Terima Kasih


Saya sungguh tidak menyangka bahwa tulisan saya kemarin mendapatkan respon yang luar biasa. Hampir 3.500 orang mengunjungi blog ini dalam kurun waktu 24 jam sejak saya memublikasikannya. 88 persen di antaranya khusus untuk membaca tulisan yang bertajuk “Setuju dengan Pengurangan Subsidi BBM?” itu.

Barangkali itulah yang disebut fenomena viral dalam dunia maya  (cyber space), di mana sebuah konten digetok-tularkan(replicated) melalui media sosial (social media) sehingga menyebar dan ‘dibaca’ oleh banyak orang.

Terus terang saya tidak tahu kenapa tulisan itu bisa mendapatkan perhatian seluas itu. Perkiraan saya adalah, karena topik tulisan itu berkaitan dengan isu yang sedang menghangat dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Barangkali juga karena dalam tulisan itu saya mengambil posisi yang berlawanan dengan sentimen yang sedang berlaku, dan posisi itu kebetulan dapat menjadi penyambung lidah bagi orang-orang yang sependapat.

Terima kasih saya ucapkan kepada orang-orang — siapapun itu — yang telah ikut menyebarkan tulisan itu. Saya juga berterima kasih kepada orang-orang yang telah memberikan respon — yang setuju dan mendukung, maupun yang menentang, mengkritik, memberi tambahan, maupun yang mengecam. Semua memiliki nilai yang sama dan saya hargai sama tinggi, karena saya berkeyakinan bahwa praktik berdiskursus dialektis seperti itu — yang menjelajahi gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran yang berbeda secara kritis dan cerdas — jauh lebih baik daripada luapan emosi, turun ke jalan dan bertidak anarkis tak jelas. Berpikir dialektis (tidak dogmatis) dan terbuka akan membuat kita menjadi orang-orang yang berwawasan lebih luas dan toleran sehingga kita tidak lagi menganggap diri sendiri paling benar atau punya keinginan untuk memaksakan kehendak kepada orang-orang lain, apalagi dengan jalan kekerasan.

Sebenarnya saya sudah menulis respon yang cukup panjang untuk menanggapi komentar-komentar yang masuk. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, saya urung menerbitkannya.

Maaf.

Untuk saat ini, saya hanya ingin mengatakan:

Ada saatnya untuk berbicara; ada saatnya untuk merenung. Ada saatnya untuk bertindak; ada saatnya untuk berpikir.

Mudah-mudahan kita semua diberi kearifan untuk bertidak baik untuk tujuan yang baik.

Salam.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s