Asal-usul Si Bugel


Saya punya seekor kucing. Bugel namanya. Dia keturunan ketiga dari kucing pertama yang saya miliki. Saya beri nama Bugel karena ekornya yang pendek, ‘cacat’ sejak lahir. Dia lahir akhir Desember 2010 — tanggal persisnya lupa, tidak saya catat, karena kelahirannya tidak diharapkan, tidak disangka.

Induknya juga tidak saya ingat namanya. Dia salah satu kucing yang akhirnya terpaksa saya usir dari rumah karena telah merusak rumah saya dan rumah tetangga gara-gara melayani cowok-cowok berandalan yang sering berkeliaran di sekitar rumah. Bapaknya, saya kira, adalah kucing kedua saya, Uwee — kucing ganteng dan cerdas yang dulu suka menemani perjalanan saya bolak balik ke rumah kedua saya di Jakarta. Bugel banyak memiliki kemiripan dengan bapaknya: warna dan pola bulunya, matanya, kecerdasannya.

Uwee keluar rumah dan menjadi kucing liar atas pilihannya sendiri. Dia ingin bebas mengejar dan kawin dengan betina-betina liar yang juga banyak berkeliaran di sekitar rumah. Saya tidak tahu berapa banyak anak yang sudah dibapakinya. Saya kira cukup banyak, karena di jalan-jalan sekitar rumah, saya sekarang sering melihat kucing-kucing yang mempunyai kemiripan ciri fisik dengannya.

Sampai saat saya temukan mati di depan rumah saya suatu pagi beberpa bulan yang lalu, dia sering kembali ke rumah — hanya untuk minta makan, sebelum menghilang lagi dan menjalani kehidupan bohemian yang dinikmatinya. Saat dia mati umurnya sekitar 3,5 tahun. Dia lahir 28 Oktober 2008, kalau tidak salah ingat. Dia kucing pertama yang saya saksikan sendiri kelahirannya, anak kedua dari tiga bersaudara — dua jantan dan satu betina — dari induk yang bernama Maw-Maw. Di antara saudara-saudaranya, dialah satu-satunya yang ‘bermantel’ hitam putih. Kedua saudaranya yang lain berwarna hitam.

Maw-Maw — induk si Uwee dan nenek si Bugel — adalah kucing pertama yang saya miliki. Dia hadiah dari seorang teman. Maw-Maw keturunan seekor kucing jantan jenis Anggora dan betina jenis Siam milik teman saya itu. Mantel si Maw-Maw tidak cantik sebenarnya, tapi mata dan fitur wajahnya cantik, mirip bapaknya. Dia juga cerdas seperti layaknya kucing siam, induknya. Saya sempat mengusirnya dari rumah karena nafsu birahinya yang tinggi dan suka nekat kalau libidonya sedang naik. Namun untunglah, setelah beberapa bulan bersitegang dengan betina bernafsu besar ini, ada seorang teman yang main ke rumah, suka, dan bersedia mengadopsinya.

Setelah kepergian si Uwee dan Maw-Maw, saya ditawari untuk mengadopsi dua ekor anak kucing — jantan dan betina — keturunan anggora oleh salah seorang tetangga jauh. Si betina itulah induk si Bugel. Si jantan — yang saya beri nama Okat karena warna bulunya — akhirnya saya berikan kepada seorang teman setelah kelahiran si Bugel dan saudara-saudaranya. Saudara-saudara si Bugel — dua ekor, jantan dan betina — mati ketika mereka masih kecil. Mungkin karena mereka anak-anak dari ‘orangtua’ (induk?) yang sedarah. Dari ciri-ciri fisik mereka, saya curiga Okatlah bapaknya, yang kawin dengan saudaranya sendiri, si betina induk si Bugel tadi.

Bugel kucing yang sangat manis: cerdas dan ganteng seperti bapaknya, tapi lebih domisticatable(?) — lebih penurut dan bersahabat. Mungkin itu sifat-sifat yang diturunkan lewat induknya. Cara dia bersuara juga khas, aneh, dan lucu. Ada suara-suara yang saya kira diwarisi dari si Uwee, bapaknya, yang lantang dan bertekanan jelas; namun ada juga suara-suara seperti yang dimiliki oleh si Okat, pamannya, yang kadang-kadang seperti terdengar bergumam, menggerutu, dan mengomel. Induknya sendiri — saudara si Okat — kucing yang agak pendiam, jarang bersuara. Kalaupun bersuara, pelan-pelan saja — kecuali kalau sedang birahi, tentunya.

Usia si Bugel sekarang sudah satu tahun empat bulan (16 bulan). Saya kira sebentar lagi dia juga akan ‘beger’ (birahi) dan minta kawin. Mudah-mudahan dia tidak nekat dan beringas seperti nenek moyangnya. Saya harus segera mencarikannya pasangan — paling tidak supaya nafsunya tersalurkan dan dia punya keturunan yang akan mewarisi sifat-sifat baiknya. Saya masih mencarikannya pasangan. Tapi, terus terang, saya tidak ingin memelihara si betina dan anak-anaknya secara permanen. Terlalu mahal, dan rumah saya tidak cukup besar untuk memelihara lebih dari dua ekor kucing tanpa merepotkan dan membahayakan kesehatan penghuninya.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s