dan penempatan skala prioritas terhadap banyak hal tidak berarutan.

    Sejak akhir 2011 dan awal 2012 agenda saya salah satunya mengatur kebiasaan ini. Sudah menunjukkan kemajuan walau belum sempurna, masih sesekali terjaga dan mengetik ini itu di komputer pertamax saya saat terjaga.

    Semoga saya istiqomah dalam perubahan menuju saya yang lebih baik [gaya politikus hihi].
    __
    (Curhatan Xnocturnal, Si Mantan Manusia Malam)😀

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s