Politik dan Gladiator


Politik itu melelahkan. Hanya orang-orang perkasa saja yang mampu terjun ke politik dengan sepenuh hati. Orang-orang lemah — yang merasa tak mampu — berada di pinggir lapangan, dan menjadi juru sorak: menonton dan menyemangati gladiator jagoannya, mengejek dan mencemooh lawannya. Mereka senang jika jagonya menang, sedih jika kalah.

Tapi apa yang mereka dapat?

Nyaris tidak ada.

Ketika si jagoan menang, dia sendirilah yang mendapatkan hadiahnya. Si pesorak tak mendapatkan apapun. Mungkin sekedar rasa puas — yang terbawa dalam tidur pulas, hingga sayembara selanjutnya. Mungkin juga uang taruhan, jika mereka bertaruh.

Tapi kenyataan itu tak menghentikan orang untuk terus menonoton, bersorak, dan bertaruh demi sang gladiator pujaannya, kan?

Rasa puas adalah segala-galanya bagi banyak orang. Dan itu tidak ada hubungannya dengan gagasan, uang, atau logika. Orang bisa menonton bola yang dimainkan oleh orang-orang yang tak dikenalnya — dan tak ada hubungan apapun dengan diri atau kelompok primordialnya — dan tetap merasa puas jika tim yang didukungnya menang. Cuma itu yang mereka cari. Keindahan permainan, tidak jadi soal. Sebab, seindah apapun permainan mereka, kalau tim jagoan mereka kalah, penonton tetap kecewa.

Politik tentu tidak sama persis dengan pertandingan gladiator atau permainan bola. Sebab, dalam politik, yang dipertandingkan bukan kekuatan fisik. Bukan pula skor, angka-angka yang menjadi penanda kemenangan. Dalam politik, yang dipertandingkan adalah gagasan — pemikiran-pemikiran yang langsung atau tak langsung akan memengaruhi para penontonnya. Sayembara politik tidak berakhir ketika arena ditutup dan penonton pulang. Penonton juga tidak bisa tidur pulas — seolah tanpa beban — kalau gagasan-gagasan yang saling dilemparkan di panggung esok akan menghantuinya dalam kenyataan-kenyataan yang mempersulit kehidupannya.

Maka:

Selemah apapun si pesorak panggung politik, ia tak boleh abai dan membiarkan para gladiator menentukan hasil akhir pertandingan tanpa memperhitungkan nasibnya.

Maka:

Mau tak mau, ia harus membangun kekuatan. Bukan kekuatan fisik — karena ini bukan adu otot — tapi kecerdasan kritis. Ia harus mampu melihat setiap gerakan mereka yang berada di atas panggung, setiap muslihat yang mungkin akan menentukan hidup matinya di masa nanti.

Maka:

Saya merasa sedih ketika mahasiswa — yang seharusnya punya keperkasaan kritis — ikut terhanyut oleh genderang yang ditabuh oleh para pengusung kekuasaan. Mereka akhirnya hanya menari mengikuti irama muslihat partai politik yang mengatasnamakan rakyat, padahal sesungguhnya mereka sedang mencoba menuai simpati untuk kepentingan jangka pendek mereka sendiri: menang dalam Pemilu 2014.

Penolakan atas pengurangan subsidi BBM hanya musik pengiring yang mereka mainkan agar banyak orang ikut menari mengikuti sentimen muslihat mereka. Secara sepintas, kegaduhan yang mereka timbulkan terdengar merdu, membela kepentingan rakyat. Tapi jika kita menalanya dengan pikiran yang jernih dan kritis, sesungguhnya ia cuma sebuah muslihat:

Perhatikan, apakah mereka yang gagah berani dan bersuara lantang demi rakyat itu tidak pernah mengurangi subsidi dan menaikkan harga BBM ketika berkuasa dulu? Apakah mereka memberikan kompensasi yang layak atas kenaikan harga itu? Apakah mereka tidak pernah menjual harta pusaka Ibu Pertiwi — yang adalah milik anak-anak negeri? Apakah mereka — atas nama pragmatisme kekuasaan dan kepentingan golongan — tidak pernah berpaling dari kepentingan rakyat ketika mereka telah berkuasa? Adakah jaminan mereka tidak akan mengulanginyan jika mereka naik tahta?

Kita terjebak pada wacana pengurangan subsidi dan naiknya harga BBM, yang dianggap menambah kesengsaraan rakyat. Di permukaan, memang demikian. Tapi di bawah permukaan itu, kita dibuat tak melihat bahwa subsidi itu dialihkan ke keluarga-keluarga tak mampu yang memang paling berhak mendapatkan bantuan itu. Penggunaan istilah “kenaikan harga BBM” telah menyingkirkan apa yang sesungguhnya terjadi, yaitu  pengurangan subsidi bagi yang mampu dan  pengalihannya bagi golongan-golongan yang lebih membutuhkan bantuan. Maka salah istilah telah menjadikan wacana yang berkembang justru berpihak kepada orang-orang yang bermobil dan membiarkan kaum papa makin terpuruk tanpa bantuan.

Kita terjebak pada wacana kita punya, dan tak harus membeli semahal itu. Kita lupa apa di balik itu. Yang kita punya tak banyak lagi, dan terus berkurang. Dalam bingkai ini, murah tak selalu baik. Mahal juga tak selalu buruk. Murah membuat kita terlena dan boros. Pemakaian akan bertambah dan terus bertambah. Cadangan akan berkurang dan terus berkurang. Keterlenaann kita akan menjadi bom yang akan menumpas kita semua di masa depan — yang tak lama lagi. Murah membuat kita terlena dalam pemborosan. Murah membuat kita lupa menyiapkan diri untuk sebuah keniscayaan ketika semua kemurahan itu akan berakhir dan ketika kita dipaksa membayar mahal, tanpa ada pilihan lain.

Kalau sungguh mereka berpihak kepada rakyat kecil, maka tentu mereka  merelakan subsidi itu dicabut (dari yang mampu) dan diberikan kepada yang lebih berhak menerimanya. Kalau sungguh mereka memperjuangkan masa depan bangsa, sudah sepantasnya mereka mau berakit-rakit ke hulu, agar bisa berenang-renang kemudian — mau bersakit-sakit dahulu, agar bisa bersenang-senang kemudian. Sakit itu akan membuat kita selalu waspada dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Sakit itu akan membuat kita membangun keperkasaan, membuka jalan dan menemukan pilihan-pilihan agar kelak kita tak harus terpaksa (dipaksa?) untuk menerima kepahitan tanpa mampu memilih lagi.

Politik bukan arena pertandingan gladiator atau permainan bola — yang bisa membiarkan penontonnya pulang dan tidur nyenyak sampai pertandingan berikutnya. Politik adalah melihat tanda-tanda dan melakukan pilihan-pilihan strategis di masa kini, agar kemungkinan-kemungkinan di masa depan dapat dikendalikan dan berpihak kepada kepentingan publik secara keseluruhan, dan bukan kepentingan golongan tertentu saja.

Waspadalah!

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s