Pengurangan Subsidi BBM: Kompromi, Kesementaraan, dan Spekulasi


So, it’s done now!

Palu telah diketuk, perkara telah diputus.

Para wakil kita di parlemen — di bawah tekanan dahsyat dari sejumlah elemen masyarakat — akhirnya memutuskan untuk mengamandemen UU No.22 Tahun 2011 tentang APBN 2011, dengan menambahkan satu sub-ayat, yaitu ayat 6 a yang berbunyi:

“Dalam hal harga minyak mentah rata-rata Indonesia dalam kurun waktu berjalan yaitu 6 bulan mengalami kenaikan atau penurunan lebih dari 15 persen, maka pemerintah diberikan kewenangan untuk melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan kebijakan pendukungnya.”

Ini jalan tengah: kompromi antara pihak yang menginginkan pengurangan subsidi atau menaikkan harga BBM dan pihak yang menginginkan dipertahankannya subsidi.

Seperti jalan tengah lain, tidak ada yang menang mutlak dalam sebuah kompromi. Tidak ada juga yang kalah mutlak. Semuanya setengah menang, dan setengah kalah. Dua-duanya menang, dua-duanya kalah.

Untuk sementara, semua pihak merasa sebagian aspirasinya terakomodasi. Titik didih yang dapat meledakkan suasana dapat dihindarkan. Kita tenang, sementara; kita senang, sementara. Kata kuncinya adalah: sementara.

Dalam kesementaraan selalu ada penantian. What’s next? — Apa yang akan terjadi kemudian? Dan itu bisa baik, bisa buruk.

Baiknya barangkali adalah, kita diberi waktu untuk bersiap-siap. Kalau suatu saat nanti harga BBM jadi naik — karena syarat-syarat yang ditentukan oleh sub-ayat tadi terpenuhi — masyarakat sudah siap. Mudah-mudahan tidak akan ada lagi demo, apalagi ancaman dan keberingasan. Syarat-syarat itu adalah kesepakatan yang sudah diteken, signed and sealed!

Tapi sesiap apapun kita nanti dalam menghadapi kenyataan itu, penantian akan sebuah beban adalah mendebarkan dan mengandung ketidakpastian. Ketidakpastian itu akan mendorong orang untuk berspekulasi demi melindungi kepentingannya sendiri. Harga-harga komoditas yang telah merangkak naik  (yang menurut artikel ini sampai 1o persen) akibat ketidakpastian kemarin sore, akan terus terdorong naik dengan spekulasi lanjutannya. Maka, ketika akhirnya harga BBM naik, beban yang ditanggung oleh rakyat menjadi dua kali lipat: kenaikan harga yang terjadi akibat riak-riak spekulasi plus kenaikan harga gong, yaitu kenaikan harga yang diakibatkan oleh kenaikan nyata harga BBM.

Maka, saya memutuskan untuk tidak berbahagia dengan keputusan itu.

Kita cenderung menunda-nunda penderitaan kecil hanya untuk penderitaan yang lebih besar. Dalam kasus ini, penderitaan yang lebih besar itu bukan hanya karena pada akhirnya harga-harga komoditas secara kumulatif akan menjadi lebih tinggi, tapi juga karena — cepat atau lambat — kita akan dihadapkan dengan kenyataan yang tak mungkin dihindari: sebagai barang langka dan energi tak terbarukan, harga BBM pasti naik. Karena tidak membiasakan diri dengan kesadaran itu, terlena oleh perlindungan sementara yang diberikan oleh subsidi, kita menjadi tak siap: kita tak siap dengan harga yang melambung, kita tak siap dengan alternatif-alternatif lain yang bisa meredam kejutan yang terjadi.

Dalam kompromi ini, kita telah menciptakan kesementaraan; kita telah melahirkan sebuah penantian. Kita senang sementara, tenang sementara, lalu kita berharap seterusnya semuanya akan baik-baik saja. Kita lupa, bahwa dalam sebuah penantian, baik-baik saja itu tak pasti datangnya.

So, what’s going to happen next?

Satu pemikiran pada “Pengurangan Subsidi BBM: Kompromi, Kesementaraan, dan Spekulasi

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s