Tolak Subsidi BBM!


“Tolak subsidi BBM!”

Saya belum mendengar ada orang yang berteriak seperti itu. Kalau ada, barangkali orang itu akan berhadapan dengan massa yang sedang beringas memperjuangkan dipertahankannya subsidi, dan dijadikan bulan-bulanan.

Siapa sih yang tak suka subsidi?

Saya juga suka. Subsidi akan menjadikan beban ekonomi saya jauh lebih ringan. Bukan cuma subsidi BBM, saya juga mau subsidi biaya kesehatan, subsidi biaya pendidikan, subsidi perumahan, subsidi bahan pangan, subsidi listrik, bahkan – kalau perlu – subsidi kematian, supaya kalau saya mati nanti, keluarga saya tidak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk mengurus dan menguburkan jenazah saya.

Alhamdulillah, selama menjadi warga negara Indonesia (dari lahir hingga saat ini), saya sudah menerima semua jenis subsidi itu — kecuali subsidi kematian, karena saya belum mati, dan mungkin karena jenis subsidi itu tidak akan ada.

Hidup di Indonesia memang enak. Cita-cita para pendiri negara ini, yang menginginkan tegaknya sebuah welfare state (negera kesejahteraan) di mana “Fakir miskin dan anak terlantar diperlihara oleh negara” (Pasal 34 UUD 1945), sudah saya rasakan.

Benar, kualitas layanan bersubsidi yang saya terima dari negara ini belum baik. Layanan kesehatan bersubsidi yang saya terima, misalnya, kadang-kadang masih memaksa saya untuk mengeluarkan biaya tambahan sendiri, karena kualitas layanan itu betul-betul basic dan mengkhawatirkan. Saya pernah diping-pong ke sana ke mari –hampir setengah hari — atas nama prosedur. Padahal saya sudah terhimpit rasa sakit yang luar biasa dan ingin segera ditangani. Maka, daripada sakit saya bertambah parah, saya akhirnya terpaksa memilih layanan yang tak bersubsidi yang lebih cepat dan lebih manusiawi — meskipun untuk itu saya terpaksa merogoh lebih dalam kantong saya yang sudah cekak.

Rumah sederhana KPR-BTN yang saya beli – yang bunga kreditnya konon sebagian disubsidi oleh negara – juga sangat basic. Saya tidak bisa langsung menempatinya setelah akad kredit karena rumah itu memang belum layak huni: tidak ada dapur, tidak ada sumber dan instalasi air yang layak, tidak ada pagar. Maka saya juga terpaksa mengeluarkan biaya sendiri yang cukup besar – dan saya pinjam dari sana sini — agar rumah itu bisa saya tempati.

Selain kedua subsidi itu, harus saya akui saya masih menerima beberapa subsidi lain, seperti listrik dan BBM.

Sejak beli rumah KPR-BTN yang saya ceritakan di atas, saya belum mengganti daya listrik yang terpasang: 900 KVA. Ini sambungan daya listrik paling kecil yang tersedia saat ini. Sambungan listrik untuk rumah tangga sangat sederhana yang, sampai jumlah pemakaian tertentu, harga per kilowatt-nya masih disubsidi oleh negara. Saya belum meningkatkan daya terpasang itu karena pemakaian listrik saya memang kecil, dan jarang sekali melampaui batas pemakaian yang layak disubsidi.

Sebagian BBM yang saya pakai juga bersubsidi. Saya membeli Pertamax  untuk sepeda motor saya, dan membeli  Premium untuk mobil tua saya yang keluaran awal tahun 1990-an. Saya lebih sering memakai motor dan hanya memakai mobil di saat hujan, ada keperluan untuk membawa anggota keluarga dan/atau barang yang tak bisa dibawa dengan motor, atau di saat kondisi badan saya kurang fit. Saya tidak bisa lebih sering memakai mobil karena perbandingan biayanya nyaris satu banding tiga (1:3)  — meskipun saya mengisi Pertamax untuk motor saya dan Premium untuk mobil saya. Kondisi keuangan saya bisa kacau balau kalau saya memaksakan bermobil setiap hari.

Saya membeli kendaraan-kendaraan itu bukan karena saya kelebihan uang juga, tapi karena perlu. (Saya mendapatkan keduanya dengan cara kredit.)  Rumah saya jauh di luar kota, kira-kira 14 kilometer dari tempat kerja saya. Kalau saya mengandalkan angkutan umum, saya paling tidak harus mengeluarkan uang sebesar Rp 28.000 pulang pergi per hari, untuk saya sendiri! Gaji saya tentu tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan lain-lain kalau saya mengandalkan angkutan umum untuk kebutuhan transportasi saya. Belum lagi dari segi waktu. Kalau saya menggunakan angkutan umum, saya perlu waktu rata-rata satu sampai satu setengah jam untuk sampai di tempat kerja. Dengan motor, saya cuma perlu waktu sekitar 40 menit, dan ongkosnya kira-kira Cuma Rp 5000 PP.

Saya yakin, keadaan saya adalah keadaan rata-rata orang Indonesia. Tentu ada yang lebih kaya dan jauh lebih kaya dari saya; ada yang lebih miskin dan jauh lebih miskin dari saya. Bagi saya, subsidi negara – apapun bentuknya – akan sangat meringankan beban ekonomi saya. Apalagi bagi orang yang lebih miskin dan jauh lebih miskin dari saya.

Lalu kenapa saya mau bersekutu dengan pihak yang menginginkan pengurangan subsidi BBM? Apakah saya sudah gila?

Tentu tidak! Saya lakukan itu semua dengan penuh perhitungan.

BBM adalah sumber energi yang terbatas dan tak terbarukan. Cepat atau lambat, harganya pasti akan melambung seiring dengan berkurangnya cadangan dan membesarnya permintaan. Kalau saya terus menikmati subsidi hari ini, saya mungkin akan menjadi terlena dan akan kaget setengah mati kalau suatu saat harganya betul-betul meledak. Kalau saya tidak berumur panjang, mungkin anak atau cucu saya yang akan mengalami itu. Oleh karena itu, saya ingin ‘mengaklimatisasi’ – membiasakan diri – untuk berkesadaran bahwa BBM adalah barang langka yang  nilai ekonomisnya sangat tinggi. Dengan cara itu, mungkin saya akan berupaya untuk berhemat dan memakainya untuk keperluan-keperluan yang sangat penting dan produktif saja. Saya juga ingin anak cucu saya punya kesadaran itu. Tidak seperti sekarang ini, di mana kita seringkali menggunakan kendaraan pribadi berbensin untuk hal-hal yang sebenarnya bisa kita lakukan dengan cara lain: jalan kaki atau naik kendaraan umum.

Dengan kesadaran itu, saya juga ingin – berharap – generasi muda sekarang menjadi lebih produktif dan inovatif. Kesulitan ekonomi mudah-mudahan bisa memacu mereka untuk menemukan cara untuk berjuang memperbaiki ekonomi – dengan berwirausaha, misalnya – dan/atau menemukan teknologi dan energi-energi alternatif agar mereka bisa melepaskan diri dari ketergantungan pada BBM.

Saya yakin pada energi dahsyat manusia yang oleh beberapa orang disebut sebagai “energi kepepet”. Orang bisa melompati pagar tinggi kalau dia sedang dikejar anjing gila. Negara-negara yang miskin sumber daya alam seperti Jepang dan Singapura, misalnya, mungkin bisa maju dan dipacu untuk maju karena keterpepetan itu. Dibentuk oleh keterbatasan alam, mereka menjadi selalu waspada dan tidak berleha-leha, karena berleha-leha berarti mati.

Saya yakin, dalam setiap kesusahan pasti ada kemudahan (Allah sendiri yang menyatakan itu); dalam setiap gelapnya mendudung pasti ada seberkas cahaya yang menyembul di antaranya (behind every dark cloud, there is always a silver lining). Hanya orang-orang yang suka mengeluh , pesimis, dan berjiwa kerdil saja yang selalu melihat masalah dari sisi gelapnya.

Selain alasan yang mungkin terdengar idelistis itu, saya juga punya pertimbangan lain. Saya tidak ingin dan menganggap tidak adil bahwa subsidi BBM itu dinikmati oleh orang-orang seperti saya atau orang-orang yang jauh lebih makmur dari saya, sementara di luar sana masih banyak kaum papa yang lebih membutuhkan bantuan. Saya ingin bantuan itu dialihkan kepada mereka – dalam bentuk apapun yang memberdayakan dan memperbaiki kesejahteraan mereka. Toh tanpa subsidi BBM saya telah menikmati subsidi-subsidi lain? Tidak pantaskah saya berbagi? Tidakkah saya rakus dan kejam kalau saya ingin menikmati semua subsidi dengan mengurangi kemungkinan orang-orang yang lebih membutuhkan untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan?

Saya ingin ada rumah sakit dan pelayanan kesehatan yang lebih baik, sehingga tidak akan ada lagi orang-orang sakit parah yang dipingpong atas nama prosedur – dan mati – hanya gara-gara mereka tak mampu membayar biaya perawatan kesehatan sendiri. Saya tidak ingin ada lagi orang-orang yang harus mengada-adakan membeli kendaraan pribadi hanya karena mereka tak dapat menggantungkan kebutuhan transportasinya pada angkutan umum yang mahal dan tak dapat diandalkan. Saya tidak ingin ada lagi orang-orang yang terpaksa membeli rumah yang tak layak huni karena uang yang dimilikinya tak cukup untuk membeli rumah yang layak bagi kemanusiaan. Saya tak ingin ada anak-anak bangsa ini yang  terpaksa berhenti sekolah gara-gara orangtuanya tak mampu, padahal dia cerdas dan bersemangat belajar dan mungkin suatu saat dapat menjadi aset yang berharga bagi bangsa ini. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya tahu, pemerintah kita pemerintah yang bobrok. Sepositif apapun sikap saya, harus saya akui, saya tidak jarang mengutuki kebodohan, ketamakan, dan keculasan oknum-oknum negara yang menyengsarakan hidup orang banyak – termasuk saya. Tapi saya juga sadar, pemerintah kita adalah kita juga. Pemerintah itu berasal dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Kita yang memilih orang-orangnya, kita pula yang bersepakat membangun sistemnya. Menunjuk kebusukan mereka adalah menunjuk kebusukan kita sendiri. Maka, jika kita ingin memperbaikinya, kita sendirilah yang harus memulainya. Kita harus mulai bisa kritis dan memilih dan bertindak berdasarkan pengetahuan yang baik — bukan karena ikut-ikutan, bukan karena sentimen golongan, bukan karena iming-iming dan tipuan, bukan karena mitos dan kultus individu. Kita harus memampukan diri untuk memilih dan berbuat berdasarkan gagasan dan bukan semua ilusi itu.

Saya tahu, perjalanan masih panjang, kesulitan masih banyak di depan sana. Tapi haruskan kita menyelesaikan kesulitan hari ini dengan menciptakan kesulitan lain di masa depan? Haruskah kita menyelesaikan kesulitan hari ini dengan merusak apa yang telah kita miliki, apa yang telah kita sepakati untuk kita bangun bersama? Apakah sumpah serapah, hujatan, pengrusakan, dan  anarki mampu menyelesaikan masalah?

Mungkin ada orang-orang di atas sana yang buta dan tuli. Mereka tak bisa melihat keadaan kita dan mendengar suara kita kalau kita tak menyalakan api dan berteriak-teriak dengan hujatan dan sumpah serapah. Tapi saya yakin, kita bisa membuat mereka melihat dan mendengar kita dengan kediaman kita, dengan kerja keras kita, dengan gagasan-gagasan kita yang diam-diam kita bangun untuk memperkasakan diri dan merebut tahta yang menjadi hak kita dari orang-orang yang buta, tuli, dan culas itu.

Salam.

Eki Akhwan,

30 Maret 2012

3 pemikiran pada “Tolak Subsidi BBM!

  1. subsidi bbm ok,tapi kalau subsidi lebih dari 100% HPP 10 ribu dijual 4500 sudah tidak sehat…mematikan BBM alternatf,biodisel NYAMPLUNG,BIOPREMIUM dgn etanol baik etanol jerami padi,etanol tetes tebu semua tunduk ke DPR bakar ban bekas

  2. Saya setuju dengan pendapat Pak Eki, bahwa energi kepepet bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Mungkin belum semua orang tau bahwa ada pesan pemerintah agar mulai berhemat menggunakan bbm

  3. Sayangnya, banyak mereka yang masih egois memikirkan perut mereka sendiri saat ini saja,pak. Lupa kalau nanti masih ada anak dan cucu mereka yang harus menanggung hidup di negri ini, lupa kalau masih ada mereka yang masih jauh dari harapan kehidupan yang layak, coba mereka yang sedang meneriakkan atas perut mereka atau mereka yang berdasi membaca tulisan bapak ini, pasti kondisinya tak lagi sericuh ini🙂

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s