Menulis Itu Susah!


Ada orang-orang yang bilang, menulis — dan menjadi penulis — itu gampang.

Tapi saya mau bilang: Menulis itu susah!

Tidak, saya tidak sedang menakut-nakuti saudara-saudara dan mencegah saudara untuk menulis dan menjadi penulis.

Saya kira itu sebuah kenyataan. Orang-orang itu, yang bilang bahwa menulis itu gampang, pasti orang yang sedang menjual sesuatu, atau mencoba menjual sesuatu:

Guru bilang menulis itu gampang, supaya murid-muridnya tetap bersemangat belajar dan terus hadir di dalam kelasnya.

Penulis buku ‘how to’ yang bilang menulis itu gampang, pasti sedang berpromosi agar buku yang ditulisnya laku.

Situs web yang berkoar bahwa semua orang bisa menulis, pasti sedang mencoba memikat pengunjungnya agar ia bisa menawarkan sesuatu yang bisa mendatangkan keuntungan bagi pemiliknya.

Kenyataannya: Menulis itu susah!

Bagaimana tidak?

Kalau menulis itu gampang — dan semua orang bisa melakukannya — mana mungkin penulis bisa menjadi profesi? Dokter menjadi profesi yang terhormat justru karena tidak sembarang orang bisa menjadi dokter, kan? Menjadi dokter itu sulit, perlu waktu bertahun-tahun, modal kepintaran, usaha yang sungguh-sungguh, dan biaya yang tidak sedikit. Jadi insinyur juga begitu, ahli hukum juga, guru juga.

Lalu kenapa penulis tiba-tiba bisa menjadi profesi yang bisa diobral, dengan mengatakan menulis itu mudah? Jatuhlah marwahnya kalau itu terjadi.

Memang, semua orang yang sudah belajar keberaksaraan dasar bisa menulis — mencoret-coretkan kata-kata di atas kertas. Anak TK yang pintar juga bisa. Tapi itu tidak membuat dia menjadi penulis, kan? Sama seperti anak yang main dokter-dokteran tidak bisa menjadi dokter sungguhan, kan?

Orang-orang yang bersekolah lebih tinggi tentu bisa lebih dari sekedar mencoret-coretkan kata-kata di atas kertas. Menulis memang bagian dari kegiatan bersekolah itu sendiri. Tapi menulis yang seperti apa?

Menyalin catatan yang ditulis guru di papan tulis? Itu juga menulis. Mengambil bahan dari sana sini dan meramunya lagi menjadi makalah, itu juga menulis. Membuat surat, mencatat transaksi dagang, dan mengisi buku harian — juga menulis. Menulis yang seperti ini bisa jadi mudah atau susah, tergantung. Surat lebih mudah ditulis kalau sudah ada modelnya — Anda tinggal mengganti bagian-bagiannya saja. Demikian juga dengan transaksi dagang. Mengisi buku harian itu mudah, karena Anda menulis untuk diri sendiri, tak perlu peduli dengan orang yang akan membacanya.

Tapi bukan itu kan yang dilakukan oleh penulis sebagai profesi?

Penulis sebagai penulis — bukang tukang tulis — menuntut kreativitas dan suara jiwa. Ia tidak semata-mata menulis berdasarkan model yang titik-titiknya bisa diisi dan diganti, kalau ia ingin diakui dan dihargai.

Penulis juga  perlu kata-kata — bahan dasar yang perlu dipilihnya dengan cermat dan diramunya sedemikian rupa sehingga bisa menjadi hidangan yang berselera. Ia perlu meletakkan kreativitas dan suara jiwanya ke dalam kata-kata itu, agar kata-kata itu hidup: bisa bernafas, berjalan, berlari, dan menari sendiri — dan memikat audiennya.

Ia perlu pernik-pernik tanda baca juga. Bukan untuk menghiasi tulisannya agar tampak cantik dan tengil (menggemaskan?), tapi agar tanda baca itu bisa menjadi rambu-rambu yang mengawasi gerak pikirannya — gagasan-gagasannya — dan menjadi notasi yang mengatur gerak kata-katanya agar mereka bisa menjadi musik, menari indah, dan berbicara kepada para pembacanya.

Ia perlu mantra-mantra sakti agar kalimat-kalimatnya mampu ‘menyihir’ — menghipnosis — jiwa-jiwa yang kering dan perlu pencerahan, perlu memahami kehidupan di balik kehidupan.

Menulis adalah pekerjaan empu; dan tak semua orang bisa menjadi empu, kan?

Maka jangan bilang menulis itu mudah. Karena ia memang tak mudah.
____________________
Eki Akhwan, 25 Maret 2012

8 pemikiran pada “Menulis Itu Susah!

  1. Menulis itu memang susah Sir, that’s why kami selalu mengeluh atas tugas menulis yang selalu datang setiap kelas Anda pada zaman matrikulasi dulu. But somehow I miss those days. Anda membuat saya produktif, meskipun hanya karena kewajiban tugas, karena saya menulis setiap hari saat itu. Thank you very much.

  2. he he web yang mengatakan bahwa menulis adalah sulit juga untuk mendatangkan visitor kan pak? buktinya ini saya berkunjung.

      1. oke pak salam kenal semangat berkarya meski jualan ide kita tak meminta imbalan materi. semoga ini adalah catatan sejarah baik kita. amin

  3. Saya jadi teringat dengan pendapat “semua orang bisa mengajar”. Tapi setelah baca tulisan Pak Eki, saya jadi berpikir, “semua orang bisa mengajar, tapi tidak bisa dikatakan sebagai pengajar”.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s